Beranda » EXO » (ff) But, I Love You Ch.2B

(ff) But, I Love You Ch.2B

Extremely loooong chapter ahead, i’ve warned you!

Happy reading 🙂

Ch.2B

but i love you copy

“Kau… tidak seperti yang kubayangkan.”

Naeun memutar bola matanya malas, ia sedang berjalan di koridor timur sekolah menuju ke lab biologi ketika sebuah tangan menarik kasar belakang blazernya.

“Kau tidak memperlakukan seniormu seperti itu Son Naeun!”

Gadis cantik itu berdiri di hadapan Naeun, mengamatinya dengan seksama, sebelum akhirnya –dengan seenaknya— mengambil paksa kacamata gadis tersebut. Naeun yang tidak menyangka dengan aksi tiba-tiba seniornya tersebut, hanya membelalak lebar, membiarkan begitu saja apa yang ingin dilakukan gadis di hadapannya.

“Apa kacamata sedang trend saat ini? Apa aku harus memakai kacamata juga?” lanjutnya sambil mengenakan kacamata Naeun. Tentu saja gadis itu tetap cantik, apapun yang dikenakannya. Ia tidak perlu bertanya pada Naeun, Naeun tahu, seniornya tersebut hanya ingin mempermainkannya.

“Kumohon kembalikan kacamataku Han Soojung-sshi,” ucap Naeun sambil mengulurkan tangan meminta kacamatanya kembali. Berkeliaran di sekolah luas tersebut tanpa menggunakan kacamata sama sekali bukan ide yang baik. Naeun memang selalu membawa lensa kontak sebagai cadangan jika kacamatanya rusak atau bermasalah tapi ia hanya akan memakainya jika benar-benar darurat, dan perampasan kacamata sama sekali tidak ada dalam daftar daruratnya.

“Sungguh, kau tidak sangat cantik, apa yang membuat Kai mengejar-ngejarmu huh?” ucapnya, mengabaikan permintaan sopan Naeun. Gadis itu melipat tangannya di depan dada sambil mengamati Naeun dari atas kepala hingga kaki sambil tetap mengenakan kacamata yang sesungguhnya hanya membuat penglihatannya kabur.

Han Soojung tidak pernah mendapat masalah untuk berkompetisi dengan gadis lain dalam upaya perebutan perhatian lelaki. Ia menyukainya malah, karena jika ia menang, hal itu justru akan membuat statusnya semakin tinggi. Tapi untuk kali ini ia agak kesal, ia sadar bahwa saingannya bahkan tidak merasa bertanding dengannya. Jika Naeun sama sekali tidak berusaha untuk mendapatkan perhatian Jongin saja, lelaki itu sudah mengejar-ngejarnya, bagaimana jika sedikit saja gadis itu berusaha? Apalagi setelah ia dengan paksa mengambil kacamata Naeun. Ia yakin tidak hanya Jongin yang tertarik dengan gadis itu.

Awalnya ia tidak percaya dengan gosip yang beredar bahwa Kim Jongin tertarik dengan junior setahun di bawah mereka tersebut, tapi setelah mengamatinya sendiri, ternyata hal itu bukan hanya kabar burung belaka. Lelaki itu bahkan kerap kali tak melihat keberadaannya hanya karena berusaha mengejar Son Naeun. Mungkin juniornya tersebut belum menyadarinya, tapi jika ia saja mengetahui namanya, Soojung yakin semua orang di sekolah tersebut sekarang penasaran dengannya, dan semua gara-gara pemain basket populer itu.

“Jika kau begitu penasaran, tanyakan sendiri padanya, dan jangan padaku,” ucap Naeun, mulai kesal dengan tingkah kekanakan seniornya itu.

Beberapa hari berlalu dan Jongin tak hentinya mengejarnya. Meskipun kesal, sekarang ia sudah terbiasa dan lebih memilih untuk mengacuhkan saja lelaki tersebut. Tentu saja keberadaan lelaki itu di sekitarnya hanya membuat hari-harinya makin kacau. Tak sedikit fans Jongin yang mulai mencercanya. Ia sudah menduga jika cepat atau lambat Han Soojung juga akan mendatanginya. Naeun justru heran karena butuh waktu cukup lama untuk gadis itu melakukannya.

