Friends

17126752_1855311094735226_3292334539690475520_n

 

Starring: Taehyung, Jimin, Jisoo

Theme: Romance

 

 

Yah, Bagaimana menurutmu?”

Taehyung tersenyum senang ketika Jimin akhirnya menutup buku dihadapannya dan mengalihkan perhatiannya pada sahabatnya tersebut. Ia tak peduli jika keduanya sedang berada di perpustakaan atau jika Jimin sedang fokus membaca sebuah buku, baginya perasaannya lebih penting, cinta pertamanya.

“Kemarin aku dengar ia menolak Park Jinyoung,” ucap Jimin setelah terdiam cukup lama. Membuat senyum lebar Taehyung kembali terkembang. Sayangnya hal itu tak berlangsung lama, seperti biasa Jimin senang sekali menghancurkan imajinasinya.

“Jika seorang Park Jinyoung saja ia tolak…” Jimin tak perlu melanjutkan kalimatnya karena ia tahu, Taehyung mengerti apa yang ia maksud.

Park Jinyoung, Sang Ketua Osis di sekolah mereka, yang juga terkenal karena paras tampannya. Hampir semua orang mengaguminya, bahkan para guru. Jika tipe seperti itu saja masih ditolak, apalagi dengan lelaki biasa seperti Taehyung?

“Mu-mungkin, Jinyoung bukan tipenya?” ucap Taehyung, berusaha menghibur dirinya sendiri. Menanggapi ucapan Taehyung, Jimin tersenyum kecil sebelum menyandarkan pungungnya pada kursi tempatnya duduk.

“Menurutmu… bagaimana standart seorang Kim Jisoo?”

Taehyung tahu Jimin berkata benar, oh lelaki dingin itu selalu bermain dengan logikanya. Tapi Taehyung hanya tak ingin menyerah dengan cinta pertamanya. Ia telah menyukai gadis itu sejak pertama kali melihatnya. Harapannya selalu tumbuh setiap kali ia mendengar sang gadis menolak pernyataan cinta seseorang, tapi tak begitu dengan percaya dirinya.

Kim Jisoo, gadis itu mungkin tak mengenalnya, tapi siapa yang tak mengenal Jisoo? Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah tersebut, yang pertama kali Taehyung dengar adalah nama indah tersebut, sayangnya ia tak pernah benar-benar melihat sang pemilik nama. Keduanya berada di lingkup pergaulan yang berbeda. Sampai suatu hari ketika keduanya tak sengaja bertabrakan di koridor.

Ternyata semua yang didengar Taehyung tentang gadis itu tidaklah omong kosong. Kim Jisoo sungguh cantik, kecantikan classic yang tak banyak dimiliki gadis masa kini. Senyumnya indah yang membuat jantungnya seketika berdegup kencang. Sayangnya ia bukanlah satu-satunya yang memiliki perasaan tersebut. Karena hampir semua lelaki di sekolahnya memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dan mereka bukanlah lawan yang mudah.

Park Jinyoung, Kim Suho, Ong Seungwoo, Yook Sungjae dan sederet idola sekolah mereka lainnya, mereka bukanlah siswa biasa, setidaknya mereka cukup terkenal entah karena prestasi, tampang, atau sekadar kekayaan orang tua. Sedangkan Taehyung? Tak ada sesuatu yang bisa dibanggakan darinya. Terakhir ia malah menanggung malu lantaran harus menerima detensi setelah berkelahi dengan teman sekelasnya.

Dan Jimin sama sekali tak membantu, tiap kali Taehyung bercerita tentang Jisoo, Jimin selalu mengacuhkannya, tak memberinya saran, atau bahkan menghilangkan harapannya seperti saat ini.

Setelah memendam cukup lama perasaannya pada Jisoo, setidaknya dua tahun, ia ingin sekali mengutarakannya. Tapi seperti biasa, Jimin mengacuhkannya, bahkan ia melarang Taehyung untuk melakukannya.

“Menurutmu… kenapa sampai sekarang Jisoo masih sendiri?”

Ia ingin mendengar jawaban pintar Jimin. Tak seperti dirinya, Jimin termasuk dalam kelompok terpintar di sekolahnya. Namun tak seperti kutu buku pada umumnya, Jimin cukup diidolakan lantaran wajahnya yang tampan dengan sikapnya yang dingin dan acuh. Ia juga salah satu anak penyumbang dana di sekolah mereka. Sampai sekarang Taehyung masih heran, bagaimana keduanya bisa berteman dekat.

“Mungkin… ia masih menunggu?”

“Maksudmu?”

“Kau tahu kan, para gadis dan imajinasi mereka,” lanjut Jimin sambil mengedikkan bahu acuh. Prince Charming, itulah yang Jimin maksud.

“Tapi—“

“Aku tidak ingin kau patah hati, Tae,” ucap Jimin, sekali lagi menatapnya dalam. Sebuah tatapan yang selalu sukses menghipnotisnya. Dan seperti yang sudah-sudah, Taehyung akan selalu menurut apa yang sahabatnya tersebut katakan. Bukankah itu yang terbaik untuknya? Meskipun sekali lagi, ia harus menunda menyatakan perasaannya. Taehyung menolak menyerah pada perasaannya.

“Kudengar gadis pindahan sangat cantik, kenapa kau tak mencobanya saja, dan lupakan Jisoo,” ucap Jimin tanpa menatap Taehyung. Lelaki itu memutuskan untuk kembali lagi menekuri buku di hadapannya.

“Jika aku tak mengenalmu, aku sudah menganggap kau sadis,” cibir Taehyung.

“Aku hanya memberimu saran.”

