Friends

17126752_1855311094735226_3292334539690475520_n

 

Starring: Taehyung, Jimin, Jisoo

Theme: Romance

 

 

Yah, Bagaimana menurutmu?”

Taehyung tersenyum senang ketika Jimin akhirnya menutup buku dihadapannya dan mengalihkan perhatiannya pada sahabatnya tersebut. Ia tak peduli jika keduanya sedang berada di perpustakaan atau jika Jimin sedang fokus membaca sebuah buku, baginya perasaannya lebih penting, cinta pertamanya.

“Kemarin aku dengar ia Baca lebih lanjut

Iklan

In Your Eyes (Drabble)

Screenshot_2017-04-15-18-31-46_1492358480622

Drabble

Starring: Mino of Winner, OC

In Your Eyes

“Hei Mino lihat, ini foto-foto liburan kemarin,”

Aku menarik pelan lelaki jangkung di sampingku, yang memaksanya sedikit menunduk menatap ponsel di tanganku. Pandangannya mengikuti gerak tanganku yang dengan antusias mengubah dari satu slide ke slide yang lain. Tangannya gatal, saat berusaha menggapai ponsel di tanganku, tapi aku dengan sigap menepisnya.

Well, bagaimana lagi kami bisa sedekat ini?

Sesekali, tanpa ia sadari, aku menatap ke arahnya, memperhatikan ekpresinya. Ia tersenyum. Setidaknya aku berhasil membuat Song Minho tersenyum. Sebuah senyum kecil yang membuat hatiku seketika berbunga-bunga.

“Bagaimana menurutmu?” lanjutku, berusaha membuka obrolan.

“Ada apa dengan ekpresi Jinwoo?” gumamnya yang diikuti dengan tawa kecil.

Seketika pandanganku tertuju pada arah jari telunjuknya, mengamati foto yang menjadi perhatian Mino. Foto yang sukses membuatnnya tertawa kecil. Di foto tersebut tampak beberapa siswa di kelas kami berjajar di tepian pantai saat liburan musim panas kemarin, Mino sendiri tidak bisa ikut karena sedang ada sesuatu.

Pandanganku mencari-cari sosok Jinwoo, yang seketika kutemukan berdiri aneh di dekat Seungyoon. Entah apa yang Seungyoon lakukan pada Jinwoo karena dibanding menoleh ke arah kamera, Jinwoo lebih memilih menatap ke arah Seungyoon dengan ekspresi kesalnya, sedangkan Seungyoon tampak tertawa puas. Aku mengernyit menatap foto grup tersebut.

“Sepertinya Seungyoon mengerjainya, tapi lihatlah, Seunghoon seperti orang kesakitan, saat itu Taehyun tak sengaja menginjak kakinya,” lanjutku sebelum kembali menoleh memperhatikan ekspresinya.

“Tidak, kurasa ia sengaja melakukannya, lagipula ada Jisoo di sampingnya.”

Jisoo

Dia melihat Jisoo, tapi bahkan tak melihatku yang berdiri di tengah-tengah antara Jinwoo dan Seunghoon. Aku bahkan sengaja mengarahkan pandangannya ke arah Seunghoon agar ia memperhatikanku yang berada disampingnya, tapi tidak ada reaksi sama sekali. Asal tau saja, foto-foto yang kutunjukkan tersebut hanyalah foto yang terdapat diriku di dalamnya, tapi sekali pun tak ada komentar tentangku.

“Ba-bagaimana dengan penampilanku?” tanyaku ragu-ragu. Jika memang ia tak melihatnya, maka aku sendirilah yang akan menyodorkannya hingga pada akhirnya ia melihatku.

“Hm?”

Aku kembali mengubah slide, mencoba mencari fotoku yang paling menarik.

“Kau—“

Aku menunggunya, tapi jawaban itu tak pernah keluar dari mulutnya. Keributan di koridor membuatnya mendongak dan mencari sumber masalah. Aku menghela nafas kesal, orang bodoh mana yang berani berlari-larian saat jam pelajaran sedang berlangsung?