“Oh, kau lebih berani dari kelihatannya. Kupikir kau kutu buku polos, penakut, pengecut, lemah tak berdaya, me—“

Naeun bisa saja kehilangan kesabarannya jika bukan karena seseorang yang tiba-tiba saja mengalungkan tangan besarnya di leher Soojung yang kini tampak terkejut. Gadis itu menoleh ke samping sebelum akhirnya berusaha melepaskan lengan besar tersebut.

“Lepaskan leherku Oh Sehun, kau tidak tahu betapa beratnya lenganmu huh?” gerutu Soojung, masih berusaha melepaskan lengan lelaki tersebut. Naeun hanya menonton dalam diam pemandangan tersebut. Jika bukan karena kacamatanya yang masih dipakai Soojung, ia akan dengan senang hati meninggalkan kedua orang itu.

“Oh ayolah,  kupikir kau senang menggelayut manja di lengan para lelaki.”

“Apa? Kau pikir aku gadis murahan? Lepaskan bodoh!”

“Hei, Jongin tidak akan suka mendengarmu berkata seperti itu tentang sahabatnya.” Sehun hanya bercanda tapi ketika Soojung kemudian terdiam, ia berusaha keras menahan tawanya. Ia tidak menyangka pengaruh Jongin begitu kuat bagi gadis tersebut.

“Ayo, kurasa ada pertemuan anggota cheers dan tim basket, kau tidak ingin bertemu Jongin?”

Keuntungan menjadi anggota cheers, setidaknya ia memiliki banyak alasan untuk dapat berada di sekitar Jongin. Soojung mendesah keras sebelum akhirnya menurut saja saat lelaki itu membalikkan tubuhnya, mengikuti kemanapun yang ditunjukkan Sehun. Tapi sebelum keduanya berlalu, Sehun mengambil dengan cepat kacamata Naeun yang sempat terlupakan oleh Soojung. Gadis itu mengacuhkannya saja dan memilih untuk segera menemui pujaan hatinya. Tanpa tahu bahwa Sehun hanya membual padanya.

“Kacamatamu,” ucap Sehun sambil mengulurkannya pada Naeun, tapi sebelum gadis itu sempat mengambilnya, Sehun dengan cepat menarik tangannya.

“Kau lebih cantik tanpa kacamata, Naeun, untuk itu kau harus memakainya.” Kalimat Sehun seketika membuatnya terdiam. Ia bahkan tidak sadar saat lelaki itu telah menaruh kacamatanya di atas hidungnya dan meninggalkannya sambil  tertawa kecil. Butuh waktu lama untuknya mencerna kalimat Sehun, selain pengucapannya yang terlalu cepat, ia juga tidak begitu berkonsentrasi padanya.

“Apa? Menurutnya aku jelek?” gumamnya kecil sebelum akhirnya beranjak kala mendapati pesan Jisoo di ponselnya. Ia harus berlari jika tidak ingin terlambat di mata pelajaran selanjutnya.


Naeun mendesah kesal, sebelum berbalik dan berjalan cepat kemana pun kakinya melangkah. Sialnya, kaki jangkung di belakangnya dengan mudahnya mengimbangi langkahnya. Ia baru saja akan masuk ke toilet perempuan saat tangan besar lelaki itu mencengkeram erat lengannya, memaksanya berhenti melangkah. Usahanya melepaskan diri dari geggaman kuat lelaki itu sia-sia saja. Bahkan dengan mudahnya dirinya diseret ke koridor sepi sekolah mereka.

“Apa lagi kali ini? Kau tahu, sampai kapan pun, jawabanku akan tetap sama. Enyahlah dari hadapanku!”

“Itu tidak adil Naeun. Kau sama sekali tidak memberi kesempatan padaku, pada kami,” ucap lelaki di hadapannya memelas.

“Aku tidak butuh alasanmu Kim Jongin-sshi.” Sekali lagi Naeun harus menahan amarahnya saat lelaki itu menghalangi jalannya.

“Dengar—“

“Tidak, aku tidak ingin mendengarnya.”

Apapun yang akan dikatakan Jongin, Naeun tahu itu hanya akan menyakiti hatinya dan dia belum siap mendengarnya.

“Kenapa kau sangat egois Son Naeun! Kau—“

“Ya, aku sangat egois, kau puas?!”

