Beranda » Fan Fic » (ff) But, I Love You Ch 3b

(ff) But, I Love You Ch 3b

BILY 2 copy

Ch. 3B

Naeun yakin telah memutar otaknya hanya demi menghabiskan waktunya di luar, sayangnya hal itu sama sekali tak berarti bagi Jongin yang masih dengan setia menungguinya di ruang tamu. Ia bahkan bersikap ekstra hati-hati, antisipasinya jika saja Jongin benar menungguinya, setidaknya ia bisa lolos ke kamarnya tanpa lelaki itu menyadarinya. Sayangnya sepertinya Jongin telah memasang radar anti Naeun yang akan berbunyi jika ia berada di sekitar lelaki itu.

“Apa yang kau inginkan?” gerutu Naeun kesal, ia melipat tangannya di depan dada sebelum menyandarkan punggungnya pada pintu kamarnya. Naeun lebih baik menghentikan langkahnya daripada harus mengundang lelaki itu ke kamarnya.

“Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Naeun,” jawab Jongin mencoba bersikap tenang. Naeun mendengus kecil mendengarnya. Berhutang? As if! Siapa Jongin? Bahkan Naeun tidak pernah bercerita apapun pada ibunya sendiri.

“Kau yakin apa yang baru saja kau katakan? karena ibuku sendiri bahkan tidak pernah mendengar ceritaku.”

Rasa bersalah seketika menghampiri Jongin. Tidak butuh seorang jenius untuk mengetahui hubungan macam apa yang terjadi di antara Naeun dan ibunya, yang membuat Jongin memaklumi sikap dingin Naeun padanya. Jongin hanya mencoba bersikap peduli, seperti yang selalu ayahnya lakukan padanya. Ia sama sekali tak menyangka akan menyinggung perasaan Naeun.

“Bukan seperti itu Naeun…, Maaf, sungguh…”

“Sudahlah.” Naeun baru saja akan berbalik ketika Jongin kembali menghentikan langkahnya.

“Naeun, please… itu memalukan ketika kau memperlakukan teman-temanku begitu baik tapi padaku….” Jongin tidak menyelesaikan kalimatnya, ia tidak ingin mengingat kejadian tadi siang. Membanyangkan teman-temannya yang terlihat akrab dengan Naeun membuatnya sedikit iri. Sayangnya Naeun tidak melihatnya demikian, ia tertawa miris mendengar pengakuan lelaki di hadapannya.

“Sejak awal aku tahu, bahwa kau hanya peduli pada image-mu kan, Jongin?” balas Naeun sarkastis. Jongin menatapnya cukup lama, mencoba mencerna kalimat yang baru saja dikatakan Naeun.

“Mwo?”

“Ani!!!” serunya ketika menyadari maksud Naeun, sayangnya gadis itu sudah lebih dulu masuk ke kemarnya dan menguncinya rapat.

“Bukan begitu maksudku, Naeun… Aish!!!”

Berapa kalipun ia mengetuk, Jongin tahu Naeun tidak akan mengindahkannya. Jongin menyisir rambutnya frustasi sebelum melangkahkah kakinya ke kamarnya sendiri. Oh betapa kesalnya ia, seharian menunggu di ruang tamu tanpa melakukan apa-apa hanya agar tidak melewatkan kesempatan bicara dengan Naeun, dan sekarang semuanya berakhir sia-sia karena kecerobohannya sendiri.

“Apa yang harus kulakukan dengan gadis itu?” gumamnya frustasi, beruntung ia sempat memikirkan satu nama yang ia yakin dapat membantunya, itu juga jika Jongin bisa membujuknya.

🙂 🙂 🙂

“Apa kalian, para anggota tim basket selalu menyebalkan seperti ini?”

“Jisoo, please….”

Jisoo memutar bola matanya malas sebelum kembali melangkahkah kakinya yang sempat terhenti saat Jongin mengagetkannya di depan pintu kelas tadi. Ia mendesah kesal, sejak masuk sekolah pagi tadi hingga kini pulang sekolah, Jongin tak juga berhenti mengikutinya. Jisoo bahkan berpura-pura tak melihatnya, sayangnya Jongin tetap saja bersikukuh mengikutinya, membujuknya lebih tepatnya.

Ia sempat heran saat Jongin berdiri di depan pintu kelasnya dan bukan untuk Naeun, tapi dirinya. Bukan hal aneh jika Jongin menguntit Naeun, tapi kenapa dirinya? Naeun bahkan sempat heran saat Jongin tak menghentikannya dan justru sahabatnya. Jisoo tahu ada sesuatu yang diinginkan Jongin, dan benar saja dugaannya saat lelaki itu mengemukakan maksudnya.

Mungkin Jongin sudah kehabisan ide hingga memutuskan untuk meminta tolong pada dirinya untuk membujuk Naeun. Bukan hal aneh sebenarnya mengingat Jisoo adalah sahabat Naeun, dan Jongin benar sekali jika mengira Jisoo tahu banyak tentang Naeun karena begitulah kenyataannya. Sayangnya Jongin lupa bahwa Jisoo berada dipihak Naeun, dan membantu Jongin sama saja mengkhianati sahabatnya tersebut.