“Mino?!” ucapku sambil menyentuhnya pelan, berusaha mengambil kembali perhatiannya. Tapi ia terlalu fokus, mengamati sosok yang berlarian dengan wajah memerahnya, rambut yang berkibar di belakangnya dan seragamnya yang berantakan. Pandangan Mino terus mengikutinya hingga akhirnya sosok tersebut tiba di depan pintu ruang kelas kami.

“Ma-maaf Saem, ku pikir ini masih hari Minggu,” ucap gadis itu terbata-bata.

Aku terlalu fokus memperhatikan sang gadis hingga tak sadar ketika Mino tertawa kecil di sampingku.

“Bukankah Jisoo sangat lucu?”

Lucu? Gadis itu bahkan tak melakukan apapun dan Mino menganggapnya lucu? Sedangkan aku yang berusaha melakukan apapun untuk menarik perhatiannya, sama sekali tak dianggapnya, ironi bukan?

Tidak Mino, orang sehat mana yang berpikir penampilan berantakan seperti itu terlihat lucu?

Wajah yang seolah baru bangun tidur, rambut yang tampak kusut karena belum disisir, dan penampilan berantakan, kurasa hanya lelaki ini yang berpikir bahwa Jisoo lucu. Aku bertaruh ia tidak akan mengatakan hal yang sama jika akulah yang berada di posisi Jisoo sekarang.

Karena bukan masalah apa yang dilakukan orang tersebut, tapi siapa yang melakukannya kan? Sayangnya di matanya, hanya ada sosok Kim Jisoo. Itulah kenapa, apapun yang kulakukan, tak pernah berarti baginya…

~end~

Note: entah kenapa jadi suka Jisoo-Mino Couple ^^

Tiada Hari Tanpa Belajar <3

Beautyful Landscape 1

Layaknya kiasan lainnya yang hanya kuingat untuk pelajaran Bahasa Indonesia, ungkapan ‘Tiada Hari Tanpa Belajar’ tak begitu berarti bagiku. Sampai pada suatu sore saat aku mengalami kejadian yang tak disengaja.

Saat itu aku masih kecil, Ibu menyuruhku membeli sesuatu di warung tetangga –yang kebetulan pemiliknya adalah Bu De ku sendiri. Tidak seperti sekarang, rumah Bude saat itu masih kecil. Ruang tamunya bahkan digunakan juga untuk meletakkan barang dagangan karena warungnya tidak cukup besar.

Saat itulah, saat selesai berbelanja, aku melihat kakak sepupuku menggelar buku-bukunya di meja ruang tamu. Jendela yang terbuka lebar, dengan suara hafalan kitab yang terdengar lantang, membuatku seketika menoleh memperhatikan. Di situlah, dengan baju koko, peci, dan sarung kotak-kotaknya –pakaian khasnya— sepupuku tampak asik membolak-balik halaman buku.

Seperti biasa, hanya untuk basa-basi, aku menyapanya. Bukan obrolan berat, ah, obrolan seperti apa sih yang dilontarkan anak usia SD? Hanya sebatas sopan santun yang diajarkan orang tua agar tak lupa menyapa seseorang yang kita temui.

Yang membuatku terheran, aku bahkan sempat menertawakannya, untuk apa belajar di saat hari libur? –kebetulan saat itu hari libur— Logika anak SD ku waktu itu, untuk apa diberi hari libur kalau tetap saja digunakan untuk belajar?

“Libur kok masih belajar sih, Kang?” tanyaku dengan gaya bercandaan.

Yang tak aku duga adalah jawaban singkatnya, yang seolah sudah terprogram di otaknya agar mulutnya mengatakan hal itu. Seperti sebuah kebiasaan yang bahkan tanpa kita sadari kita lakukan begitu saja.

Lho… kan tiada hari tanpa belajar,” jawabnya begitu singkat, yang membuat tawaku lenyap seketika.

