Beranda » Angst » (FF) But, I Love You Ch. 4

(FF) But, I Love You Ch. 4

BILY 2 copy

Ch.4

Naeun hanya bisa mendesah kesal kala hasil ujian ekonominya lagi-lagi tak sesuai dengan harapannya. Ia mungkin pandai dalam berhitung tapi entah kenapa untuk hitungan uang  sama sekali sulit merasuk ke otaknya. Ia lebih memilih angka di bawah nol daripada menghitung nol yang jumlahnya tak terhingga.

Masalahnya dengan Jongin dan keluarganya akhir-akhir ini juga tak membantu. Ia tetap bersikukuh bersikap dingin pada Jongin dan itu hanya membuatnya semakin terluka ketika melihat raut sedih lelaki itu.

“Eottokae?” gumamnya sambil membentur-benturkan pelan dahinya di permukaan dingin lokernya. Entah sejak kapan hidupnya begitu bertolak dengan semua yang direncanakannya. Akademik adalah salah satu yang dibanggakannya selain dari kecintaannya pada dunia jurnalistik, Naeun tak mungkin menyerah begitu saja pada prestasinya.

“65? Seriously, Naeun? Tidak bisa lebih buruk lagi?”

Naeun tidak tahu jika ia seceroboh itu hingga membiarkan sosok yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya itu dengan mudah melihat nilai di lembaran kertas di tangannya. Reaksi pertamanya tentu saja, mendesah keras sebelum dengan kasar menghempaskan kertas ujiannya ke dalam loker dan membalik badannya untuk menghadapi Oh Sehun.

“Apa masalahmu?”

“Ckck, aku yakin bahkan Jongin lebih baik dari itu.”

“Hei, aku tidak seburuk itu.”

Well, bahkan Jongin tidak seburuk itu.”

Naeun membelalakkan matanya lebar ketika menyadari siapa sosok dibalik tubuh kurus Sehun. Ia mengerang dalam hati, bagaimana bisa ia melewatkan sosok tinggi besar itu dan membiarkannya melihat nilai terburuknya?

It’s okay, Naeun, tidak ada salahnya sesekali mendapat nilai sedikit rendah.”

Naeun tahu Jongin hanya mencoba menghiburnya, sayangnya ia terlalu malu. Di antara semua nilai terbaiknya kenapa Jongin harus melihat nilai Ekonominya? Naeun tidak tahu pasti tapi jika yang dikatakan Sehun benar, sepertinya Jongin termasuk dalam kuda hitam di kelasnya, dan mendapati nilainya lebih buruk daripada Jongin, hanya semakin merendahkan harga dirinya.

“Tidak masalah buatmu, tapi tidak buatku,” ucapnya sinis yang membuat senyum di bibir Jongin segera pudar. Naeun tidak bermaksud menyakiti perasaan Jongin hanya saja sepertinya tubuhnya seolah sudah terprogram untuk secara otomatis membalas kasar apapun yang lelaki itu ucapkan.

Naeun tidak tahu harus berbuat apa. Terjebak dalam suasana kaku tersebut bukanlah keinginannya. Satu-satunya keahliannya adalah melarikan diri, tapi akan sulit ketika kedua lelaki itu seolah memojokkannya dan tak memberinya jalan keluar.

Oppa bisa mengajarimu jika kau mau?”

Tidak pernah Naeun sebersyukur itu atas kehadiran Sehun. Bukan terhadap apa yang lelaki itu katakan tapi simpel, pada usahanya mencoba mencairkan suasana di antara mereka. Jongin-pun tampak menghembuskan nafas lega. Mungkin ia sendiri juga telah kehabisan kata menghadapi sikap Naeun.

“Terima kasih tapi aku tidak mau bunuh diri,” jawabnya acuh dan seperti biasa sidiran apapun yang dilontarkan Naeun pada Sehun hanya akan masuk telinga kanannya dan keluar di telinga kiri. Lelaki itu benar-benar bermuka tebal. Sehun hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya ringan.

“Kau tidak berpikir bahwa aku bodoh kan?” tanyanya menyelidik, dan kedikan acuh pada bahu Naeun hanya membuat amarahnya terpancing.

“Yah, Son Naeun?!”

“Apa lagi memangnya?” jawab Naeun santai.

