Beranda » D.O » Silence (ch.4)

Silence (ch.4)

silence2

Ch.4 The Young Daddy 2

 

Ibu bilang, ketika seseorang memilih untuk diam, ada kalanya ia tak ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan, tak ingin mengatakan yang sebenarnya, tak punya jawaban atas suatu pertanyaan, atau simple, karena diam sudah cukup mewakili jawaban atas semua pertanyaan.

Aku tidak tahu, yang mana dari keempat hal ini yang merupakan alasan Kyungsoo terdiam tapi yang pasti ketika hal seperti ini terjadi, ibu selalu bilang untuk tidak ikut campur dan menggali lebih jauh. Jadi itulah yang akan kulakukan.

“Setidaknya mengganti popok adalah pengetahuan wajib yang harus diketahui oleh seorang ayah! Dan tunggu sampai bayi ini tertidur baru kau bisa menggendongnya,” ucapku sambil menimang-nimang bayi di pelukanku. Kyungsoo menatapku bingung sebelum akhirnya bernafas lega. Ia tersenyum kecil sambil mengangguk malu.

“Bagaimana jika tadi aku tidak lewat?” tanyaku penasaran. Lelaki muda, bahkan bisa dibilang remaja karena baru dua tahun semenjak kelulusan kami dari bangku SMA, dan harus mengurus seorang bayi. Bagaimana dia bisa melakukannya? Dan kuliahnya?

“Aku memang berencana pergi ke rumahmu,” jawabannya semakin membuatku penasaran.

“Kau akan memerlukan waktu lama, dan bagaimana jika aku tidak ada di rumah?” Bagaimana jika terjadi apa-apa pada bayi ini saat dia pergi mencariku? Apa Kyungsoo tak berpikir sampai ke sana?

“Jika harus, aku akan mencarimu sampai ketemu, karena hanya kau satu-satunya harapanku.”

“Hah, kau bicara seolah tak ada tetangga lain yang bisa membantumu,” ucapku spontan, barulah saat menyadari sikap diamnya, aku tahu bahwa yang kuucapkan tidaklah salah. Terlebih dengan Kyungsoo yang kemudian menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.

Oh, inilah yang sering dikatakan ibu agar aku lebih peka dengan sekitarku. Tentu saja, warga di sini bahkan mengolok-oloknya karena skandal tersebut, bagaimana mungkin mereka mau mengulurkan tangan membantu Kyungsoo? Dan mungkin saja ia menganggapku cukup kompeten karena sering melihatku bersama Haru dan Bomi.

“Eumm… sepertinya bayi ini sudah tertidur,”

Kyungsoo seketika bangun dari posisi duduknya untuk menyiapkan tempat tidur sang bayi. Aku mengernyit menatap hasil prakaryanya. Sepertinya Kyungsoo lupa bahwa yang kugendong adalah seorang bayi dan bukan seorang dewasa yang membutuhkan bantal dan guling untuk tidur.

“Pegang ini,” ucapku sambil menyerahkan sang bayi padanya. Kyungsoo tampak terkejut namun tetap menerima bayi ke dalam pelukannya.

Aku membersihkan barang-barang yang tak perlu di tempat tidurnya, menjadikan guling besarnya sebagai batasan agar sang bayi tak terjatuh, mengganti bed covernya dengan selimut yang lebih tipis namun cukup hangat untuk sang bayi, memberi alas pada bagian belakang tubuh bayi, dan memberi tumpuan tipis di kepalanya agar bayi tetap merasa nyaman.

Setelah mengambil bayi dari gendongan Kyungsoo dan menempatkannya ke kasur barunya yang lebih hangat dan nyaman. Aku berganti membereskan tempat tidur Kyungsoo yang berantakan. Entahlah apa yang dilakukannya selama ini, tapi kondisi kamar yang kotor dan tak ada aliran udara tidaklah baik untuk bayi. Ya Tuhan… apa yang harus kulakukan pada ayah muda ini???

“Aku akan memberimu list apa yang boleh dan tak boleh kau lakukan selama aku tak ada, mengerti!”

Gomawo, Nara-yah…”

Oh Tuhan… apa yang kulakukan?

 

tbc

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s