Beranda » Comedy » (ff) Love So Sweat Ch. 5

(ff) Love So Sweat Ch. 5

love so sweat copy

Sejak awal, siapa sebenarnya yang berencana berangkat sekolah bersama? Ck, harusnya aku ingat Chanyeol tidak akan mengangkat bokong malasnya kecuali untuk dua hal, Jung Eunji dan basket, tapi Kyungsoo? Setidaknya aku masih berharap lelaki pendek itu menepati janjinya bertemu di depan toko ramen, tapi mana? Awas saja jika bertemu nanti.

Aku tidak berdandan setampan ini hanya untuk sia-sia pulang kembali ke rumah. Oh, Hayoung pasti senang sekali melihatku tak jadi hang out. Setan cilik itu memang paling senang melihatku menderita. Mana panas lagi, fiuh….

Aku baru saja akan mengeluarkan ponsel dari kantong celana ketika sesuatu di ujung belokan menarik perhatianku, seseorang lebih tepatnya. Dari rambut hitam panjangnya bisa kusimpulkan dia seorang gadis. Memakai jins biru, kaos putih polos, dan tas selempang kecil. Penampilan yang simpel tapi entah kenapa mampu menonjolkan daya tariknya. Terbukti dari beberapa lirikan lelaki di kanan kirinya.

Aku mengamatinya lebih seksama, mataku yang buram atau gadis itu memang sangat cantik? Jujur aku tidak pernah memperhatikannya sebelumnya tapi tidak mungkin kan Ahn Sooji secantik itu? Apa aku salah orang?

“Sepertinya aku perlu ke dokter mata,” gumamku sambil tertawa kecil dan beranjak hendak menghampirinya. Persetan dengan Chanyeol dan Kyungsoo, mereka bisa pulang sendiri ke rumah jika tidak menemukanku. Siapa suruh datang terlambat dan membuatku menunggu lama. Atau mungkin hari ini mungkin takdir yang sudah direncanakan Tuhan agar aku dapat menemui Sooji.

“Soo—“ aku baru saja akan memanggilnya ketika seorang berwajah familiar tiba-tiba muncul dari belakangnya. Seketika aku menghentikan langkah, menyipitkan mata, mengamati keduanya dari kejauhan.  Lelaki itu memeluknya erat dari belakang, membuat Sooji terkejut dan memukul pelan lengan lelaki tersebut. Cih apa itu masih bisa dikatakan memukul? Sejak kapan dia segenit itu? Aku menggigit bibir bawahku sebelum mengalihkan pandangan ke mana pun selain ke arah keduanya.

Aku menyesal mengarahkan pandanganku kembali pada keduanya karena pemandangan di hadapanku sungguh tidak menyenangkan. Entah sejak kapan Sooji membalik tubuhnya hingga kini menghadap lelaki tersebut dan mengalungkan lengannya di leher lelaki di hadapannya. Lelaki tersebut balas memeluknya erat dengan kedua mulut yang saling bertautan, menjijikkan!

Tak tahan melihatnya, aku memutuskan untuk mengalihkan pandanganku ke bawah dan saat itulah aku menyadari tetesan darah di tanah yang sepertinya berasal dari telapak tanganku. Sejak kapan tanganku terluka? Aku bahkan tidak ingat ingat jika telah memegang sesuatu sebelumnya. Saat kubuka, bukan apa-apa, melainkan kuku-kuku sendirilah yang menyobek kasar permukaan telapak tanganku, shit!

Sakit… tapi aku tidak tahu apakah sakit ini berasal dari telapak tanganku atau bukan. Yang pasti aku tidak berani memandang kembali ke depan.

Secepat itukah ia berpindah ke lain hati? Wae Sooji, Wae?

Kau terlambat, Sehun…

Ya aku tahu… tapi aku memang bodoh, butuh bertahun-tahun lamanya hingga menyadari perasaan menyebalkan ini…

Kau terlambat…

Tak bisakah aku mengambilnya kembali?