Jongin menggosok kasar wajahnya frustasi. Gadis dihadapannya benar-benar keras kepala. Seumur hidup ia sama sekali belum pernah mengejar-ngejar gadis seperti ia mengejar Naeun, meskipun dalam konteks yang berbeda. Ia tidak tahu jika seorang gadis bisa semenyebalkan Naeun. Ia melakukan segalanya untuk meyakinkan Naeun, tapi sedikitpun gadis itu tidak mau mendengarnya, bahkan melirik pun tidak.

Ia tidak tahu kenapa Naeun sangat menentang pernikahan orang tua mereka. Bagaimana ia bisa tahu jika Naeun sama sekali bungkam. Ia berusaha mendekatinya dengan halus, bertanya baik-baik padanya, tapi jawabannya selalu sama. Sikap acuh gadis itu.

“Kau tahu, aku tidak pernah melihat ayahku tertawa bahagia seperti saat ia bersama Bibi YeEun. Kedengarannya memang klise tapi— NAEUN DENGARKAN AKU!!” Jongin tak dapat lagi menahan amarahnya saat melihat gadis itu menutup rapat telinganya. Ia melepas paksa tangan Naeun dari telinganya dan menahannya di kanan kiri kepala gadis itu. Naeun meringis pelan saat kepalanya terantuk tembok di belakangnya tapi Jongin tampaknya tak memperhatikannya.

“Aku tidak tahu ada apa denganmu—“

“Diam, kumohon…” Naeun menggeleng pelan kepalanya, meminta agar Jongin menghentikan kalimatnya, sayangnya lelaki itu sama sekali tak menggubrisnya. Ia terus saja mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

“—Naeun, tapi aku jamin, kami akan berusaha menjadi keluarga terbaik bagimu. Ayahku begitu mencintai Ibumu, bahkan—“

“Kumohon hentikan Jongin….”

Naeun tidak ingin mendengarnya tapi dengan Jongin yang berada sedekat itu dengannya dan kedua tangannya yang ditahan kuat, benar-benar tidak membantu. Lelaki itu bahkan mengabaikan ekspresi memohon Naeun.

“—seorang tidak peka sepertiku saja dapat melihatnya. Aku akan melakukan apapun agar Ayahku bahagia. Dia—“

Kumohon….”

Jika sebentar saja Jongin mendengarkannya, memperhatikannya, ia pasti akan melihat cairan bening yang telah menunggu untuk bebas tepat di ujung mata gadis itu, tapi tidak, ia tetap saja mengeluarkan apa yang sudah menunggu di tenggorokannya.

“—pantas mendapatkannya. Kau pasti tahu karena kau juga hidup sendiri dengan ibumu. Sekali ini saja, kesampingkan sikap egoismu, dan sedikit saja berkorban untuk kebahagiaan Ibumu. Terserah jika kau ingin membenciku, anggap saja kau melakukan semua itu untuk ibumu, Naeun….”

Naeun hanya dapat menunduk pasrah. Ia sama sekali tak berkutik dengan Jongin yang menahan kuat tangannya. Lelaki itu juga tak mengindahkan permohonannya sedikitpun. Ia hanya bisa menunggu hingga akhirnya lelaki itu selesai berbicara dan akhirnya melepaskannya.

“Aku minta maaf karena terpaksa bersikap seperti ini padamu tapi kumohon… pertimbangkan baik-baik Naeun. Aku tahu kau bukan seorang yang egois….” Ia melepaskan genggamannya saat merasa semua yang ingin dikatakannya telah tersampaikan. Jongin menyalahartikan sikap diam Naeun sebagai tanda gadis itu mempertimbangkan ucapannya. Sebagian rambut gadis itu jatuh menutupi wajahnya hingga membuat Jongin melewatkan cairan bening yang akhirnya menetes keluar dari kedua matanya.

Barulah saat lelaki itu tak terlihat lagi dari sudut pandangnya, Naeun terjatuh lemas ke lantai, dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Ia terisak pelan, mencoba sekeras mungkin menahan tangisnya. Sayangnya sakit hatinya sudah tak tertahankan lagi. Jongin telah mengatakannya. Bahkan tanpa disadarinya, lelaki itu telah menghancurkan hatinya berkeping-keping.

Satu-satunya harapannya. Setidaknya ia akan tetap berjuang jika tak mendengar permohonan lelaki itu, tapi Jongin sendirilah yang mengatakannya. Lelaki itu sendiri yang memelas kepadanya. Ia sudah cukup menderita dengan Jongin yang selalu memohon kepadanya. Naeun tak dapat lagi menahannya jika sekali lagi melihat raut wajah sedih pujaan hatinya tersebut, dan semua itu karena keegoisannya.


