Beranda » Uncategorized » Tiada Hari Tanpa Belajar <3

Tiada Hari Tanpa Belajar <3

Beautyful Landscape 1

Layaknya kiasan lainnya yang hanya kuingat untuk pelajaran Bahasa Indonesia, ungkapan ‘Tiada Hari Tanpa Belajar’ tak begitu berarti bagiku. Sampai pada suatu sore saat aku mengalami kejadian yang tak disengaja.

Saat itu aku masih kecil, Ibu menyuruhku membeli sesuatu di warung tetangga –yang kebetulan pemiliknya adalah Bu De ku sendiri. Tidak seperti sekarang, rumah Bude saat itu masih kecil. Ruang tamunya bahkan digunakan juga untuk meletakkan barang dagangan karena warungnya tidak cukup besar.

Saat itulah, saat selesai berbelanja, aku melihat kakak sepupuku menggelar buku-bukunya di meja ruang tamu. Jendela yang terbuka lebar, dengan suara hafalan kitab yang terdengar lantang, membuatku seketika menoleh memperhatikan. Di situlah, dengan baju koko, peci, dan sarung kotak-kotaknya –pakaian khasnya— sepupuku tampak asik membolak-balik halaman buku.

Seperti biasa, hanya untuk basa-basi, aku menyapanya. Bukan obrolan berat, ah, obrolan seperti apa sih yang dilontarkan anak usia SD? Hanya sebatas sopan santun yang diajarkan orang tua agar tak lupa menyapa seseorang yang kita temui.

Yang membuatku terheran, aku bahkan sempat menertawakannya, untuk apa belajar di saat hari libur? –kebetulan saat itu hari libur— Logika anak SD ku waktu itu, untuk apa diberi hari libur kalau tetap saja digunakan untuk belajar?

“Libur kok masih belajar sih, Kang?” tanyaku dengan gaya bercandaan.

Yang tak aku duga adalah jawaban singkatnya, yang seolah sudah terprogram di otaknya agar mulutnya mengatakan hal itu. Seperti sebuah kebiasaan yang bahkan tanpa kita sadari kita lakukan begitu saja.

Lho… kan tiada hari tanpa belajar,” jawabnya begitu singkat, yang membuat tawaku lenyap seketika.

Logikanya, saat itu aku masih kecil, anak SD sepertinya, tapi seingatku, pemahamanku tentang jawaban tersebut sejak dulu hingga sekarang masih sama.

Malu

Dia yang seorang guru, seorang kepala sekolah, seorang kyai, seorang yang mendapat nilai seratus untuk ujian kelulusan SMA-nya, tak pernah berhenti untuk belajar, sedangkan aku yang bahkan belum jelas apakah bisa lulus SD atau tidak, merasa besar kepala hingga tak memanfaatkan waktu sebaik mungkin, bahkan dengan beraninya menertawakannya.

Ia hanya menjawab pertanyaan seorang gadis polos dengan tak meninggalkan tawa ringannya, tapi meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi anak kecil itu, bagiku, yang selalu teringat kenangan tersebut hingga saat ini. Meskipun ia telah tiada –semoga Allah menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya— kenangan tentang sepupuku tersebut tak akan pernah terlupa.

Belajar, belajar, belajar, jangan pernah lelah untuk belajar…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s