Dilihat dari arah manapun, Naeun ragu jika Sehun pernah menggunakan otaknya untuk berpikir. Well, jangan salahkan Naeun jika selama ini yang lelaki itu lakukan terhadapnya hanyalah menggangunya. Jika saja Naeun tahu bahwa Oh Sehun yang sesungguhnya tak pernah sudi menghabiskan waktu berharganya untuk sesuatu yang tak berguna, terlebih untuk seorang gadis. Para gadislah yang mengemis-ngemis meminta waktunya dan bukan sebaliknya. Siapa yang sangka jika Oh Sehun akan dengan suka rela menawarkan diri untuk mengajarinya Ekonomi.

“Apa kau tidak pernah melihat nilai orang lain selain nilaimu sendiri saat pengumuman peringkat?” tanya Sehun tak percaya.

“Apa untungnya buatku?”

“Jangan terkejut ketika mendapati nama OH SEHUN berada di jajaran sepuluh besar,” lanjut Sehun sambil menegaskan namanya sendiri.

Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan mengeluarkan seringai tipisnya menanti ekspresi tak percaya Naeun. Sayangnya momen itu tak kunjung datang ketika Naeun justru memandangnya seolah ia adalah orang gila. Orang gila bodoh yang bermimpi dirinya masuk sepuluh besar. Saat itulah Sehun tahu gadis didepannya sama sekali tak mempercayainya.

“Hmm… Aku juga tidak percaya sebelumnya tetapi Sehun tidak seburuk itu, Naeun,” ucap Jongin mencoba menimpali. Ia merasa sedikit terlupakan saat kedua orang dihadapannya beradu argument ketus.

“Sepuluh besar, Man!!! Bagaimana bisa kau menyebutnya buruk jika peringkatmu saja umph—“ Jongin dengan sigap menutup rapat mulut Sehun sebelum lelaki itu sempat membocorkan peringkat memalukannya.

Naeun tidak peduli dengan tingkah konyol kedua idiot tersebut, yang membuatnya menyipitkan mata menatap Sehun adalah setelah mendengar penuturan Jongin. Seolah dengan menatap tajam Sehun akan membuatnya mendapat jawaban.

Jika yang dikatakan kedua lelaki itu memang benar, berarti penilaiannya selama ini terhadap Sehun sepertinya keliru. Hanya saja ide bahwa Oh Sehun termasuk dalam peringkat sepuluh besar sama sekali tak bisa diterima akal sehatnya. Bagaimana bisa lelaki selengekan itu termasuk dalam jajaran tingkat atas akademika ketika dirinya sendiri sangatlah sulit mencapainya?

“No no no, that’s impossible,” gumamnya pada dirinya sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kedua orang yang sepertinya masih asik pada dunianya sendiri hingga tak menyadari bahwa Naeun sudah tak ada lagi di depan lokernya.

***

“Impossible…” Naeun menggeleng tak percaya. Berharap bahwa apa yang dilihatnya di jurnal akademik siswa di perpustakaan sekolah tidaklah benar. Sayangnya berapa kali pun ia me-reload, hasilnya akan tetap sama.

Wae?” tanya Jisoo dari belakang bahunya.

Park Saem yang seharusnya mengajar di kelas mereka sedang berhalangan hadir dan guru piket yang menggantikannya menyuruh para siswa di kelasnya untuk mengerjakan sebuah essai dari data-data di perpustakaan untuk dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya.

Alhasil, tentu saja lebih banyak dari mereka yang bertebaran di perpustakaan hanya untuk mengobrol satu-sama lain, mendengarkan musik, atau simpel, hanya untuk tidur, dan Naeun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengecek kebenaran ucapan Sehun. Bagaimana pun ucapan lelaki itu tak bisa begitu saja dihiraukannya, tidak jika ada Jongin yang mem-back up-nya.

“Haha… kau pasti mengira mereka para idiot kan?” lanjut Jisoo ketika menyadari apa yang sahabatnya sibuk lakukan sedari tadi di depan komputer.

Ia tahu apa yang Naeun pikirkan ketika melihat barisan nama-nama di depan layar komputer tersebut. Naeun pasti mengira bahwa para anggota klub basket adalah total idiot. Itu juga yang dulu sempat dipikirkannya tapi pergaulannya yang luas membuatnya mendengar kabar prestasi gemilang mereka di bidang akademik. Ia heran bagaimana bisa Naeun tidak mendengarnya jika hampir setiap gadis yang Jisoo temui tak hentinya membangga-banggakan prestasi idola mereka itu.

“Ba-bagaimana bisa?”

Benar sekali, Sehun berada di peringkat sepuluh besar, lebih tepatnya di peringkat Sembilan. Tapi yang membuatnya semakin tak percaya adalah fakta bahwa nama kapten tim basket bertengger manis di urutan ke lima dan manajer mereka di peringkat tujuh.