“Kau tidak serius akan mengikutinya ke rumah kan? Siapa dirimu, huh? Stalker?”

Jongin terjengkang ke belakang saat seseorang tiba-tiba menarik ranselnya. Ia menggeram kesal, siapapun itu yang menariknya dari belakang telah mengacaukan kesempatannya untuk sekali lagi membujuk Naeun yang kini telah menaiki bus. Ia baru saja akan memprotes ketika mendapati siapa pelakunya.

“AP— Oh, Jisoo….” Senyum di bibirnya seketika merekah, kontras dengan tatapan tajam gadis di depannya. Jongin sendiri tidak tahu kenapa reaksinya bisa seperti itu.

“Ada yang bisa kubantu?”

“Ada yang bisa kubantu?” cemooh Jisoo menirukan gaya bicara Jongin, membuat lelaki itu tertawa kecil.

“Oh lihatlah, apa kau begitu senang membuat Naeun menderita?” senyum di bibir Jongin seketika memudar.

“Aku tidak bermaksud be—“

“Kalau begitu jauhi Naeun! Apa kau tidak bisa melihat kalau dia tidak ingin kau berada dekat dengannya?” sela Jisoo cepat.

“Aku tidak bisa, hanya ini yang bisa kulakukan.”

“Tentu saja bisa, kau hanya perlu menjauhkan hidung jelekmu itu sejauh-jauhnya dari Naeun!” Jongin tahu tidak seharusnya ia tertawa, tapi kombinasi antara ekspresi dingin Jisoo dan komentarnya yang menggelikan benar-benar membuatnya tak bisa menahan tawa.

“Aku tidak bercanda Kim Jongin!” seru Jisoo, ia memukul keras lengan lelaki itu karena merasa ditertawakan. Ia sedang tidak bercanda tapi Jongin tampaknya mempermainkannya.

“Ya Tuhan, kau tidak hanya menakutkan tapi juga kasar,” gerutu Jongin sambil menggosok-gosok lengannya yang cukup sakit akibat pukulan Jisoo. Ia tidak menyangka gadis sekurus itu bisa memiliki kekuatan begitu besar. Ia bergidik ngeri ketika membayangkan Naeun juga memiliki kekuatan yang sama. Ia tak akan berkutik ketika gadis itu akhirnya memberikan tinjunya, well, sudah prinsipnya untuk tidak menggunakan kekerasan pada perempuan.

“Yah, jangan mengalihkan pembicaraan!!”

“Jangan mengganggunya lagi, mengerti?!” lanjut Jisoo.

Jongin kembali berekspresi serius saat mengingat topik apa yang sebelumnya mereka bicarakan. Ia tidak mungkin menuruti perintah Jisoo, hanya itu satu-satunya usaha yang bisa dia lakukan. Meyakinkan Naeun. Ia senang saat Naeun akhirnya mendengarkannya, terpaksa lebih tepatnya. Ia berharap usahanya sedikit demi sedikit akan meluluhkan hati Naeun, itulah kenapa ia tidak akan berhenti sebelum membuahkan hasil.

Ya, Jongin memang tidak keberatan jika ia memiliki seorang adik ataupun ibu tiri. Baginya tak masalah asalkan mereka tidak bersikap tak baik padanya, dan ia sudah membuktikannya pada Ibu Naeun. Sedangkan Naeun sendiri, Jongin memang beberapa kali melihat wajah cantik itu di koridor sekolah tapi baru kemarin ia berbicara langsung dengannya. Bahkan tahu namanya pun, baru beberapa hari lalu saat Ibu Naeun mengenalkannya. Jongin memang tipikal yang tak akan mencari tahu lebih dalam jika tak tertarik. Ia memang tak mengenal Naeun tapi ia merasa gadis itu tidak seburuk seperti sikap dingin yang selalu ditunjukkan padanya.

“Yah Kim Jongin!!!”

Teriakan keras Jisoo sukses membuat pikiran Jongin kembali ke arah gadis di hadapannya. Ia mengernyit sedikit, ia baru menyadarinya, baik Jisoo maupun Naeun sama-sama tidak memanggilnya Oppa seperti yang para juniornya lakukan. Tapi kemudian ia memilih mengabaikannya saat ide lain muncul dipikirannya.

“Hei Jisoo, apa kau bisa membantuku?”