Logikanya, saat itu aku masih kecil, anak SD sepertinya, tapi seingatku, pemahamanku tentang jawaban tersebut sejak dulu hingga sekarang masih sama.

Malu

Dia yang seorang guru, seorang kepala sekolah, seorang kyai, seorang yang mendapat nilai seratus untuk ujian kelulusan SMA-nya, tak pernah berhenti untuk belajar, sedangkan aku yang bahkan belum jelas apakah bisa lulus SD atau tidak, merasa besar kepala hingga tak memanfaatkan waktu sebaik mungkin, bahkan dengan beraninya menertawakannya.

Ia hanya menjawab pertanyaan seorang gadis polos dengan tak meninggalkan tawa ringannya, tapi meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi anak kecil itu, bagiku, yang selalu teringat kenangan tersebut hingga saat ini. Meskipun ia telah tiada –semoga Allah menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya— kenangan tentang sepupuku tersebut tak akan pernah terlupa.

Belajar, belajar, belajar, jangan pernah lelah untuk belajar…

 

 

Chicken Shop Love Story (drabble)

Kadang, kau tak perlu tahu, Tuhan sudah menyiapkan kejutan untukmu…

Cast: Kim Taehyung ( V of BTS)

13473246_629423127213921_1930282675_n

Chicken Shop Love Story

Seorang lelaki tampak memandang kesal papan nama besar bergambarkan ayam jago dengan sebelah matanya yang berkedip dan jempolnya yang teracung ke udara. Ia mendengus kecil, merasa seolah nasib ayam itu lebih beruntung darinya. Karena bukan seperti ini bayangan seorang Kim Taehyung akan menghabiskan masa liburan musim panasnya.

Ia senang ketika ayah ibunya memutuskan untuk berlibur ke Jeju tanpa mengajaknya dan kakaknya memilih menghabiskan waktu liburnya di rumah teman kuliahnya. Baginya, seorang diri di rumah dengan tumpukan game di depan TV, persedian makanan tercukupi, dan uang saku lebih, adalah surga.

Sayangnya Baca lebih lanjut

Lyric BTS-Danger (Rom-Eng-Indo)

bts-1

Gara-gara lagu ini nih yang bikin aku kesemsem ma  Bangtan Boys, Bangtan Sonyeondan, aka BTS. Waktu itu lagi jaman heboh-hebohnya EXO dan satu MV ini yang bikin aku selingkuh dari EXO wkwkwk

Gimana nggak, iya sih mungkin visual mereka ga sekece badai EXO, tapi vibe bad boys yang menjadi konsep mereka, selalu nempel di otakku, terlebih V yang seolah keluar dari komik-komik (tebak V yang mana hayo??). Tapi yang lebih membuatku kecantol adalah aksi panggung mereka. Kombinasi antara dance yang belibet namun vocal yang masih tetap stabil membuatku mengacungkan dua jempol buat dongsaeng yang ngakunya penggemar berat Big Bang. Yah, kalau panutannya Big Bang sih, ga heran… 🙂 🙂 🙂

Yes, cekidot, langsung aja…

 

Romanization
[Intro]
[Rap Monster] You’re in danger
You’re in danger
You’re in danger
You’re in danger

[Verse 1]
[Rap Monster] maennal ireon sik neo=neo, na=na neoui gongsik
haendeuponeun jangsik na namchini matgin hani? I’m sick
wae sukjecheoreom pyohyeondeureul mirwo Baca lebih lanjut

Review Damai Indonesiaku

desert-wallpapers-desktop-background-free

Intisari Damai Indonesiaku, Senin, 10 Oktober 2016, TV One

Tadi pagi saat bangun untuk sahur puasa Tasyu’a, iseng-iseng ngidupin televisi buat nemenin makan sahur, eh… ketemu Ustadh Ahmad di TV One. Untuk namanya aku tidak memperhatikannya dengan jelas, karena cuma sekilas ngelihatnya.