Ia masih sedikit percaya jika Do Kyungsoo yang tampaknya intelektual itu memperoleh peringkat tujuh tapi PARK CHANYEOL??? Bagaimana bisa complete idiot itu berada di barisan paling depan? Tak hanya itu, nama-nama seperti Kris, Junhoe, Junhong juga tak berada jauh di di belakang mereka meskipun beberapa nama lainnya yang ia kenal terpuruk di barisan akhir, termasuk Jongin. How on Earth??

“Aku juga tidak tahu. Jika ingin protes, proteslah pada Tuhan, yang membuat makhluk semenyebalkan Park Chanyeol,” ucap Jisoo diiringi tawa gelinya saat melihat ekspresi tak percaya Naeun.

Seolah tampang di atas rata-rata dan kemampuan gemilang di lapangannya tidak membuatnya puas, Park Chanyeol ternyata juga brilian di lapangan. Naeun menggeleng pelan, bagaimana bisa seseorang seserakah itu? Inilah yang memunculkan rasa iri hati pada sesama. Kadang Naeun merasa Tuhan tidak adil dengan memberikan semua cintanya pada makhluk tertentunya saja. Dan kenyataan bahwa Oh Sehun berada hanya beberapa tingkat di bawah Chanyeol hanya membuatnya semakin kesal.

“Pantas saja dia begitu percaya diri,” gumamnya ringan.

Nugu? Park Chan-Yoda??Naeun mendongak ketika menyadari Jisoo yang masih ada di belakangnya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga sempat melupakan kehadiran gadis itu.

Ani… Oh Sehun,” jawabnya ragu. Apapun itu yang ada dipikiran Jisoo membuat Naeun tak nyaman. Ia tahu pasti ada sesuatu yang dipikirkannya.

Spill it!” pinta Naeun tak sabar yang membuat Jisoo tertawa kecil.

“Sebenarnya aku tidak mempercayainya, tapi mereka bilang kau menduakan Jongin untuk berpaling pada Sehun, apa itu benar?” tanya Jisoo sambil menggerak-geraknya kedua alisnya dengan jenaka.

Tak akan ada asap jika tidak ada api, Jisoo yakin ada sesuatu yang membuat kabar itu santer terdengar. Selama ini jika ia mengamati, Sehun memang bersikap berbeda terhadap Naeun, sayangnya Naeun terlalu buta oleh Jongin hingga tak pernah menyadarinya. Jisoo tak pernah berniat menanyakannya, hanya mengamati dan mencoba mengambil sendiri kesimpulannya tapi sepertinya semua itu tak membuatnya puas. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi antara Sehun dan Naeun.

“What the —“ ucapan Naeun terpotong saat melihat petugas perpustakaan yang menatapnnya tajam. Sepertinya ia lupa jika mereka masih berada di perpustakaan. Keduanya membungkuk meminta maaf sebelum kembali melanjutkan diskusi mereka dengan berbisik.

Shit, Jisoo, darimana kabar sampah seperti itu kau dengar? Sungguh aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sehun, dan kau bilang menduakan Jongin? Apa kau bercanda???”

Rileks, oke… aku hanya bertanya, dan melihat reaksimu kenapa aku justru berpikir yang berbeda ya?” Jisoo tahu Naeun tidak berbohong padanya, ia hanya menikmati ekspresi kesal gadis itu saat mencoba meyakinkannya. Sejujurnya Jisoo justru senang jika kabar itu memang benar. Ia tidak suka mengakuinya tapi Sehun sepertinya jauh lebih baik daripada Jongin.

“Membayangkannya saja membuatku ingin muntah,” jawab Naeun yang kemudian memilih menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangan dari Jisoo.

“Sehun tidak seburuk kelihatannya, Naeun. Kau lihat sendiri prestasinya dan lihatlah siapa yang terpuruk di barisan akhir,” ucap Jisoo yang semakin membuat Naeun kesal.

Bagaimana bisa gadis itu membandingkan Sehun dengan Jongin? Sebenci apapun ia pada Jongin, lelaki itu tetaplah cinta pertamanya, ia tidak akan senang jika mendengar orang lain menjelek-jelekkan Jongin, apalagi sahabatnya sendiri. Jisoo yang melihat ekspresi gelap Naeun, segera bertindak dengan meyakinkan gadis itu.

“Hei, bukan seperti itu,” ucapnya sambil mengarahkan Naeun untuk kembali menatapnya.

