Beranda » D.O » Silence (ch.5)

Silence (ch.5)

silence2

 

Ch.5 The Young Daddy 3

 

Pada akhirnya, akulah yang praktis merawat bayi mungil Kyungsoo. Ya, dia memang melakukan ‘list apa saja yang boleh dan tak boleh dilakukan’ yang kutuliskan detil padanya, tapi kemudian dia tak akan sempat mencuci baju, memasak untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar memejamkan matanya sejenak. Karena seperti bayi pada umumnya, bayi Kyungmi –begitulah Kyungsoo menamainya— cukup rewel dan tak pernah tertidur lama.

Itu bahkan setelah Kyungsoo memutuskan untuk menyerah pada kuliahnya dan fokus mengurus Kyungmi. Aku tak mungkin mencegah keputusannya ketika itulah yang terbaik untuk semua. Sejak pertama ia memutuskan untuk merawat Kyungmi, inilah konsekuensi yang harus diterimanya karena tak mungkin menomorduakan bayi semungil itu dengan hal lainnya.

Aku hanya bisa membantu merawat Kyungmi ketika tidak ada mata kuliah. Anehnya, Haru dan Bomi yang selama ini kelewat nakal untuk ukuran anak-anak seumurannya, bertingkah sangat manis saat bersama Kyungmi. Mereka selalu tak sabar jika aku menjemput mereka sepulang sekolah dan mengajak menemui Kyungmi.

Ibu sendiri tak mempermasalahkan ketika tahu aku lebih sering berada di rumah Kyungsoo daripada di rumah sendiri. Ibu tak begitu mengenal Kyungsoo tapi ia juga tak mau menilai seseorang begitu saja tanpa berusaha mengenalnya terlebih dahulu. Dan melihat perubahan sikap Haru dan Bomi, sudah cukup bagi Ibu untuk menyimpulkan bahwa Kyungsoo dan Kyungmi memiliki pengaruh baik pada anak-anaknya.

“Kau akan terlambat jika tidak segera pergi!!” seruku untuk yang kesekian kali saat melihat Kyungsoo yang masih asik bermain bersama Kyungmi, Haru, dan Bomi.

“Kau menyebalkan!”

“Ha! Jangan mengadu padaku jika lagi-lagi kau dipecat!” ancaman terakhirku akhirnya mampu membuatnya berdiri meskipun tanpa melewatkan tatapan tajamnya padaku. Harusnya ia berterima kasih ada aku yang selalu mengingatkannya. Entah sudah berapa kali Kyungsoo kehilangan pekerjaan paruh waktunya karena tak rela meninggalkan Kyungmi.

Di usianya yang keenam bulan, Kyungmi memang sedang lucu-lucunya. Ia sudah mulai bisa berguling-guling di lantai yang membuat Kyungsoo, dan kedua adikku tak hentinya menggodanya. Tapi apa gunanya jika tidak ada susu yang harus diminum? Kyungsoo harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya dan Kyungmi, begitulah komitmennya.

“Aku akan pulang tepat jam lima, jangan pergi ke taman sebelum aku datang,” ucapnya sejenak sebelum dengan berat hati melangkah keluar rumah.

Kami merawat Kyungmi bergantian, saat aku kuliah, Kyungsoo lah yang menemani Kyungmi, barulah setelah pulang kuliah Kyungsoo berangkat bekerja, itupun setelah mendapat ijin dariku. Ia tidak perlu melakukannya tapi sepertinya ia hanya ingin mendapat persetujuanku, itulah kenapa ia selalu meminta ijin setiap kali akan berangkat bekerja.

Beruntung bosnya kali ini baik hati, ia mengerti keadaan Kyungsoo hingga mengijinkannya mengambil shift kerja sesuai kondisinya. Biasanya Kyungsoo akan berangkat kerja pukul satu siang, lalu kembali pulang pukul lima untuk mengajak Kyungmi jalan-jalan. Ia akan kembali ke tempat kerja setelah menidurkan Kyungmi, tentu saja denganku yang menemaninya, lalu kembali lagi saat larut malam.

Aku tidak pernah melihat seseorang bekerja sekeras itu di usia semuda Kyungsoo. Entah kenapa ia mau melakukannya untuk seseorang yang sampai saat ini aku sendiri tidak tahu statusnya. Kyungsoo tidak pernah membicarakan tentang hal itu, ia hanya melakukan tugasnya sebagai seorang ayah. Tidak sekali pun aku mendengarnya mengeluh. Mungkin itulah yang membuatku tetap bertahan menemaninya merawat bayi Kyungmi tanpa mempertanyakan apa-apa.

Eonnie…”

Wae?” ucapku pada adik kecilku.

“Aku boleh menggendong Mimi ke taman?”

“Kau hanya akan menjatuhkannya, Bomi!”

Aniiiiii….”

“Lihatlah tangan kurusmu itu, kau pikir kuat menggendongnya?”