Aku tidak tahu temanya apa karena saat menemukannya, acara sudah di tengah jalan (kalau tidak salah temanya tentang prioritas), tapi masih ada beberapa pelajaran yang bisa kuserap dari ceramah pagi tadi, diantaranya sebagai berikut:

Menurut Ilmuwan Amerika sebagian besar manusia itu menghabiskan waktunya dengan berbuat yang tidak penting, sehingga tanpa sadar waktu telah berlalu dengan cepat. Hal ini karena manusia cenderung melakukan sesuatu yang menyenangkan dibanding melakukan sesuatu yang penting. Manusia lebih tertarik dengan kenikmatan sesaat tersebut. Ustadh mengambil contoh dari para pengguna narkoba. Mereka tentu sudah tahu apa akibat dari mengonsumsi narkoba, tapi mereka tetap memakainya karena menginginkan kenikmatan sesaat.

Menurut Ustadh, seseorang yang penting adalah seorang yang melakukan sesuatu yang penting. Hal penting tersebut berdasarkan QS Lukman ayat 17 ialah: 1. Mendirikan Sholat, 2. Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan), 3. Orang yang sabar kala menghadapi ujian.

Mendirikan Sholat berbeda dengan hanya melaksanakannya saja. Jika melaksanakan maka saat waktu sholat kita sholat, setelah itu urusan selesai, tapi mendirikan sholat adalah melaksanakan sholat dan mengamalkan apa yang kita pelajari dari sholat setelah sholat usai. Intinya, pelajaran apa yang kita dapat seusai sholat, kita amalkan, kita dirikan, setelah selesai melakukan sholat.

Menurut Ustadh, hal yang bisa dipelajari dari sholat dikelompokannya menjadi dua, yaitu, memuji Allah dan meminta pada Allah. Tidak ada hal lain, seperti mengeluh, mencemooh, memaki, atau berkata kasar saat sholat. Semuanya perkataan baik, dan itu pula yang harusnya kita dapat seusai sholat, agar kita bisa berkata-kata baik.

Memuji Allah dilakukan dengan, misalnya, jika ada yang memuji kita dengan mengatakan kita cantik atau ganteng, reaksi kita mengucap Alhamdulillah, kita pintar, Alhamdulillah, atau saat ada yang mencela kita, Alhamdulillah, semua kita kembalikan pada Allah, karena itulah inti dari sholat, mengajarkan kita untuk memuji kebesaran Allah.

Sholat mengajarkan pada kita agar selalu ingat bahwa Allah-lah pemilik segalanya, itulah kenapa kita harus meminta kepada-Nya dan bukan yang lain. Begitu juga dalam kehidupan seharai-hari, biasakan untuk meminta sesuatu pada Allah dan bukan yang lain. Ustadh mencontohkan seorang anak yang ingin membeli hp, jika ia mengamalkan sholatnya, ia tidak akan meminta hp pada orang tuanya ia akan langsung berdoa dan meminta pada Allah karena ia tahu Allah-lah pemilik segalanya.

Masih ada dua perbuatan penting lainnya, sayangnya aku hanya mendengarnya sampai di situ. Semoga review singkat ini bermanfaat, terima kasih… 🙂 🙂 🙂

Quotes: Sepertinya tak mungkin untuk terbebas dari melakukan perbuatan dosa selama satu tahun, tapi untuk berbuat baik selama satu jam bukannya tak mungkin kan? Cobalah berbuat baik selama satu jam, lalu satu jam berikutnya, lalu satu jam lagi seterusnya… 🙂

Silence (ch.5)

silence2

 

Ch.5 The Young Daddy 3

 

Pada akhirnya, akulah yang praktis merawat bayi mungil Kyungsoo. Ya, dia memang melakukan ‘list apa saja yang boleh dan tak boleh dilakukan’ yang kutuliskan detil padanya, tapi kemudian dia tak akan sempat mencuci baju, memasak untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar memejamkan matanya sejenak. Karena seperti bayi pada umumnya, bayi Kyungmi –begitulah Kyungsoo menamainya— cukup rewel dan tak pernah tertidur lama.