Kau telah terlambat…

Iya—

Tunggu, bagaimana bisa suara hatiku terdengar begitu feminin? Apa suara hati berjenis kelamin perempuan?

“Kau terlambat, Sehun bodoh!!!!”

Pada akhirnya Sooji lenyap dimakan kegelapan saat bokongku menghantam keras lantai kamarku. Aku mengerjap pelan sambil berusaha memahami lingkungan di sekelilingku. TV, meja, komputer, ranjang, baju-baju kotor bergelantungan, tak ketinggalan wajah iblis yang kini melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Kemana Sooji?

“Hei, Sehun? Otakmu baik-baik saja kan? Sepertinya aku tidak melemparkanmu terlalu keras….”

Tentu saja, karena kata pertama yang selalu terlontar di mulutku saat iblis perempuan ini membangunkanku adalah makian tak berujung, atau paling tidak jitakan keras di kepala batunya. Bagaimana tidak jika kau dibangunkan dengan cara dilempar kasar ke lantai, disiram air dingin, atau bahkan tak tanggung-tanggung, dicabut bulu kakimu, kurasa semua orang juga akan bereaksi yang sama denganku. Tapi khusus hari ini, senyum lebar seketika terkembang di bibirku dan tanpa sadar tanganku mengalung panjang meraih tubuh Hayoung yang beruntungnya belum remuk setelah kupeluk begitu erat.

“Kau mau mati, Oh Sehun?!!!!” ancamnya sambil memukul-mukul belakang punggungku.

Saranghae, Hayoung-ah… muach!” balasku riang. Entahlah, pukulannya masih tak berarti dibanding rasa senang yang kurasakan setelah ia membuyarkan layar lebar menyebalkan tersebut. Ia bergidik ngeri saat aku mulai menciuminya.

Yah, menjijikkan!!!! Eomma!!!!”

Khusus hari ini, aku beruntung memiliki adik banteng berhati iblis sepertinya, hehe…

JJJ

 

“Oh Sehun!!”

“Mwo???!”

Sialan, siapa yang berani-beraninya— oh no, sejak kapan aku berada di ruang kelas? Di mana Sooji? Sejak kapan Jung Lucifer Saem memasuki kelas? Habislah aku!

Aku menelan ludah saat mengetahui betul nasib yang akan menimpaku setelah ini. Well, tidak butuh jenius untuk menebak apa yang ada di dalam otak bujang lapuk tersebut.

“Detensi sepulang sekolah!”

JJJ

“Apa sebenarnya yang ada di otakmu, eo? Berani-beraninya tidur di tengah pelajaran Lucifer.”

Aku menatap tajam Chanyeol saat lagi-lagi ia mengangkat topik tersebut. Kyungsoo dan Eunji juga sama sekali tak membantu, keduanya tak hentinya menertawakanku. Haha… tertawalah sepuasnya, tidak setiap hari hal seperti ini terjadi. Seolah belum cukup saja seisi kelas menertawakanku dengan tatapannya, ya tatapan, karena tak akan ada yang berani membuka mulutnya lebih dari dua senti di kelas Lucifer tersebut. Tak heran mereka menganggapku gila karena berani tidur di tengah pelajarannya.

“Semua gara-gara Sooji,” gumamku pelan yang segera kusesali karena telinga tajam Eunji sepertinya menangkapnya jelas.

“Jadi benar kau sedang jatuh cinta?”

Sial, hal memalukan apa lagi akan menimpaku kini? Jika bukan karena Chanyeol di sampingnya, sudah kuhapus seringai mengoloknya itu, untuk saat ini aku hanya bisa menatapnya tajam.

“Yah, hanya aku yang boleh menatap Eunji seperti itu!” sahut Chanyeol sebelum menepis kasar wajahku, membuatku seketika menatapnya tak suka. Apa sepasang kekasih harus semenyebalkan ini? Aku menggeram kesal sebelum menyumpit kasar dadar gulung dan memasukkannya ke dalam mulutku.