“A-apa?” Jisoo sedikit terkejut dengan perubahan sikap Jongin. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia melangkah mundur ke belakang saat lelaki itu tiba-tiba memperkecil jarak di antara mereka. Ia sudah menyiapkan tinjunya jika Jongin tiba-tiba bertindak tak senonoh padanya, tapi melihat kerutan di dahi lebar lelaki itu, seolah ada sesuatu yang dipikirkannya, Jisoo memilih bersabar dengan menunggu apa yang akan dikatakan Jongin.

“Hei… eum… ah sudahlah lupakan saja,” ucap Jongin ragu. Jongin baru saja akan berbalik ketika Jisoo menjegal tangannya. Ia sudah bersabar untuk Naeun, dan tidak ingin sekali lagi melakukannya untuk lelaki itu. Tentu saja ia kesal karena Jongin seolah mempermainkannya.

Apapun itu yang akan dikatakan Jongin, pasti berhubungan dengan Naeun. Jisoo tahu, tidak seharusnya ia mengorek informasi dari lelaki itu, tapi ia kesal karena tak bisa berbuat apa-apa untuk Naeun. Gadis itu sama sekali bungkam padanya. Dan siang tadi sepertinya masalahnya semakin parah saat melihat Naeun yang semakin membisu.

“Kau tidak bisa menggantungkanku seperti itu Kim Jongin!” dan tepat setelah Jisoo menyelesaikan protesnya, keberanian Jongin seolah muncul begitu saja. Jisoo hanya bisa membelalak tak percaya saat mendengar apa yang dikatakan lelaki itu.

“BisakahkaumeyakinkanNaeunagarmaumenerimakudanayahku? (Bisakah kau meyakinkan Naeun agar mau menerimaku dan ayahku?”

“A-apa?” Sepertinya Jongin tidak sadar jika ia berbicara terlalu cepat. Ia bahkan melanjutkan begitu saja kalimatnya sebelum Jisoo lagi-lagi mencelanya.

“Yayaya, aku tahu sebagai sahabat yang baik kau akan selalu mendukung Naeun, kau juga  pasti mengira aku sudah gila karena berharap kau akan membantuku untuk membujuknya, tapi aku hanya berusaha, dan yakinlah, kami tak seburuk yang dipikirkan Naeun. Aku akan berusaha menjadi saudara terbaik untuknya,” lanjut Jongin ketika tak mendapat jawaban apa-apa dari Jisoo. Ia semakin tak nyaman saat Jisoo hanya mematung ditempatnya.

“Hei—“

“Jadi inilah kenapa kau mengejar-ngejarnya?” gumam Jisoo lebih kepada dirinya sendiri.

“Ap—“

BUGH

Sebuah pukulan adalah reaksi terakhir yang diharapkan Jongin dari gadis itu. Sepertinya ia telah meremehkan persahabatan keduanya. Sejak awal ia tahu, meminta bantuan Jisoo adalah ide yang buruk tapi ia hanya mencobanya siapa tahu gadis itu akan lebih pengertian, tanpa tahu bahwa sejak awal Jisoo tak mengerti apa-apa tentang masalah tersebut. Ia mengira, sebagai sahabat Naeun pasti membicarakan semua masalahnya pada Jisoo.

Jongin mengurungkan niatnya untuk memprotes saat menyadari ekspresi gelap Jisoo.

“Brengsek! jika karena ini kau mendekati Naeun, akan kupastikan memar di pipimu berkali lipat,” desis gadis itu di sela-sela gertakan giginya. Jongin masih membeku di tempatnya saat tubuh ramping gadis itu melenggang pergi meninggalkannya.

Sebenarnya wajar jika Jisoo marah padanya, tapi ia merasa reaksi Jisoo terlalu berlebihan. Gadis itu tak hanya marah, tapi ia juga bisa melihat rasa benci dan jijik dari bola mata Jisoo.

“Apa separah itu?” gumamnya sambil mengelus pipinya yang masih berdenyut.

Sangat parah, hingga Jisoo yakin pukulannya saja tak cukup membuat lelaki itu menerima hukumannya. Sayangnya Jongin tidak tahu apa-apa tentang perasaan Naeun, tidak adil sebenarnya jika Jisoo memukulnya. Itulah kenapa Jisoo ingin cepat-cepat meninggalkan lelaki itu. Jika lebih lama bersamanya, Jisoo tidak yakin ia bisa mengontrol dirinya untuk tidak merusak wajah tampannya.