Itu bahkan setelah Kyungsoo memutuskan untuk menyerah pada kuliahnya dan fokus mengurus Kyungmi. Aku tak mungkin mencegah keputusannya ketika itulah yang terbaik untuk semua. Sejak pertama ia memutuskan untuk merawat Kyungmi, inilah konsekuensi yang harus diterimanya karena tak mungkin menomorduakan bayi semungil itu dengan hal lainnya.

Aku hanya bisa membantu merawat Kyungmi ketika Baca lebih lanjut

Silence (ch.4)

silence2

Ch.4 The Young Daddy 2

 

Ibu bilang, ketika seseorang memilih untuk diam, ada kalanya ia tak ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan, tak ingin mengatakan yang sebenarnya, tak punya jawaban atas suatu pertanyaan, atau simple, karena diam sudah cukup mewakili jawaban atas semua pertanyaan.

Aku tidak tahu, yang mana dari keempat hal ini yang merupakan alasan Kyungsoo terdiam tapi yang pasti ketika hal seperti ini terjadi, ibu selalu bilang untuk tidak ikut campur dan menggali lebih jauh. Jadi itulah yang akan kulakukan.

“Setidaknya mengganti popok adalah pengetahuan wajib yang harus diketahui oleh seorang ayah! Dan tunggu sampai bayi ini tertidur baru kau bisa menggendongnya,” ucapku sambil menimang-nimang bayi di pelukanku. Kyungsoo menatapku bingung sebelum akhirnya bernafas lega. Ia tersenyum kecil sambil mengangguk malu.

“Bagaimana jika tadi aku tidak lewat?” tanyaku penasaran. Lelaki muda, bahkan bisa dibilang remaja karena baru dua tahun semenjak kelulusan kami dari bangku SMA, dan harus mengurus seorang bayi. Bagaimana dia bisa melakukannya? Dan kuliahnya?

“Aku memang berencana pergi ke rumahmu,” jawabannya semakin membuatku penasaran.

“Kau akan memerlukan waktu lama, dan bagaimana jika aku tidak ada di rumah?” Bagaimana jika terjadi apa-apa pada bayi ini saat dia pergi mencariku? Apa Kyungsoo tak berpikir sampai ke sana?

“Jika harus, aku akan mencarimu sampai ketemu, karena hanya kau satu-satunya harapanku.”

“Hah, kau bicara seolah tak ada tetangga lain yang bisa membantumu,” ucapku spontan, barulah saat menyadari sikap diamnya, aku tahu bahwa yang kuucapkan tidaklah salah. Terlebih dengan Kyungsoo yang kemudian menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.

Oh, inilah yang sering dikatakan ibu agar aku lebih peka dengan sekitarku. Tentu saja, warga di sini bahkan mengolok-oloknya karena skandal tersebut, bagaimana mungkin mereka mau mengulurkan tangan membantu Kyungsoo? Dan mungkin saja ia menganggapku cukup kompeten karena sering melihatku bersama Haru dan Bomi.

“Eumm… sepertinya bayi ini sudah tertidur,”

Kyungsoo seketika bangun dari posisi duduknya untuk menyiapkan tempat tidur sang bayi. Aku mengernyit menatap hasil prakaryanya. Sepertinya Kyungsoo lupa bahwa yang kugendong adalah seorang bayi dan bukan seorang dewasa yang membutuhkan bantal dan guling untuk tidur.

“Pegang ini,” ucapku sambil menyerahkan sang bayi padanya. Kyungsoo tampak terkejut namun tetap menerima bayi ke dalam pelukannya.

Aku membersihkan barang-barang yang tak perlu di tempat tidurnya, menjadikan guling besarnya sebagai batasan agar sang bayi tak terjatuh, mengganti bed covernya dengan selimut yang lebih tipis namun cukup hangat untuk sang bayi, memberi alas pada bagian belakang tubuh bayi, dan memberi tumpuan tipis di kepalanya agar bayi tetap merasa nyaman.