“Aku tahu kau membenci Sehun tapi dengan hal ini cobalah untuk melihat sedikit kelebihannya. Kau tidak bisa menyukai seseorang jika hanya melihat keburukannya saja. Aku bukannya menyuruhmu untuk berpaling pada Sehun, hanya saja untuk saat ini sepertinya Sehun adalah pilihan terdekat.”

Naeun tahu Jisoo hanya bersikap peduli padanya. Jisoo tidak ingin ia terlalu lama meratapi kehilangannya pada Jongin. Tapi kenapa Oh Sehun? Lelaki itu hanya bisa menjahilinya saja. Tapi yang dikatakan Jisoo tidaklah salah, Sehun adalah pilihan terdekatnya selain dari para anggota jurnalistik, mengingat Naeun tidak pernah berinteraksi lebih dalam dengan lelaki lain di kelasnya.

“Tapi dia menyebalkan.”

“Tapi dia pintar Ekonomi kan?”

***

Naeun tidak pernah membayangkan dirinya menunggu dengan gugup di depan loker seseorang, bahkan tidak ketika ia masih menyimpan harapannya pada Jongin. Sayangnya Ekonomi sepertinya mengubah pikirannya. Bagaimanapun, ia butuh bantuan seorang Oh Sehun.

Aish… apa yang kulakukan…”

Jika bukan karena Jisoo yang mati-matian menyuruhnya meminta tolong pada Sehun, Naeun tidak akan mau melakukan hal memalukan tersebut. Hal pertama yang dilakukan Jisoo setelah bel pelajaran terakhir berbunyi tentu saja mendorongnya menuju loker Sehun.

“Tidak, tidak, lebih baik aku—“

“Naeun? Kau menungguku?”

Naeun hanya bisa merutuki nasib malangnya dalam hati ketika Jongin tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Bagaimana bisa ia lupa? Naeun bahkan tahu loker Sehun karena letaknya tepat bersebelahan dengan loker Jongin. Tidak aneh ketika pertemuan itu akhirnya tak bisa dihindari.

“Umm… aku—“

“Aha, Nada~ kau tidak lihat dia berdiri di depan lokerku, Kim Jongin-sshi?” potong Sehun cepat dengan gaya jenakanya, dan lagi-lagi Naeun hanya bisa bersyukur dalam hati karena Sehun secara tak langsung telah menyelamatkannya.

“Huh, kau bercanda? Untuk apa Naeun menunggumu?” ucap Jongin sambil menyandarkan tubuhnya di depan lokernya.

“Lalu untuk apa Naeun menunggumu?”

“Tentu saja untuk—“

“Sehun!” potong Naeun cepat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya akan dikatakan Jongin, tapi jika dugaannya memang benar, Naeun tidak ingin mengambil resiko Jongin membocorkan rahasia mereka. Ia menatap lelaki itu tajam sebelum mengalihkan pandangnnya pada Sehun.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

See? Apa kubilang? Haha…” Sehun tertawa mengejek sebelum mengalungkan tangannya ke bahu Naeun yang segera ditepisnya. Naeun sempat melihat raut terluka Jongin sebelum Sehun mengajaknya ke tempat yang lebih sepi untuk membicarakan maksudnya. Ia hanya mendesah pelan sebelum kembali menampakkan ekspresi kakunya pada Sehun.

“Kamis, sepulang sekolah, di perpustakaan,” ucapnya cepat yang membuat Sehun menatapnya tak mengerti. Ia bahkan tak benar-benar mendengar apa yang diucapkan Naeun.

M-mwo?”

“Ekonomi, kau bilang ingin mengajariku, kan?” lanjut Naeun tak sabar. Entah otak Sehun yang sedang lambat loading atau memang lambat loading, yang pasti Naeun hampir kehabisan kesabaran melihat ekspresi blank lelaki itu. Seolah apa yang diucapkannya bukanlah bahasa mereka.

“Ahhh… ohhh…” ucap Sehun akhirnya, sambil mengangguk memahami maksud Naeun.

“Aish…”

“Yah, tunggu!” Sehun tidak sadar kalau ternyata Naeun sudah pergi meninggalkannya. Ia melangkah cepat mengejar gadis itu.

 “Kau hanya memanggilku untuk itu?” tanyanya tak percaya, dan semakin tak percaya kala Naeun menjawabnya dengan mengangguk cepat. Sehun meraih lengan Naeun ketika gadis itu tak juga berhenti untuk menatapnya.

“Kenapa aku merasa kau hanya memanfaatkanku.”

“Seingatku kau yang menawarkan diri.”