“Bagaimana denganmu, kau sendiri tak pernah terlihat bersama dengan seorang gadis?” Jimin menghentikan aktifitasnya, dan kembali menatap dalam Taehyung.

“Kau akan melihatnya, segera…”

Taehyung tidak tahu perasaan apa itu, tapi ia sedikit bergidik melihat senyum tipis Jimin. Ia merasa ada sesuatu yang ingin lelaki itu katakan. Dua tahun lebih ia mengenal Jimin, tapi kadang Taehyung merasa ia tak mengenal benar sahabatnya tersebut.

🙂 🙂 🙂

 

 

Hal terakhir yang ingin Taehyung lihat sebelum masa kelulusan adalah, mendapati sahabatnya berjalan sangat intim dengan Kim Jisoo. Sesaat sebelum ia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada sang gadis. Sesaat sebelum ia akhirnya mengacuhkan semua saran Park Jimin dan memilih menuruti kata hatinya.

 

“Kudengar mereka telah bertunangan, dan keduanya akan melanjutkan kuliah di Amerika.”

“Ada yang bilang, mereka teman masa kecil, mereka tak pernah terlihat di depan umum, tapi ada yang pernah melihat Jimin keluar dari rumah Jisoo.”

“Bukankah keduanya berada di kelompok Elite? Dan mereka selalu mengadakan pertemuan kan?”

“Jadi sejak awal Park Jimin adalah pemenangnya? Haha”

 

Tanpa terasa, kedua telapak tangan Taehyung telah mengepal mendengar semua bisik-bisik di sepanjang koridor sekolah. Jika ia tak melihatnya sendiri, ia mungkin tak percaya dengan semua yang mereka katakan. Sayangnya ia menyaksikannya sendiri, bagaimana Jimin tersenyum manis pada Jisoo, sesuatu yang tak pernah lelaki itu lakukan pada seorang gadis manapun. Taehyung mengenali tatapan tersebut, karena begitulah ia menatap seorang Kim Jisoo.

Jika lelaki lain, ia mungkin tak begitu kecewa, tapi sahabatnya? Dan setiap hari Taehyung tak pernah absen menceritaan perasaannya pada sang gadis. Inikah kenapa Jimin selalu mengacuhkannya? Menggagalkan setiap usahannya mendekati Kim Jisoo. Beginikah Park Jimin yang ia rasa telah mengenalnya?

Sebelum ia sadari, Taehyung telah melangkah cepat menuju tempat keduanya berdiri di koridor. Melihat ekpresi tenang Jimin, sepertinya ia sudah memprediksi reaksi Taehyung. Dan hal itu semakin membuat Taehyung kesal karena semuanya sesuai dengan rencana Park Jimin.

“Taehyung,”

Taehyung tak ingin mendengar Jimin menyebut namanya, itulah kenapa tinjunya seketika menghetikan apapun itu yang akan keluar dari mulut sang mantan sahabat. Jika ada satu hal yang membuat Taehyung unggul dibanding teman-temannya yang lain adalah, bahwa ia seorang petarung yang handal. Mereka semua mengetahuinya, Taehyung, seorang trouble maker di sekolah mereka, itulah kenapa mereka memilih menyingkir daripada terkena cipratannya.

“Taehyung kumohon….”

Barulah ketika ia mendengar rintihan pelan di sampingnya, ia terpaksa menghentikan pukulannya. Setidaknya wajah Jimin tidak akan kembali seperti semula selama satu minggu. Jika bukan karena Jisoo, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada Jimin.

“Taehyung…”

“Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, Jisoo…” untuk sekali itu, Taehyung memberanikan diri menyentuh sang gadis. Mengusap air mata di kedua pipi Jisoo tanpa menyadari aliran bening yang juga telah menghiasi kedua pipinya. Ia tersenyum kecil, sebelum akhirnya berbalik meninggalkan sekolah.

 

 

 

Setahun Yang Lalu…

“Aku… aku menyukaimu…”

Jisoo membelalak mengetahui kalimat tersebut terucap dari teman masa kecilnya. Ia sama sekali tak menyangka lelaki itu menaruh hati padanya.

“Hei, kau bercanda kan?” ucap gadis itu, sambil menyenggol kecil tangan sang lelaki.

“Apa aku akan seserius ini saat bercanda?”

“Memangnya kapan kau tidak serius—” ucapnya yang membuat seringai kecil sukses menghiasi bibir sang lelaki.

“Sial, kau benar-benar cerdik,” cibir Jisoo.

“Jadi?” lanjut sang pria, tak ingin Jisoo melupakan pernyataan cintanya.

“Apa ini masuk akal? Aku berkali-kali bertanya tentang Taehyung padamu, menurutmu bagaimana perasaanku?” ucap Jisoo frustasi. Ia mungkin berkali-kali menolak pernyataan cinta seseorang, tapi mengenal sifat lelaki tersebut, ia justru bingung harus berkata apa. Pada akhirnya, Jisoo menyerah, memilih untuk mengatakan saja apa yang ada di benaknya. Berharap bahwa lelaki tersebut terlalu dingin untuk peduli.

“Aku hanya mencoba peruntunganku, apa salahnya,” jawab sang lelaki yang membuat Jisoo sedikit lega. Setidaknya ia masih acuh.

“Tapi kau tahu kan, Taehyung tak pernah tertarik padamu?” lanjut sang lelaki.

“Tapi aku menyukainya, Jimin…”

“Baiklah, kutunggu sampai kelulusan sekolah, jika saat itu kalian belum bersama, pertunangan kita akan tetap terjadi.”

End

 

 

I Just Love Jisoo 😥

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s