Setelah mengambil bayi dari gendongan Kyungsoo dan menempatkannya ke kasur barunya yang lebih hangat dan nyaman. Aku berganti membereskan tempat tidur Kyungsoo yang berantakan. Entahlah apa yang dilakukannya selama ini, tapi kondisi kamar yang kotor dan tak ada aliran udara tidaklah baik untuk bayi. Ya Tuhan… apa yang harus kulakukan pada ayah muda ini???

“Aku akan memberimu list apa yang boleh dan tak boleh kau lakukan selama aku tak ada, mengerti!”

Gomawo, Nara-yah…”

Oh Tuhan… apa yang kulakukan?

 

tbc

Silence (ch.3)

silence2

Ch.3 The Young Daddy

 

“Iya Ibu, aku sudah mengantar Haru dan Bomi ke sekolah mereka. Hari ini tidak ada mata kuliah jadi aku—“

“Nara-sshi!”

Aku membelalak kaget ketika sosok Kyungsoo tiba-tiba sudah berada di depanku dengan napas terengahnya. Aku tak menyangka pertemuan kami akan secepat itu sejak kejadian malam tersebut. Tapi hal itu bukannya tak mungkin ketika jalan di depan rumahnya adalah satu-satunya aksesku menuju ke kota.

W-waeyo?”

“Nara? Kau mendengarku? Yah, Kwon Nara!!” terikan Ibu dari ujung telepon membuatku tersadar bahwa ada seseorang diujung sana yang masih berbicara denganku.

“N-nee Eomma, aku lupa belum mematikan kompor, bye!” ucapku singkat sebelum mematikan ponsel di tanganku.

“Untung kau lewat… Kujelaskan nanti!”

Sebelum sempat menjawab, Kyungsoo lebih dulu menyambar pergelangan tanganku dan menarikku agar mengikutinya ke dalam rumahnya. Aku sendiri tak sadar jika sudah berada di depan rumahnya. Aku sedang dalam perjalan pulang selepas mengantar Haru dan Bomi ke sekolah mereka kala Ibu menelponku, dan saat itulah sosok Kyungsoo tiba-tiba muncul di depanku.

“Ada apa sebenarnya?” tanyaku terengah setelah Kyungsoo akhirnya berhenti dan melepaskan pergelangan tanganku. Harusnya aku gugup karena ini kali pertama aku memasuki rumahnya, tapi dalam kondisi seperti ini hal itu tak lagi jadi prioritas utama.

“Itu juga yang ingin kutanyakan,” ucapnya sedikit berbisik yang membuatku sedikit menelengkan kepala agar bisa mendengarnya. Aku mengikutinya ketika ia berjalan melambar ke sebuah kamar, dan ketika semakin dekat, suara tangis tersebut makin terdengar jelas.

“Omo!!” refleksku seketika menghampiri sosok mungil yang menangis keras di atas ranjang king size di dalam kamar tersebut. Jantungku pasti berdetak sangat keras hingga baru menyadari ada sesosok rapuh yang menangis keras di dalam sini, sedangkan Kyungsoo sepertinya terlalu gugup untuk menjelaskannya.

“Aku tidak tahu ada apa dengannya, semalam ia baik-baik saja, tapi pagi ini ia tak hentinya menangis, aku tak tahu harus berbuat apa…”

Aku bersyukur kehadiran Haru dan Bomi membuatku terbiasa dengan anak kecil, tak terkecuali seorang bayi. Seketika aku mencoba mengecek kondisinya. Saat telapak tanganku menyentuh dahinya, suhu tubuhnya hangat, normal untuk ukuran seorang bayi. Kuambil botol susu yang terletak di nakas sebelah tempat tidur dan memberikannya pada bayi di dekapanku, sayangnya ia tetap saja menangis.

Aku sempat bingung harus berbuat apa sampai kemudian memutuskan untuk mengambil bayi tersebut dari selimut tebalnya dan menimang-nimangnya. Betapa terkejutnya ketika kudapati bagian bawah tubuh bayi tersebut sudah basah kuyup. Sepertinya selimut tebal tersebut menghalangi air sampai ke permukaan. Tapi harusnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru untuk seorang ibu selalu mengecek popok anaknya. Siapa yang harus kusalahkan ketika sejak awal Kyungsoo memang bukan seorang Ibu.