“Pulanglah, sepertinya akan turun hujan,” ucap Jisoo setelah tak sengaja melihat langit yang mulai mendung. Sayangnya lelaki di belakangnya sama sekali tak mengindahkannya.

“Kenapa kau begitu keras kepala?!” seru Jongin mulai frustasi.

“Karena beginilah aku dilahirkan,” jawab Jisoo ringan.

“Apa ruginya kau membantuku??” lanjut Jongin setelah mendengus pelan. Lelaki itu terus saja mengekori Jisoo yang kini sibuk di depan lokernya.

“Apa untungnya aku membantumu?” balas Jisoo sambil menaruh buku-buku pelajarannya di dalam loker.

Jongin sempat terkejut, ia tak mengira jika Jisoo akan membalasnya seperti itu. Ia berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.

“Emm… kau akan mendapat pahala dari Tuhan, kau juga akan berjasa mengharmosikan hubungan sebuah keluarga, lalu… ah aku akan men—“

Jisoo menutup keras pintu lokernya yang ternyata juga sukses membungkam Jongin.

“Simpan saja semua rayuanmu itu, Sunbae, karena sungguh kau hanya akan lelah mengulanginya lagi dan lagi,” cemooh Jisoo, sebelum melangkah pergi meninggalkan Jongin. Jisoo tidak heran ketika dalam beberapa menit lelaki itu sudah meluncur di sampingnya.

“Aku tidak peduli, aku akan terus mengikutimu hingga kau mau membantuku.”

“Oh silahkan lakukan saja,” jawab Jisoo sambil tersenyum lebar dan tanpa Jongin sadari, keduanya sudah memasuki sebuah ruang kelas sepi. Keduanya terus berjalan dengan Jongin yang setia mengekor di belakang Jisoo.

“Tentu saja, aku akan—“

“Aku tidak ingat kau mengikuti kelas melukis, Jongin?”

“Melukis? Siapa yang bilang aku mengikuti— Omo!!”

Jisoo berusaha keras menahan tawanya saat melihat ekspresi terkejut Jongin. Lelaki itu seperti melihat hantu kala menyadari Kwon Saem yang mengajaknya bicara. Jisoo memang sengaja diam saat Jongin terus saja mengikutinya bahkan sampai ke dalam ruangan melukis. Ia ingin memberi pelajaran pada lelaki itu.

“Kwon S-saem?? A-apa yang anda lakukan di sini?” ucap Jongin terbata sedangkan yang ditanya justru mengernyitkan dahinya.

“Aku yakin pertanyaan itu lebih pantas ditujukan padamu, Jongin, karena seingatku hanya aku guru pendamping klub melukis di sekolah ini.”

Butuh waktu beberapa detik untuk Jongin mencerna kalimat guru muda tersebut. Jongin memang tak begitu mengenal Kwon Saem, tapi sepertinya gosip yang beredar benar, bahwa aura guru tampan tersebut cukup menakutkan, terlebih dengan ekspresi kalemnya saat menghadapi Jongin.

“Hehe… kurasa saya salah kelas, saya minta maaf Saem,” ucapnya cepat sebelum melangkah pergi meninggalkan kelas yang segera pecah dengan tawa Jisoo dan beberapa anggota klub melukis lainnya.

“Sejak kapan anda berekspresi seperti itu, Saem?” tanya salah satu anggota klub melukis.

“Kalian hanya tidak tahu, tapi senjataku ini selalu manjur,” jawabnya sambil mengedip jahil.

Jisoo tidak bisa membayangkan betapa malunya Jongin jika tahu bahwa guru yang membuatnya ketakutan tersebut tak pernah diam untuk melucu di kelas melukis mereka.

🙂 🙂 🙂

“Oh Shit!”

Jongin segera menyesali keputusannya menunggu Jisoo karena bahkan sampai sesore itu gadis itu belum juga menunjukkan batang hidungnya dari ruang klub melukis sedangkan langit juga tak hentinya menurunkan butiran tajam basahnya. Lagi-lagi ia menyesal kenapa tidak mengindahkan peringatan Jisoo, dan kenapa juga ia begitu ceroboh hingga tidak membawa payung.

Jongin bukannya membenci hujan, hanya saja mengingat pertandingan basket yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini, membuatnya menahan diri untuk menerjang tajamnya butiran hujan. Ia biasa menghadapi pelatih mereka, tapi Chanyeol? Lelaki itu tidak akan senang jika pada akhirnya nanti ia terserang flu. Cukup sekali saja Jongin merasakan amukan kapten tim basket tersebut. Sepertinya benar apa kata orang, bahwa seorang yang jarang marah akan sangat menakutkan ketika sekali saja tersulut emosinya, dan Chanyeol adalah contoh nyatanya.

Jongin kembali melongok ke arah langit dan menyadari bahwa hujan seperti itu tak mungkin berlangsung sebentar. Ia mendesah kesal, Jongin bukan seorang yang senang menunggu sesuatu yang tak pasti, dan semua penantiannya hanya akan sia-sia jika hujan tersebut berlangsung semalaman. Seolah nasibnya hari itu belum cukup sial saja dengan usaha gagalnya membujuk Jisoo untuk membantunya.