Jisoo mendesah pelan dan memilih untuk segera memasuki mobilnya. Ia sempat mengeluarkan ponselnya sebelum menyuruh supir untuk mengantarnya pulang. Sekarang Jisoo tahu kenapa Naeun bersikap seperti itu pada Jongin. Penjelasan singkat Jongin sudah cukup untuknya menjawab semua pertanyaan di benaknya. Jika ia sendiri saja begitu kesal saat melihat Jongin, apalagi Naeun, dan selama ini Jongin mengekorinya untuk meyakinkan gadis itu.

Demi Tuhan, Naeun mencintainya, bagaimana mungkin ia bisa menerima lelaki itu menjadi saudaranya? Jongin tak pernah tahu betapa dalam perasaan Naeun padanya. Jisoo tak bisa membayangkan betapa pedih hati sahabatnya saat ini. Sayangnya ia lagi-lagi tak bisa menghiburnya saat sambungan teleponnya dijawab oleh mesin operator.

“Kumohon, angkat teleponnya, Naeun….”


“Jongin oper bolanya!”

Lelaki itu tidak melihat celah di antara Luhan, ia memilih mengacuhkan teriakan teman satu timnya tersebut sebelum akhirnya mengoper bola ke arah Sehun yang dibayang-bayangi Junhong tapi masih memiliki seidkit ruang. Seperti yang diduganya, teman satu kelasnya itu menangkap bola dengan sempurna sebelum melaju dengan cepatnya ke arah ring. Ia tersenyum puas sambil terus memantau Sehun dari belakang, bersiap-siap jika ia sekali lagi mendapat bola.

“Jongin!”

Jongin mengernyitkan dahinya saat namanya sekali lagi disebut. Ia tidak sedang memegang bola dan Sehun yang notabene di depannya juga masih beradu teknik dengan Junhong. Ia memilih mengacuhkannya dan mencari posisi strategis di sekitar sudut pandang Sehun.

“JONGIN!!!”

SHIT! AKU SEDANG TIDAK MEMBAWA BOLA LU!!” teriaknya kesal sambil memutar arah pandangnya mencari lelaki yang kini tampak terkejut mendengar teriakannya. Melihat ekspresi bingung Luhan, ia sadar bahwa sepertinya bukan lelaki itu yang telah memanggilnya.

“KIM JONGIN!!!” teriakan keras itu seketika menghentikan permainan. Semua pemain refleks menatap ke arah sumber suara yang kini berada di samping lapangan dengan ekspresi gusarnya dan tangannya yang melambaikan benda segi empat yang sangat familiar bagi Jongin, ponselnya.

“Aku memanggilmu dari tadi bodoh! Maaf, yang lain bisa lanjutkan permainan,” ucap lelaki pendek itu sambil membungkuk kecil ke arah pemain lain. Jika bukan karena status manajer yang disandangnya, ia mungkin sudah di bantai para pemain raksasa tersebut. Sayangnya sang kapten sendiri pun –Park Chanyeol— tak berdaya olehnya, dan parahnya justru mengidolakannya.

Jongin mendesah kesal sebelum akhirnya berlari keluar meninggalkan permainan. Ia paling tidak suka jika diganggu di tengah-tengah pertandingan seperti itu, tapi sekali lagi, jika orangnya adalah Do Kyungsoo, maka ia memilih angkat tangan.

“Ada apa manajer?”

“Ponselmu berbunyi terus, tadinya aku ingin mengabaikannya, tapi sepertinya itu penting, dari ayahmu,” ucapnya sambil mengulurkan ponsel tersebut pada Jongin. Sebenarnya sudah menjadi aturan untuk tidak membawa ponsel selama latihan, dimatikan atau setidaknya bisa dititipkan ke manajer. Setelah berbicara dengan Jisoo tadi, Jongin sedikit terlambat hingga tidak sempat mematikan ponselnya tersebut, apalagi menaruhnya di loker. Ia menitipkannya saja pada Kyungsoo.

Jongin mengernyitkan dahinya, tidak biasanya ayahnya menelpon. Ayahnya pasti tahu jika ia ada latihan basket dan jika ia tak juga pulang, paling bermalam di tempat Chanyeol ataupun Sehun. Ia mengira ada sesuatu yang penting hingga ayahnya sampai menelponnya berulang kali. Ia mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo sebelum meminta izin untuk menelpon kembali ayahnya.

