Silence (ch.5)

silence2

 

Ch.5 The Young Daddy 3

 

Pada akhirnya, akulah yang praktis merawat bayi mungil Kyungsoo. Ya, dia memang melakukan ‘list apa saja yang boleh dan tak boleh dilakukan’ yang kutuliskan detil padanya, tapi kemudian dia tak akan sempat mencuci baju, memasak untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar memejamkan matanya sejenak. Karena seperti bayi pada umumnya, bayi Kyungmi –begitulah Kyungsoo menamainya— cukup rewel dan tak pernah tertidur lama.

Itu bahkan setelah Kyungsoo memutuskan untuk menyerah pada kuliahnya dan fokus mengurus Kyungmi. Aku tak mungkin mencegah keputusannya ketika itulah yang terbaik untuk semua. Sejak pertama ia memutuskan untuk merawat Kyungmi, inilah konsekuensi yang harus diterimanya karena tak mungkin menomorduakan bayi semungil itu dengan hal lainnya.

Aku hanya bisa membantu merawat Kyungmi ketika Baca lebih lanjut

Iklan

Silence (ch.4)

silence2

Ch.4 The Young Daddy 2

 

Ibu bilang, ketika seseorang memilih untuk diam, ada kalanya ia tak ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan, tak ingin mengatakan yang sebenarnya, tak punya jawaban atas suatu pertanyaan, atau simple, karena diam sudah cukup mewakili jawaban atas semua pertanyaan.

Aku tidak tahu, yang mana dari keempat hal ini yang merupakan alasan Kyungsoo terdiam tapi yang pasti ketika hal seperti ini terjadi, ibu selalu bilang untuk tidak ikut campur dan menggali lebih jauh. Jadi itulah yang akan kulakukan.

“Setidaknya mengganti popok adalah pengetahuan wajib yang harus diketahui oleh seorang ayah! Dan tunggu sampai bayi ini tertidur baru kau bisa menggendongnya,” ucapku sambil menimang-nimang bayi di pelukanku. Kyungsoo menatapku bingung sebelum akhirnya bernafas lega. Ia tersenyum kecil sambil mengangguk malu.

“Bagaimana jika tadi aku tidak lewat?” tanyaku penasaran. Lelaki muda, bahkan bisa dibilang remaja karena baru dua tahun semenjak kelulusan kami dari bangku SMA, dan harus mengurus seorang bayi. Bagaimana dia bisa melakukannya? Dan kuliahnya?

“Aku memang berencana pergi ke rumahmu,” jawabannya semakin membuatku penasaran.

“Kau akan memerlukan waktu lama, dan bagaimana jika aku tidak ada di rumah?” Bagaimana jika terjadi apa-apa pada bayi ini saat dia pergi mencariku? Apa Kyungsoo tak berpikir sampai ke sana?

“Jika harus, aku akan mencarimu sampai ketemu, karena hanya kau satu-satunya harapanku.”

“Hah, kau bicara seolah tak ada tetangga lain yang bisa membantumu,” ucapku spontan, barulah saat menyadari sikap diamnya, aku tahu bahwa yang kuucapkan tidaklah salah. Terlebih dengan Kyungsoo yang kemudian menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.

Oh, inilah yang sering dikatakan ibu agar aku lebih peka dengan sekitarku. Tentu saja, warga di sini bahkan mengolok-oloknya karena skandal tersebut, bagaimana mungkin mereka mau mengulurkan tangan membantu Kyungsoo? Dan mungkin saja ia menganggapku cukup kompeten karena sering melihatku bersama Haru dan Bomi.

“Eumm… sepertinya bayi ini sudah tertidur,”

Kyungsoo seketika bangun dari posisi duduknya untuk menyiapkan tempat tidur sang bayi. Aku mengernyit menatap hasil prakaryanya. Sepertinya Kyungsoo lupa bahwa yang kugendong adalah seorang bayi dan bukan seorang dewasa yang membutuhkan bantal dan guling untuk tidur.

“Pegang ini,” ucapku sambil menyerahkan sang bayi padanya. Kyungsoo tampak terkejut namun tetap menerima bayi ke dalam pelukannya.

Aku membersihkan barang-barang yang tak perlu di tempat tidurnya, menjadikan guling besarnya sebagai batasan agar sang bayi tak terjatuh, mengganti bed covernya dengan selimut yang lebih tipis namun cukup hangat untuk sang bayi, memberi alas pada bagian belakang tubuh bayi, dan memberi tumpuan tipis di kepalanya agar bayi tetap merasa nyaman.

Setelah mengambil bayi dari gendongan Kyungsoo dan menempatkannya ke kasur barunya yang lebih hangat dan nyaman. Aku berganti membereskan tempat tidur Kyungsoo yang berantakan. Entahlah apa yang dilakukannya selama ini, tapi kondisi kamar yang kotor dan tak ada aliran udara tidaklah baik untuk bayi. Ya Tuhan… apa yang harus kulakukan pada ayah muda ini???

“Aku akan memberimu list apa yang boleh dan tak boleh kau lakukan selama aku tak ada, mengerti!”

Gomawo, Nara-yah…”

Oh Tuhan… apa yang kulakukan?

 

tbc

Silence (ch.3)

silence2

Ch.3 The Young Daddy

 

“Iya Ibu, aku sudah mengantar Haru dan Bomi ke sekolah mereka. Hari ini tidak ada mata kuliah jadi aku—“

“Nara-sshi!”

