Beranda » D.O » Silence (ch1)

Silence (ch1)

silence2

Ch.1 The Weird Neighbor

“Annyeong…”

Aku kasihan pada Do Kyungsoo, seandainya saja ia tahu seperti apa karakter Yumi, anak bungsu Ketua RT kami. Ia pasti tak akan menyia-nyiakan suaranya untuk menyapa gadis pemalu itu, karena seperti biasa, Han Yumi hanya menatap sekilas sosok yang menyapanya sebelum menunduk, membiarkan rambut hitam panjangnya menutupi wajahnya, dan berlalu begitu saja.

Anehnya bukan raut kecewa, hanya ekspresi bingung yang kemudian menghiasi wajahnya, sebelum kembali mengulas senyum saat menyadari sosokku yang berada tak jauh di belakang Yumi.

“Ah annyeong Nara-sshi..,” ucapnya sambil tersenyum simpul.

“Annyeong…” jawabku sambil membungkuk kecil.

“Yang baru saja lewat tadi Han Yumi, anak Ketua RT, bukan maksudnya mengacuhkanmu, ia hanya seorang yang pemalu,” ucapku, merasa perlu mengklarifikasi kejadian tadi. Yang membuatku heran adalah jawabannya.

“Aku tahu, gomawoyo…” ucapnya sebelum berlalu setelah mengucapkan salam perpisahan.

Dia tahu? Lalu kenapa masih menyapanya?

Daerah kami mungkin bukan area perkotaan, tapi orang-orang di sini berperilaku seperti orang kota. Kami tak banyak berinteraksi lantaran sibuk dengan sekolah dan pekerjaan, dan malam hari hanya digunakan untuk berkumpul dengan keluarga di rumah masing-masing. Orang-orang di sini termasuk individual, itulah kenapa agak aneh ketika Do Kyungsoo yang justru pindahan dari Seoul bersikap sok akrab dengan selalu menyapa orang-oarang yang di temuinya.

Do Kyungsoo tak mendapat sambutan yang cukup baik saat pindah ke kota kami. Hanya karena persepsi pemuda Seoul yang melekat di benak orang-orang dan kepindahannya yang seorang diri, membuat warga tak begitu antusias. Mereka takut jika Kyungsoo menyebar virus bad boy dari Seoul, padahal aku yakin Kyungsoo jauh lebih beradab dibanding pemuda asli daerah kami.

Kyungsoo tinggal tak jauh dari rumahku, di rumah neneknya dan kebetulan kami juga kuliah di tempat yang sama, itulah kenapa setidaknya aku cukup mengenalnya.

Tak seperti yang dikhawatirkan orang-orang, Kyungsoo sangat jauh dari predikat bad boy. Memangnya bad boy mana yang hampir setiap hari lari pagi? Sejak kapan bad boy menenteng dua kantung belanjaan sayur-mayur di kedua tangannya? Apa tersenyum cerah dan membantu seorang nenek menyeberang jalan termasuk keseharian bad boy?

Aku tak tahu apa yang dipikirkan warga di sini, tapi mungkin mereka hanya tak mau mengakui bahwa pemuda Seoul jauh lebih baik dan berbudi daripada mereka sendiri.

“Kenapa kau masih berdiri di situ?”

Aku mendongak kala mendengar sebuah suara dari atasku. Sepertinya aku terlalu banyak berpikir hingga tak menyadari kalau sedari tadi aku masih berdiri mematung di depan rumah Kyungsoo. Hal ini semakin memalukan kala sang pemilik rumah menegur langsung dari jendela lantai dua yang mungkin saja kamarnya.

“A-aniyo!” seruku terbata, sebelum menunduk dan kembali berjalan sambil mengingat-ingat apa tujuanku tadi keluar rumah malam-malam.
Pabo! Ibu akan membunuhku kalau kecapnya tidak sampai-sampai!!!

tbc

sortfic ya sortfic 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s