Aku benci saat kedua adik kecilku mulai beradu mulut. Bomi tak semanis kelihatannya, ia sangat pintar memanfaatkan aegyo-nya, sepertinya ia terlalu banyak menonton drama, sedangkan Haru, mungkin sebaiknya aku lebih menjaga kata-kataku. Sepertinya ia menuruni sikap tegas dan tajam Ibu yang juga mengalir di darahku.

“Aku akan mengijinkanmu menggendongnya, tapi nanti setelah sampai di taman, arra!”

Itulah yang terbaik, aku tidak bisa mengijinkan salah satunya menang karena hal itu hanya akan membuat salah satunya iri. Beginilah repotnya memiliki adik kembar.

Aku tidak menunggu Kyungsoo karena bagaimanapun kami akan bertemu di taman, meskipun kadang ia bersikap cerewet dengan dalih tak bisa menggendong Kyungmi di perjalanan. Bisa saja ia beralasan… padahal jarak taman yang kami tuju tak terlalu jauh dari rumahnya.

Kami terbiasa membawa bayi Kyungmi ke taman tiap pagi dan sore. Biasanya Kyungsoo sendiri lah yang mengajak jalan-jalan tiap pagi karena Bomi, dan Haru harus sekolah, sedangkan aku ada kuliah, barulah saat sore hari, kami bisa bersama-sama menemaninya.

Gunjingan tetangga tak lagi menjadi hal penting, justru mereka sendiri yang bosan karena hampir tiap hari membicarakan kami. Kyungsoo yang seorang brengsek ‘bertanggungjawab’ dari Seoul, dan aku, kekasih bodoh yang mau-maunya merawat bayi wanita lain. Sejak kapan aku menjadi kekasih Kyungsoo? Haha, drama, bukankah itu lucu?

Lalu apa yang harus kulakukan ketika mereka hanya berbisik di belakang punggung kami menggosipkan kami? Aku akan menjawab pertanyaan mereka jika mereka bertanya, tapi mereka tak pernah punya nyali dan aku tak mungkin melongok satu-satu ke rumah-rumah arisan untuk memberi pencerahan. Hah as if! Beruntung Ibu tak begitu peduli dan adik-adikku terlalu kecil untuk menyadari.

Seperti biasa, kami mencari bangku di bawah pohon sesampainya di taman. Aku tidak tahu kenapa Kyungsoo memillih taman ini. Ada banyak taman yang lebih nyaman dan bahkan lebih dekat dengan rumahnya dibanding taman yang sering kami kunjungi ini.

Seperti biasa, Kyungsoo tak pernah banyak bicara dengan hal yang dipilih atau dilakukannya, dan aku tak merasa perlu mencecarnya. Itulah kenapa aku mengikuti saja kemauannya. Bisa dibilang kami berdua sama-sama sebagai pihak yang pasif dan acuh, tapi mungkin justru itulah yang membuat masalah ini jadi lebih mudah, kami melabelinya dengan privasi.

Tak lama setelah kami sampai, dan Bomi sukses menggendong Kyungmi di pangkuannya, Kyungsoo datang dengan wajah cemberutnya. Ia kesal karena kami meninggalkannya. Tapi kami lebih tahu bahwa ia tak serius.

Aku tidak tahu sejak kapan Kyungsoo bersikap begitu santai di hadapan kami. Mungkin efek dari pertemuan kami yang hampir tiap hari yang membuatnya mau tak mau menunjukkan jati dirinya. Tapi Kyungsoo yang kutahu sebelumnya adalah pribadi yang hanya tahu tersenyum, dan bukan seorang yang sesekali kesal apalagi merengek. Semua itu terjadi begitu saja tanpa kami menyadarinya.

Gomawo…” aku mendongak kala Kyungsoo tiba-tiba membuka obrolan. Ia sedang bermain-main dengan Kyungmi di pangkuannya yang membuatku tak begitu memperhatikannya. Bomi dan Haru sendiri sedang asik bermain bersama teman-teman mereka di kolam pasir.

“Untuk apa?”

“Semuanya… aku bahkan tak tahu bagaimana cara membalas budinya.”

Awalnya aku tak tahu apa yang dibicarakannya yang memaksanya menceritakan semuanya. Semuanya… jika ia berpikir untuk membalasku, lalu siapa yang ia harapkan untuk membalas kebaikannya?

Aku tak pernah berharap mendapatkan balasan darinya saat menolongnya. Hidup bertiga dengan kedua adikku –dengan ibu yang jarang di rumah yang secara praktis membuatku mengurus kedua adikku yang masih kecil— membuatku tahu betapa repotnya mengurus seorang anak kecil, apalagi bayi yang masih begitu rapuh. Dengan kondisinya yang tak didukung siapa pun di kota ini, membuatku tergerak untuk menolongnya.

“Sudahlah,” jawabku acuh

“Kau sendiri… apa akan mengurus Kyungmi sampai dewasa? Bagaimana dengan kuliahmu, Kyungsoo-yah? Kau tak mungkin cuti selamanya,” tanyaku kemudian. Ia selalu mendahulukan orang lain hingga mengesampingkan dirinya sendiri.