“Iya, tapi bukan—“

“Jadi kau tidak mau?”

“Bukan begitu—“

“Ya sudah kalau begitu.”

Aish, woman!!” Sehun akhirnya menyerah ketika Naeun tak juga memberinya kesempatan bicara dan kini sekali lagi meninggakannya sendirian.

***

Karena takut tidak akan bertemu Sehun, Naeun lebih dulu bertemu lelaki itu sebelum menaruh buku-bukunya di lokernya sendiri. Sesuai dengan tingkatan, loker siswa juga dibedakan menjadi tiga. Loker siswa kelas tiga berada di gedung bagian timur, tempat paling strategis dan juga paling dekat dengan aktifitas para siswa kelas tiga. Tidak jauh di sebelahnya ada loker kelas dua, sedangkan loker kelas satu berada di bagian selatan gedung, mengingat aktifitas para siswa kelas pertama sebagian besar memang berada di gedung barat. Itulah kenapa Naeun harus berjalan jauh untuk kembali sampai ke lokernya.

Koridor tempat loker siswa berjajar memang selalu ramai, tapi Naeun tahu pasti bahwa tidak setiap saat tempat lokernya berada, dikerubungi para siswa. Terlebih setelah Jongin terang-terangan mengancam siapapun yang berani mendekati lokernya. Itulah kenapa ia mengerutkan dahinya bingung kala melihat kerumunan yang mulai memudar di sekitar lokernya. Tidak mungkin jika satu sekolah bersekutu untuk menyabotase lokernya kan?

Naeun hanya mencoba mengamati, toh bertanya dengan yang lain juga akan sia-sia, jika bukan tatapan benci, ia hanya akan memperoleh jawaban ketus dari teman-temannya. Sayangnya tak banyak informasi yang diperolehnya ketika kerumunan tersebut semakin memudar. Barulah ketika satu sosok yang dikenalnya masih bertahan di sana, Naeun berjalan cepat mendekatinya.

“Jisoo, hei ada sesuatu?” tanyanya sambil memegang lengan gadis itu, usahanya untuk menenangkan Jisoo. Naeun lebih tahu bahwa rona merah di wajah teman sekelasnya itu bukanlah ekspresi malu.

Emosi Jisoo sangat mudah tersulut tapi hal itu bukan berarti tanpa alasan. Bahkan Jisoo adalah salah seorang yang dikenalnya yang sangat mendahulukan logika. Tak mungkin gadis itu marah begitu saja tanpa alasan.

“So— ah, Ani, hanya masalah kecil biasa.”

Naeun mengernyitkan dahinya menatap gadis dihadapannya, ia yakin Jisoo hampir mengatakan sesuatu yang lain, seolah ada sesuatu yang membuat tenggorokannya tersumbat. Bahkan ekspresinya pun dalam sekejap berubah. Dari semula yang begitu kesal menjadi begitu gugup.

“Kau yakin? Kau bisa membicarakannya, kau tahu itu kan?” ucapnya mencoba meyakinkan. Jisoo tampak menatapnya ragu sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Bukan masalah besar, setidaknya jika dibandingkan dengan masalahmu dengan fans Jongin.”

Naeun tidak ingat jika akhir-akhir ini Jisoo pernah berseteru dengan orang lain, atau memang dirinya yang terlalu fokus pada masalahnya hingga tidak bisa melihat masalah yang dialami sahabatnya? Tapi dari cara Jisoo berkata demikian sepertinya gadis itu belum mau membicarakannya dengan Naeun, dan ia tidak ingin memaksa Jisoo.

Naeun mengangguk tak yakin. Ia harap memang tidak ada sesuatu yang serius. Ia mengalihkan tatapannya pada kerumunan yang sudah bergerak jauh. Seolah dengan mengamati kerumunan tersebut membuatnya mendapatkan sebuah clue. Sayangnya tidak banyak yang dikenalnya yang bisa dicurigainya, kecuali satu orang yang ia masih tak yakin telah melihatnya.

Soojung?


Author Notes:

Maafkan kemalasanku karena ga update-update >,<  (agak sulit jika konsentrasimu terbagi ke iKON n BTS haha)

aaaand disini aku cuma mau negasin kalo hubungan Naeun n Jongin lagi nggak baik. Naeun sedang dalam kondisi menghindari Jongin jadi jangan heran kalo interaksi mereka dikit banget

makasih buat yang baca and nyempetin komen, love you all ❤ ❤ ❤

Iklan

6 thoughts on “(FF) But, I Love You Ch. 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s