“Ada apa Ayah?”

“Jongin, kau masih di sekolah Nak?”

“Ya, kami ada latihan ekstra untuk pertandingan mendatang.”

“Apa kau melihat Naeun? Dia belum pulang sampai sekarang. Ibunya menelponku, menyuruhku menanyakan padamu jika kau melihatnya di sekolah.”

Jongin sedikit terkejut mendengarnya, pertama, ia melihat sendiri bahwa gadis itu telah menaiki bis sepulang sekolah, dan kedua, ia menatap layar ponselnya dan menggeleng pelan saat mengetahui hari yang sudah beranjak malam. Tidak banyak klub yang masih latihan di jam seperti itu. Jika bukan karena pertandingan mendatang, ia juga tidak akan mau berlama-lama di sekolah.

“Tapi…, Ini sudah malam Yah…,” ucapnya ragu karena ia sendiri juga belum mencari ke penjuru sekolah, tapi rasanya aneh jika gadis itu kembali lagi ke sekolah.

“Iya, dan Naeun belum juga pulang.”

“Apa sudah mencoba menghubungi teman-temannya.” Terjadi sedikit keheningan sebelum ayahnya kembali menjawab.

“Jika YeEun tahu nomer ponsel teman-temannya, ia tidak akan meminta tolong padaku untuk menelponmu Jongin.”

Jongin tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan ayahnya pun menyimpan nomer ponsel Chanyeol dan Sehun jika terjadi sesuatu padanya, bagaimana bisa Bibi YeEun begitu sembrono dengan anak gadisnya?

Sayangnya ia sendiri tidak mengenal gadis itu, mengetahui nomer ponselnya saja tidak apalagi teman-temannya. Ia sempat terpikirkan untuk menghubungi Jisoo tapi kemudian ia ingat bahwa gadis itu juga yang menghalanginya saat akan mengikuti Naeun tadi, tidak mungkin jika Naeun bersamanya.

“Aku… akan coba mencarinya,” ucapnya tak yakin, ia sendiri tidak tahu akan mencarinya kemana, tapi setidaknya ia bisa mendengar sedikit kelegaan dari nada bicara ayahnya sebelum lelaki itu memutuskan sambungan telepon mereka.

“Kyungsoo, tolong sampaikan pada Chanyeol aku pergi dulu, ada urusan keluarga,” ucapnya sambil bergegas ke lokernya untuk berganti pakaian. Ia memilih mengabaikan saja saat Kyungsoo mulai menceramahinya.

“A-apa? Bagaimana dengan latihannya? YAH! KIM JONGIN!!!”


“BUKA PINTUNYA!!!!”

“IYAAA!!!” Gadis berambut sebahu itu berjalan cepat ke arah pintu masuk setelah dengan kejamnya menjitak keras kepala adik lelakinya yang masih bergeming di hadapan layar video game. Ia mengumpat pelan kepada siapapun yang bertamu malam-malam dengan cuaca ganas seperti itu. Ia sedang bergelung malas di tempat tidur saat ibunya berteriak keras mengalahkan petir yang menyambar.

“SIAP—“ kalimatnya seketika terpotong saat mendapati sosok kurus dengan sekujur tubuhnya yang basah kuyup. Kemarahannya sirna begitu saja. Mungkin di luar sedang hujan deras tapi tak butuh penglihatan tajam untuknya mengetahui aliran bening yang membasahi kedua pipi pucatnya.

“E-Eunji-yah….”

“Ya Tuhan, Naeun….”

Eunji tidak tahu apa yang telah terjadi dengan sahabatnya. Yang ada dipikirannya saat itu juga adalah segera mendekati gadis itu dan mendekap erat tubuh dingin tersebut. Dan seketika itu juga, Naeun tak lagi dapat menahannya, tangisnya pecah di bahu hangat sahabatnya. Ia menangis sekeras-kerasnya, tak menghiraukan keluarga Eunji yang mulai berdatangan karena khawatir terjadi sesuatu dengan Eunji. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya membiarkan begitu saja kedua sahabat tersebut.

