Beranda » D.O » Silence (ch.3)

Silence (ch.3)

silence2

Ch.3 The Young Daddy

 

“Iya Ibu, aku sudah mengantar Haru dan Bomi ke sekolah mereka. Hari ini tidak ada mata kuliah jadi aku—“

“Nara-sshi!”

Aku membelalak kaget ketika sosok Kyungsoo tiba-tiba sudah berada di depanku dengan napas terengahnya. Aku tak menyangka pertemuan kami akan secepat itu sejak kejadian malam tersebut. Tapi hal itu bukannya tak mungkin ketika jalan di depan rumahnya adalah satu-satunya aksesku menuju ke kota.

W-waeyo?”

“Nara? Kau mendengarku? Yah, Kwon Nara!!” terikan Ibu dari ujung telepon membuatku tersadar bahwa ada seseorang diujung sana yang masih berbicara denganku.

“N-nee Eomma, aku lupa belum mematikan kompor, bye!” ucapku singkat sebelum mematikan ponsel di tanganku.

“Untung kau lewat… Kujelaskan nanti!”

Sebelum sempat menjawab, Kyungsoo lebih dulu menyambar pergelangan tanganku dan menarikku agar mengikutinya ke dalam rumahnya. Aku sendiri tak sadar jika sudah berada di depan rumahnya. Aku sedang dalam perjalan pulang selepas mengantar Haru dan Bomi ke sekolah mereka kala Ibu menelponku, dan saat itulah sosok Kyungsoo tiba-tiba muncul di depanku.

“Ada apa sebenarnya?” tanyaku terengah setelah Kyungsoo akhirnya berhenti dan melepaskan pergelangan tanganku. Harusnya aku gugup karena ini kali pertama aku memasuki rumahnya, tapi dalam kondisi seperti ini hal itu tak lagi jadi prioritas utama.

“Itu juga yang ingin kutanyakan,” ucapnya sedikit berbisik yang membuatku sedikit menelengkan kepala agar bisa mendengarnya. Aku mengikutinya ketika ia berjalan melambar ke sebuah kamar, dan ketika semakin dekat, suara tangis tersebut makin terdengar jelas.

“Omo!!” refleksku seketika menghampiri sosok mungil yang menangis keras di atas ranjang king size di dalam kamar tersebut. Jantungku pasti berdetak sangat keras hingga baru menyadari ada sesosok rapuh yang menangis keras di dalam sini, sedangkan Kyungsoo sepertinya terlalu gugup untuk menjelaskannya.

“Aku tidak tahu ada apa dengannya, semalam ia baik-baik saja, tapi pagi ini ia tak hentinya menangis, aku tak tahu harus berbuat apa…”

Aku bersyukur kehadiran Haru dan Bomi membuatku terbiasa dengan anak kecil, tak terkecuali seorang bayi. Seketika aku mencoba mengecek kondisinya. Saat telapak tanganku menyentuh dahinya, suhu tubuhnya hangat, normal untuk ukuran seorang bayi. Kuambil botol susu yang terletak di nakas sebelah tempat tidur dan memberikannya pada bayi di dekapanku, sayangnya ia tetap saja menangis.

Aku sempat bingung harus berbuat apa sampai kemudian memutuskan untuk mengambil bayi tersebut dari selimut tebalnya dan menimang-nimangnya. Betapa terkejutnya ketika kudapati bagian bawah tubuh bayi tersebut sudah basah kuyup. Sepertinya selimut tebal tersebut menghalangi air sampai ke permukaan. Tapi harusnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru untuk seorang ibu selalu mengecek popok anaknya. Siapa yang harus kusalahkan ketika sejak awal Kyungsoo memang bukan seorang Ibu.

“Kenapa kau tidak mengecek popoknya?”

“E-eh?”

Jika saja bukan karena ekspresi –ah-benar-juga-kenapa-hal-itu-tak-terpikirkan-olehku-sebelumnya— yang ditunjukkannya, aku sudah mengomelinya habis-habisan. Sayangnya senyum malu-malunya hanya bisa membuatku mendengus kesal.

“Mian…”

“Sudahlah… ambilkan popoknya, biar kugantikan.”

Kyungsoo segera beranjak dari posisi duduknya di tepi tempat tidur dan mengambil perlengkapan bayi. Aku heran bagaimana bisa ia mendapatkan semuanya itu dalam waktu singkat, sepertinya kemajuan teknologi sangat membantunya kali ini.

Kyungsoo kembali duduk setelah memberikan perlengkapan bayi tersebut padaku.  Sebelumnya aku tak sadar jika ia memperhatikanku mengganti popok si bayi sampai akhirnya ia membuka mulutnya.

“Kenapa kau mengajaknya bicara?”

“Huh? Emm… entahlah, sudah kebiasaanku, kupikir hal itu bisa membuat perhatiannya teralih?” ucapku tanpa mengalihkan perhatian dari sosok mungil dihadapanku.

Kyungsoo hanya mengangguk kecil sambil terus memperhatikanku. Sepertinya ia bertekad untuk tahu cara menangani bayi. Setidaknya untuk saat ini, ia tampak lega kala bayi tersebut akhirnya berhenti menangis.

“Kau ingin menimangnya?” tanyaku saat melihat raut berharapnya saat aku menimang-nimang bayi tersebut.

“Boleh?” tanyanya antusias

“Tentu saja boleh, kau kan Ayahnya,” sahutku seketika. Untuk apa dia menanyakan pertanyataan yang sudah sangat jelas jawabannya itu? Kecuali jika ia hanyalah… orang asing?

Sulit membedakan mata membelalak ketika matamu sudah sangat besar, sayangnya hal itu tak luput dari penglihatanku. Meskipun hanya sekilas, aku sempat melihat Kyungsoo yang membelalak terkejut sebelum kembali ke ekspresinya semula. Aku menepis tangannya ketika ia hendak meraih bayi dalam pelukanku.

“Kau bukan ayahnya kan?”

 

tbc

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s