“Sudah hentikan, Chanyeol. Aku jadi penasaran dengan yang namanya Sooji, hingga bisa membuat seorang Oh Sehun mabuk kepayang seperti ini.”

“Yah, siapa bilang aku mabuk kepayang??”

“Yah, singkirkan sumpitmu itu!!!” Chanyeol kembali menepis kasar tanganku saat tanpa sadar kuacungkan kedua sumpitku ke arah Eunji. Beruntung reaksiku sigap hingga kedua benda tipis tersebut tak terlepas dari genggamanku. Aku mengumpat kecil saat melihat Eunji mengulurkan lidahnya padaku di belakang Chanyeol, sial, awas saja kau!

“Kali ini apa lagi yang diperbuat Sooji? Bukankah kau bilang dia sudah tidak mengikutimu lagi?” sahut Kyungsoo mengabaikan tingkah dua orang idiot dihadapannya.

Aku mendesah pelan sebelum meletakkan sumpit dan meraih jus apel kemudian meminumnya malas. Ketiganya seketika kembali memfokuskan perhatiannya padaku. Aku sempat ragu saat melihat Eunji juga memperhatikanku, mengharapkan penjelasan yang sama dengan yang lainnya.

Pada akhirnya aku menyerah saat menyadari bahwa tak ada rahasia yang aman di tangan Chanyeol saat ia berhadapan dengan kekasihnya tersebut. Tak ada gunanya menyembunyikannya dari Eunji, lelaki tolol di sampingnya pasti sudah menceritakan semuanya. Lagipula bukan sekali ini saja masalahku diketahui Eunji dan bukankah makin banyak kepala makin baik?

Aku menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan semuanya. Mimpiku, keluh kesahku, keanehan yang terjadi pada diriku akhir-akhir ini, dan… perasaanku. Ya, perasaanku. Aku sudah lelah menyimpannya sendirian dalam hati dan sama sekali tak tahu solusinya. Sekejam apapun ketiga orang di sampingku ini, aku tahu bahwa mereka masih peduli padaku.

“Jadi sekarang kau mengakuinya?” ucap Chanyeol sambil menyeringai lebar. Yaya, tertawai saja diriku. Aku memilih menunduk sambil mengaduk-aduk es di gelas jus apelku. Terlalu malas meladeninya.

“Hentikan, Yeol!” balas Eunji yang membuat sudut-sudut bibirku sedikit tertarik ke atas. Setidaknya Eunji masih bisa bersikap netral.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Bukankah kau bilang Sooji sudah lelah denganmu?” sahut Kyungsoo yang berhasil membuat suasana hatiku kembali murung. Aku tidak pernah mengatakannya segamblang itu, aku hanya bilang Sooji tak lagi menungguku meskipun inti keduanya tetap sama. Hanya saja, rasanya begitu menyakitkan ketika mendengarnya sejelas itu.

“Aku tidak akan bertanya jika tahu,” jawabku singkat.

“Apa yang begitu susah??!” Kami bertiga hampir melonjak kaget saat mendengar nada tinggi Eunji. Kenapa justru dia yang terlihat marah? Kami bertiga saling pandang tak mengerti sebelum kembali menatap Eunji penuh tanya.

“Dasar kalian para lelaki,” ucapnya frustasi. Apa dia sedang pms?

“Apa susahnya menyingkirkan sejenak ego kalian untuk mengejar gadis yang kalian sukai?” lanjutnya saat tak ada dari kami bertiga yang merespon.

“Jangan sekali-kali meniru Chanyeol—“

“Yah—“

“Sooji bahkan mengejarmu terang-terangan, Sehun, apa salahnya kini setelah kau akhirnya mengetahui perasaanmu, giliran kau yang mengejarnya? Apa kau pikir Sooji akan benar-benar menyerah terhadapmu setelah dua tahun lebih dia mengejarmu hanya karena kau melarangnya seperti itu? Cih, sepertinya kau merendahkan kekuatan kami para perempuan. Kami bisa melakukan apapun jika kami mau, asal kau tahu itu.”