“Kenapa kau tidak mengecek popoknya?”

“E-eh?”

Jika saja bukan karena ekspresi –ah-benar-juga-kenapa-hal-itu-tak-terpikirkan-olehku-sebelumnya— yang ditunjukkannya, aku sudah mengomelinya habis-habisan. Sayangnya senyum malu-malunya hanya bisa membuatku mendengus kesal.

“Mian…”

“Sudahlah… ambilkan popoknya, biar kugantikan.”

Kyungsoo segera beranjak dari posisi duduknya di tepi tempat tidur dan mengambil perlengkapan bayi. Aku heran bagaimana bisa ia mendapatkan semuanya itu dalam waktu singkat, sepertinya kemajuan teknologi sangat membantunya kali ini.

Kyungsoo kembali duduk setelah memberikan perlengkapan bayi tersebut padaku.  Sebelumnya aku tak sadar jika ia memperhatikanku mengganti popok si bayi sampai akhirnya ia membuka mulutnya.

“Kenapa kau mengajaknya bicara?”

“Huh? Emm… entahlah, sudah kebiasaanku, kupikir hal itu bisa membuat perhatiannya teralih?” ucapku tanpa mengalihkan perhatian dari sosok mungil dihadapanku.

Kyungsoo hanya mengangguk kecil sambil terus memperhatikanku. Sepertinya ia bertekad untuk tahu cara menangani bayi. Setidaknya untuk saat ini, ia tampak lega kala bayi tersebut akhirnya berhenti menangis.

“Kau ingin menimangnya?” tanyaku saat melihat raut berharapnya saat aku menimang-nimang bayi tersebut.

“Boleh?” tanyanya antusias

“Tentu saja boleh, kau kan Ayahnya,” sahutku seketika. Untuk apa dia menanyakan pertanyataan yang sudah sangat jelas jawabannya itu? Kecuali jika ia hanyalah… orang asing?

Sulit membedakan mata membelalak ketika matamu sudah sangat besar, sayangnya hal itu tak luput dari penglihatanku. Meskipun hanya sekilas, aku sempat melihat Kyungsoo yang membelalak terkejut sebelum kembali ke ekspresinya semula. Aku menepis tangannya ketika ia hendak meraih bayi dalam pelukanku.

“Kau bukan ayahnya kan?”

 

tbc

Silence (Ch.2)

silence2

Ch.2 Scandal

 

Untuk seorang remaja kesepian sepertiku, makan malam dengan Ibu sangatlah mewah, meskipun lauknya hanyalah ayam goreng biasa.

Sejak Ayah meninggal, Ibu mengambil alih tugas Ayah dengan bekerja siang dan malam menghidupi kami semua. Itulah kenapa aku tak pernah protes jika waktu Ibu sangatlah sempit untuk kami. Karena aku tahu, jika disuruh memilih Ibu pasti lebih senang jika meghabiskan waktu bersama kami.

“Harusnya Ibu mengabari kami dulu, Haru dan Bomi pasti akan senang melihat Ibu,” ucapku sambil memperhatikan Ibu yang menghangatkan sup di atas kompor.

“Rencananya kami kembali besok pagi, menjadikan hari terakhir sebagai acara jalan-jalan sebelum kembali ke Gyeonggi-do, tapi Ibu sudah bosan tanpa melihat kalian,”

“Jjinca? Ibu pasti senang kan bisa tiap bulan jalan-jalan keluar kota??godaku. Sayangnya Ibu terlalu pintar untuk menghadapi anak ingusan sepertiku.

“Baiklah Ibu akan kembali jika kau menginginkannya,” kontras dengan nada bicaranya, Ibu tampak tersenyum cerah sambil menaruh mangkuk sup di hadapanku.