“Kyungmi sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, tentu saja aku akan mengurusnya,” ucapnya sambil menatap bayi mungil di hadapannya penuh sayang.

Ya Tuhan… Kau sungguh adil, memberi ganti yang lebih baik kepada Kyungmi. Setidaknya ada yang lebih menyayanginya dibanding orang tuanya sendiri.

Entah Kyungsoo sadar atau tidak kalau secara tak langsung ia sudah mengaku bahwa Kyungmi bukan anaknya, meskipun ia tak pernah bercerita alasannya untuk mengurus bayi yang bukan darah dagingnya. Aku tak berani menyinggungnya, merasa bahwa itu adalah haknya untuk membuat keputusan.

“Kau akan selalu menemaniku kan?” pertanyaan singkatnya membuatku terbangun dari lamunan.

Menemani seperti apa maksudnya? Saat ini aku memang masih bisa membantunya mengurus Kyungmi, tapi nanti jika aku sendiri memiliki suami dan anak? Apa masih bisa aku melakukannya? Memikirkannya membuatku terdengar seperti seorang play girl.

“Aku tidak mungkin menemanimu saat memiliki suami dan anak nanti,” jawabku sambil menoleh menatapnya. Ia berhenti memain-mainkan Kyungmi di pangkuannya. Kedua alisnya saling bertaut, sepertinya sedang berpikir dalam. Apa yang dipikirkannya hingga ekspresinya sampai seperti itu?

“Hei, kau tidak berpikir untuk menikahi lelaki lain kan?” ia tiba-tiba berpaling kearahku dan menatapku tajam yang membuatku sedikit terkejut.

“Apa—“

“Eonnie…. Oppa…”

Obrolan kami terhenti saat Bomi tiba menghambur ke arahku dengan air mata yang membasahi pipinya. Haru juga berlari di belakangnya. Tak seperti kakaknya, ekpresinya tampak kesal.

Wae?”

“Mereka menghancurkan istana pasirku…” ucapnya di sela sesenggukannya. Aku tahu aku tak bisa mempercayainya begitu saja. Bukan apa-apa, hanya saja dalam hal seperti ini aku lebih mempercayai Haru.

“Haru?” tanyaku pada sosok di belakang Bomi.

“Bomi mengambil pasir mereka untuk membuat istananya, tentu saja mereka kesal,” Haru mengatur nafasnya sebelum mulai bercerita.

“Benar kau melakukannya?”

“Ta-tapi aku duluan yang bermain di sana…” sanggah Bomi. Melihat ekspresiku, sepertinya ia tahu aku tak senang dengan apa yang dilakukannya. Bomi mundur dengan perlahan, sayangnya tanganku lebih cepat yang membuatnya kembali ke hadapanku sebelum dapat bersembunyi di balik punggung Kyungsoo.

“Hei dengar, Bomi, Haru,” aku juga menarik lengan Haru agar bisa lebih dekat denganku.

“Kalian ingin memiliki teman tidak?”

“Tentu saja,” jawab Bomi seketika sedangkan Haru hanya mengangguk polos.

“Kalau kalian ingin mereka berteman denganmu Bomi, Haru, kalian harus berbagi. Pinjamkan mainan kalian pada mereka. Bukankah kalian ingin bermain bersama mereka? Kecuali kalian ingin bermain sendiri, maka simpan saja mainan kalian untuk kalian sendiri, jangan pinjamkan ke orang lain. Tapi jangan merengek pada Eonnie jika tidak ada yang mau berteman dengan kalian, arra?” terangku panjang lebar.

Aku tidak suka berceramah panjang lebar, lebih senang bertidak langsung tapi kadang hal seperti ini dibutuhkan, terlebih untuk pribadi seperti Bomi yang lebih lembut dan suka mencari perhatian. Haru sendiri tampak mengangguk mengerti. Aku tahu ia sebenarnya khawatir pada saudaranya, hanya saja tak begitu pintar mengekspresikannya.

“Apa yang akan kalian lakukan?” tanyaku kemudian. Keduanya bertatapan, seolah mencari kesepakatan dalam kerlingan sekilas tersebut. Entahlah, mungkin itulah keistimewaan dari saudara kembar. Mereka tahu keinginan satu sama lain bahkan tanpa mengutarakannya.

“Meminta maaf,” ucap keduanya bersamaan. Aku tersenyum kecil sebelum mendorong lembut kedua tubuh mungil di hadapanku.

“Kalau begitu lakukanlah,” mereka mengangguk singkat kemudian berlari ke arah teman-teman mereka di kolam pasir. Kuharap dengan begini Ibu akan bangga terhadapku, bahkan Ayah yang dulu sering mengajariku demikian.

Aku begitu terhanyut dengan kedua adikku hingga baru menyadari sosok yang memandangiku dari samping.

“Apa yang kau lihat?”

“Masa depanku?”

“Hah?” seketika aku menengok ke samping kiri, mencari tahu apa yang dimaksud Kyungsoo.

“Dimana?”

🙂 🙂 🙂

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s