Eunji mengakhiri ceramahnya dengan tatapan sinisnya. Selama berbicara, kami hanya memandangnya dengan mulut terbuka. Jujur, segalak apapun Chanyeol saat memarahi juniornya di lapangan basket ataupun Kyungsoo saat menegur keras Hana, tak ada yang lebih mengerikan dibanding mulut pedas gadis di hadapanku ini. Sekarang aku tahu kenapa butuh bertahun-tahun lamanya bagi Chanyeol mengetahui perasaan gadis itu terhadapannya. Bagaimana tidak jika setiap hari diperlakukan seperti ini?

Aku kembali menyesap jus apelku sembari memikirkan semua yang dikatakan Eunji. Ya, aku menyesali kenapa baru sekarang menyadari perasaanku pada Sooji setelah menolaknya semenyakitkan itu, dan sekarang setelah menyadarinya aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Apakah benar katanya bahwa semua ini karena egoku? Tapi menunggu selama itu dan atas semua kebodohan yang kulakukan, apa mungkin Sooji masih memiliki perasaan yang sama terhadapku seperti sebelumnya? Mungkin benar apa yang dikatakan Eunji, pada dasarnya ada ketakutan tersendiri dalam hatiku jika Sooji kemudian menolakku. Dan seolah mendengar pikiranku, ucapan Eunji selanjutnya sedikit meringankan bebanku.

“Jika kau begitu takut, maka anggaplah sebagai ganjaranmu karena telah menyia-nyiakan perasaan tulus seorang gadis. Kalaupun pada akhirnya kau terluka, apa artinya dibanding luka yang selama ini Sooji terima? Tak ada salahnya mencoba, Sehun. Setidaknya Sooji tahu bahwa dirinya patut diperjuangkan,” ucapnya sambil menatapku lembut. Senyum menenangkannya cukup untuk membuat bibirku melakukan hal yang sama.

“Kami akan berada di belakangmu jika kau butuh bantuan,” tambah Chanyeol mencoba menyemangati, sedangkan Kyungsoo di sebelahku hanya mengangguk dan tersenyum kecil sambil menepuk pelan bahuku.

Aku tersenyum kecil melihat ketiganya. Perhatian kecil seperti inilah yang menunjukkan kualitas mereka sebagai sahabatku. Mungkin mereka lebih banyak mencercaku tapi aku tahu, di saat susah seperti ini mereka akan selalu mendampingiku. Memberiku dukungan dan semangatnya.

Tidak sia-sia aku menceritakan semuanya pada Eunji karena sepertinya memang perempuanlah yang lebih mengerti perasaan sesamanya. Setidaknya kami mengerti dari sudut pandang Sooji. Karena selama ini kami hanya melihat dari sudut pandangku.

“Tapi… apa yang harus kulakukan untuk memulainya?” tanyaku mulai bersemangat. Kami bertiga kembali memandang Eunji, mengharapkan jawaban brilian dari mulutnya. Ia menyesap singkat milk shake strawberry-nya sebelum tersenyum lebar.

“Sebaiknya kau pikirkan dulu detensimu.”

Sungguh cara yang cool untuk mengakhiri ceramahmu, Jung Eunji.

Iklan

7 thoughts on “(ff) Love So Sweat Ch. 5

  1. wuahhh akhirnya sehun nyadar juga ama persaannya … tpi blm trlmbat kan semoga suzy msih mncintai sehun … gomawo thor udh uptde^^ .. hwaiting dan next part

  2. Dilanjut author-nim..
    aku suka benget ceritanya^^ maaf sebelumnya, aku baru bisa komen di part ini. (baru bisa cara komentar sih.. )
    Semoga Suzy masih suka ama Sehun.. Dan mereka bakalan bersatu kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s