Aku membelalak kaget ketika sosok Kyungsoo tiba-tiba sudah berada di depanku dengan napas terengahnya. Aku tak menyangka pertemuan kami akan secepat itu sejak kejadian malam tersebut. Tapi hal itu bukannya tak mungkin ketika jalan di depan rumahnya adalah satu-satunya aksesku menuju ke kota.

W-waeyo?”

“Nara? Kau mendengarku? Yah, Kwon Nara!!” terikan Ibu dari ujung telepon membuatku tersadar bahwa ada seseorang diujung sana yang masih berbicara denganku.

“N-nee Eomma, aku lupa belum mematikan kompor, bye!” ucapku singkat sebelum mematikan ponsel di tanganku.

“Untung kau lewat… Kujelaskan nanti!”

Sebelum sempat menjawab, Kyungsoo lebih dulu menyambar pergelangan tanganku dan menarikku agar mengikutinya ke dalam rumahnya. Aku sendiri tak sadar jika sudah berada di depan rumahnya. Aku sedang dalam perjalan pulang selepas mengantar Haru dan Bomi ke sekolah mereka kala Ibu menelponku, dan saat itulah sosok Kyungsoo tiba-tiba muncul di depanku.

“Ada apa sebenarnya?” tanyaku terengah setelah Kyungsoo akhirnya berhenti dan melepaskan pergelangan tanganku. Harusnya aku gugup karena ini kali pertama aku memasuki rumahnya, tapi dalam kondisi seperti ini hal itu tak lagi jadi prioritas utama.

“Itu juga yang ingin kutanyakan,” ucapnya sedikit berbisik yang membuatku sedikit menelengkan kepala agar bisa mendengarnya. Aku mengikutinya ketika ia berjalan melambar ke sebuah kamar, dan ketika semakin dekat, suara tangis tersebut makin terdengar jelas.

“Omo!!” refleksku seketika menghampiri sosok mungil yang menangis keras di atas ranjang king size di dalam kamar tersebut. Jantungku pasti berdetak sangat keras hingga baru menyadari ada sesosok rapuh yang menangis keras di dalam sini, sedangkan Kyungsoo sepertinya terlalu gugup untuk menjelaskannya.

“Aku tidak tahu ada apa dengannya, semalam ia baik-baik saja, tapi pagi ini ia tak hentinya menangis, aku tak tahu harus berbuat apa…”

Aku bersyukur kehadiran Haru dan Bomi membuatku terbiasa dengan anak kecil, tak terkecuali seorang bayi. Seketika aku mencoba mengecek kondisinya. Saat telapak tanganku menyentuh dahinya, suhu tubuhnya hangat, normal untuk ukuran seorang bayi. Kuambil botol susu yang terletak di nakas sebelah tempat tidur dan memberikannya pada bayi di dekapanku, sayangnya ia tetap saja menangis.

Aku sempat bingung harus berbuat apa sampai kemudian memutuskan untuk mengambil bayi tersebut dari selimut tebalnya dan menimang-nimangnya. Betapa terkejutnya ketika kudapati bagian bawah tubuh bayi tersebut sudah basah kuyup. Sepertinya selimut tebal tersebut menghalangi air sampai ke permukaan. Tapi harusnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru untuk seorang ibu selalu mengecek popok anaknya. Siapa yang harus kusalahkan ketika sejak awal Kyungsoo memang bukan seorang Ibu.

“Kenapa kau tidak mengecek popoknya?”

“E-eh?”

Jika saja bukan karena ekspresi –ah-benar-juga-kenapa-hal-itu-tak-terpikirkan-olehku-sebelumnya— yang ditunjukkannya, aku sudah mengomelinya habis-habisan. Sayangnya senyum malu-malunya hanya bisa membuatku mendengus kesal.

“Mian…”

“Sudahlah… ambilkan popoknya, biar kugantikan.”

Kyungsoo segera beranjak dari posisi duduknya di tepi tempat tidur dan mengambil perlengkapan bayi. Aku heran bagaimana bisa ia mendapatkan semuanya itu dalam waktu singkat, sepertinya kemajuan teknologi sangat membantunya kali ini.

Kyungsoo kembali duduk setelah memberikan perlengkapan bayi tersebut padaku.  Sebelumnya aku tak sadar jika ia memperhatikanku mengganti popok si bayi sampai akhirnya ia membuka mulutnya.

“Kenapa kau mengajaknya bicara?”

“Huh? Emm… entahlah, sudah kebiasaanku, kupikir hal itu bisa membuat perhatiannya teralih?” ucapku tanpa mengalihkan perhatian dari sosok mungil dihadapanku.

Kyungsoo hanya mengangguk kecil sambil terus memperhatikanku. Sepertinya ia bertekad untuk tahu cara menangani bayi. Setidaknya untuk saat ini, ia tampak lega kala bayi tersebut akhirnya berhenti menangis.

“Kau ingin menimangnya?” tanyaku saat melihat raut berharapnya saat aku menimang-nimang bayi tersebut.

“Boleh?” tanyanya antusias

“Tentu saja boleh, kau kan Ayahnya,” sahutku seketika. Untuk apa dia menanyakan pertanyataan yang sudah sangat jelas jawabannya itu? Kecuali jika ia hanyalah… orang asing?

Sulit membedakan mata membelalak ketika matamu sudah sangat besar, sayangnya hal itu tak luput dari penglihatanku. Meskipun hanya sekilas, aku sempat melihat Kyungsoo yang membelalak terkejut sebelum kembali ke ekspresinya semula. Aku menepis tangannya ketika ia hendak meraih bayi dalam pelukanku.

“Kau bukan ayahnya kan?”

 

tbc