“Ibu menyebalkan…” ucapku kesal, namun tetap memakan makanan yang dihidangkan Ibu.

Kehadiran Haru dan Bomi mungkin akan membuat suasana menjadi lebih ramai, tapi kadang aku senang dengan berduaan saja dengan Ibu, karena jika ada mereka, perhatian Ibu hanya untuk adik-adik kecilku.

Bukan apa-apa, terkadang aku hanya ingin diperhatikan sepenuhnya oleh Ibu. Karena hanya dengan bersama Ibu, mengingatkanku akan diriku yang masih remaja labil yang senang membuat masalah, dan bukan seorang kakak yang memegang tanggung jawab penuh atas kedua adik kecilnya.

“Bagaimana kuliahmu?”

“Ku—“

Aku sudah bersiap-siap melontarkan semua keluh kesahku ketika suara keributan terdengar dari luar rumah kami. Suaranya cukup keras terdengar, yang membuatku bergantian menatap pintu keluar dan pintu kamar Haru dan Bomi –takut jika suara tersebut membangunkan keduanya.

“Ada apa Ibu?”

“Entahlah, kau di dalam saja, Ibu akan mengeceknya keluar,” ucap Ibu sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. Untung saja Ibu lupa mengunci pintu dari luar sehingga aku bisa menguntitnya dari belakang.

Aku tidak tahu apa yang terjadi ketika yang terlihat di depanku hanyalah kepala-kepala tak berwajah para warga yang berkerumun. Sedangkan Ibu sendiri jauh dari jangkauanku. Fisikku yang kecil membuat orang-orang ini dengan mudah mendorongku seolah aku hanyalah debu.

Beruntung aku bertindak cepat dengan menempel seorang paman bertubuh tambun dan bersembunyi di belakangnya. Aku mengikutinya hingga akhirnya terlihat sedikit celah di hadapan kami dan penampakkan sesosok berambut panjang yang tampak bergetar hebat. Teriakan keras warga tak membuat isak tangisnya tenggelam begitu saja.

Han Yumi?

Aku tidak tahu apa yang terjadi, karena semua berebut ingin tahu dan ingin menghakimi, tak ada penengah yang bisa meredakan kemarahan warga. Tak ada satu dari ucapan mereka semua yang bisa ku mengerti.

“Ada apa sebenarnya?” beruntung paman tambun berhasil menarik kasar lengan seseorang di sampingnya dan memaksanya menjawab pertanyaannya.

“Lelaki itu menghamili anak Ketua Han, dasar bejat!”

Yumi hamil? Gadis pemalu itu??? Aku hanya bisa membelalak tak percaya mendengarnya. Dan seingatku ia masih duduk di SMA, apa saja yang dilakukannya di sekolah?

Beragam pertanyaan muncul di kepalaku, rasanya aneh mengetahui sosok yang selama ini kau kira baik ternyata busuk di dalamnya. Aku memang tak cukup mengenal Yumi, tapi reputasi dan prilakunya cukup untuk mencerminkan ia sebagai seorang gadis baik-baik.

Hampir sebulan sejak aku terakhir bertemu dengannya, tapi seingatku Yumi memang selalu memakai Hoodie yang membuat bentuk tubuhnya tak begitu kelihatan. Aku tak menyangka jika ia menyembunyikan kehamilannya di balik hoodie besarnya.

“Sudah kuduga pemuda Seoul itu punya niat buruk,”

Kuharap dugaanku salah, tapi jika dipikir-pikir, hanya satu orang itu yang beruntung mendapat gelar pemuda Seoul.

Hatiku seolah tak ingin percaya kala mata ini menangkap sosok tenang di depan gerbang rumahnya. Sayangnya tindakannya mengambil sebuah bungkusan yang diarahkan padanya, dan menimang-nimang apapun itu yang ada di dalamnya, cukup untuk mematahkan semua argument dalam otakku.

Do Kyungsoo… menghamili Han Yumi?

tbc

 

Ada yang kangen review, news, anything??

comment please…