“Persetan denganmu, Park Chanyeol!” gumamnya pelan, Jongin memutuskan untuk menerjang hujan. Kehujanan sekali belum tentu membuat seseorang langsung sakit kan? Itulah yang dipikirkannya.

Ia baru bersiap-siap menerjang hujan dengan blazer seragamnya yang dilepasnya dan ditaruh di atas kepalanya, ketika sesuatu tampak membayanginya. Ia mengernyit sekilas sebelum mendongak dan mendapati sebuah payung sudah bertengger manis di atas kepalanya. Senyumnya seketika merekah kala menoleh ke belakang dan mengetahui siapa pemilik payung merah tersebut.

“Aku tidak heran jika kau tidak membawa payung di cuaca seperti ini, Kim Jongin,” sindir Jisoo, masih di belakangnya.

“Hei, bagaimana aku tahu jika hari ini akan hujan karena tadi pagi sepertinya cuaca baik-baik saja,” protes Jongin.

“Kau pikir untuk apa pemerintah menyewa paranormal untuk disiarkan setiap hari di televisi?”

“Jangan bilang kau percaya pada ramalan?” sahut Jongin yang hanya dibalas Jisoo dengan memutar bola matanya.

Well, kau bisa melihat sendiri hasil kerja mereka. Sudahlah, aku pergi dulu, silahkan saja jika kau masih ingin menikmati hujan.”

“Yah!!” Jongin berlari cepat menyusul Jisoo, dan setelah berhasil mengejarnya ia mengambil alih Jisoo untuk memegang payungnya. Payung Jisoo mungkin tidak sangat lebar tapi setidaknya masih lebih baik dibanding harus kehujanan.

Keduanya berjalan pelan beriringan, lebih karena Jongin tidak ingin membuat Jisoo berlarian dengan langkahnya yang lebih lebar, bagaimana pun dia hanya menumpang. Tidak seperti biasanya, kali ini keduanya memilih diam, entah karena hujan yang memang sudah sangat berisik, atau Jisoo yang memang terlalu lelah beradu argumen dengan lelaki di sampingnya. Sayangnya keheningan tersebut tidak berlangsung lama karena lidah Jongin sepertinya terlalu gatal untuk hanya diam saja.

“Kenapa… kau tiba-tiba baik padaku?”

Jongin tersenyum kecil, ia tidak tahu kenapa Jisoo tiba-tiba menolongnya setelah seharian mengacuhkannya. Mungkin gadis itu merasa bersalah karena telah membuatnya menunggu dan pada akhirnya terjebak hujan.

“Jisoo?” lanjut Jongin saat tak juga mendengar jawaban dari gadis di sampingnya. Ia sedikit menunduk untuk melihat ekspresi Jisoo.

Aish… Apa aku harus memilih-milih dulu jika ingin berbuat baik?” jawab Jisoo malas tanpa memandang ke arah Jongin.

Sebenarnya Jisoo tidak tahu bahwa lelaki yang tampak sendirian menunggu hujan itu adalah Jongin. Jisoo hanya refleks ingin menawarinya tumpangan, sebelum akhirnya menyadari bahwa lelaki dihadapannya adalah Jongin. Jisoo bisa saja pura-pura tidak melihat Jongin, hanya saja hati nuraninya tak mengijinkan, selain bahwa ia yakin Naeun lebih tidak tega mendapati lelaki itu sakit pada akhirnya.

“Bukan begitu… hanya saja…”

“Baiklah, aku mengerti, katakan saja jika kau ingin hujan-hujanan.”

“Yah, Yah!!” ucapnya cepat sambil menepis tangan Jisoo yang hendak mengambil kembali payungnya. Keduanya kembali terdiam sebelum akhirnya Jisoo menggumam pelan. Sangat pelan hingga Jongin harus kembali menundukkan kepalanya untuk dapat mendengar apa yang dikatakan gadis itu.

“Apa salahnya membantu orang lain?”

“Ada apa?” ucap Jisoo, ia tidak tahu kenapa Jongin tiba-tiba menghentikan langkahnya sehingga membuatnya otomatis ikut berhenti. Ia menoleh ke arah Jongin dan mengernyit bingung mendapati lelaki itu menatapnya aneh.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanyanya heran.

A-ani…”

Jisoo sempat menyipitkan mata mengamati lelaki itu dengan seksama, tapi kemudian memutuskan untuk mengabaikannya saja.

“Kau aneh, Jongin,” ucap Jisoo singkat sebelum kembali memaksa Jongin untuk melangkah.

Kau lebih aneh, Jisoo.

🙂 🙂 🙂

TBC

aye, kuharap kalian nangkep pesenku 🙂

happy reading ^^

Iklan

4 thoughts on “(ff) But, I Love You Ch 3b

  1. too short author-nim but nice story,,part ni lbih banyak moment jisoo ma jongin y,,well,,d tnggu part brktny nie,,jngan lama2 yahhh,,hehehe,,keep writing^^,,gomawoo!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s