JJJ

“Aku tidak tahu harus bagaimana Eunji…,” ucap Naeun mengakhiri ceritanya. Setelah mengeringkan tubuhnya dan menghangatkannya dengan secangkir cokelat panas, ia dengan lancarnya mengeluarkan semua keluh kesahnya. Berbeda dengan Jisoo, Naeun telah mengenal lama Eunji, tak ada lagi keraguan pada sahabatnya itu. Bukannya ia tak mempercayai Jisoo, ia hanya belum mengenal lama temannya itu hingga masih ragu jika ingin bercerita tentang masalahnya.

Eunji sempat mengomelinya karena kemunculan gadis itu yang tiba-tiba. Setidaknya ia bisa menjemput Naeun di stasiun jika gadis itu mengatakan sebelumnya akan datang ke Busan. Tapi ia tak berbicara lebih lanjut karena tak ingin menambah beban sahabatnya tersebut. Oh setidaknya Naeun pergi ke rumahnya dan bukan ke sembarang tempat. Hal terakhir yang diinginkannya adalah, Naeun mengira Eunji mengusirnya dan gadis itu akan kabur ke tempat asing.

“Kau tidak ingin mengatakan perasaanmu pada Jongin?”

Jongin, sama seperti Jisoo, Eunji juga mengenal betul satu nama itu, bahkan wajah tampan tersebut. Ia tahu setiap detil cerita cinta sepihak gadis itu pada Kim Jongin. Ia tak menyangka kisah cinta sahabatnya tersebut akan berakhir miris seperti itu.

“Bagaimana aku bisa setelah mendengar semua pengakuannya? Ia sudah menganggapku egois Eunji, apa yang akan dikatakannya padaku jika aku mengatakan perasaanku padanya?” ucapnya sambil tersenyum miris. Jongin pasti akan sangat membencinya jika ia benar-benar menyatakan perasaannya.

“Naeun, kau tak bisa berada di tengah-tengah, keadaan memaksamu untuk maju atau mundur. Kau harus memilih Naeun, antara mengatakan perasaanmu atau memendamnya selama-lamanya.” Naeun bergidik saat mendengar kalimat yang akhirnya dikatakan Eunji. Ia tahu, sepertinya Eunji juga tidak senang mengatakannya, tapi itulah Eunji. Ia tidak pernah membual hanya untuk menyenangkannya.

Naeun memang berada di tengah-tengah, itulah kenapa ia tak tahu harus berbuat apa. Ia ingin mempertahankan Jongin tapi tanpa dukungan lelaki itu, semua akan terasa sia-sia. Sementara ia tak tahan jika membayangkan lelaki itu kelak menjadi saudaranya. Semua seolah menghianatinya. Semua seolah berada di pihak yang menentangnya.

“Aku hanya ingin bahagia Eunji,” ucapnya pada akhirnya. Lebih karena tidak tahu harus berkata apa. Eunji tersenyum sedih melihat sahabatnya yang begitu menderita. Seandainya saja ia bisa menemani gadis itu di Seoul, mungkin keadaannya akan lebih baik. Ia menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya memberanikan diri mengatakan sesuatu yang mungkin sangat dibenci Naeun.

“Aku… putus dari Daehyun, Naeun.” Butuh waktu beberapa menit untuk Naeun mencerna kalimat sahabatnya tersebut, sebelum ia akhirnya menemukan kembali suaranya. Suara yang sarat akan kemarahan.

“A-apa? Kau bercanda kan? Yah, jangan main-main, Jung Eunji?!”

Eunji tersenyum kecil, senyum miris yang bahkan tidak mencapai matanya. Ia sudah menduga Naeun akan bereaksi seperti itu. Itulah kenapa butuh waktu lama untuknya saat ingin menceritakan hal tersebut pada Naeun.

Kesal, marah, kecewa, seketika menyelimuti Naeun. Sekali lagi kepercayaannya dikhianati. Ia sangat kecewa saat orang tuanya berpisah, dan kini, saat satu-satunya kisah cinta yang selalu dikaguminya, akhirnya juga mencapai titik perpisahan, ia tak tahu lagi harus bersikap seperti apa.

Eunji dan Daehyun, keduanya merupakan pasangan sempurna di mata Naeun. Tidak seperti pasangan romantis lainnya, kedua orang itu lebih sering bertengkar dari pada mengumbar kata cinta tapi Naeun tak pernah melewatkan binar bahagia di kedua mata mereka saat sedang bersama-sama. Perasaan tulus itu selalu terpancar dari keduanya hingga ia ragu bahwa perasaan itu akan habis bahkan setelah mereka tua kelak, tapi sepertinya dugaannya keliru karena pada akhirnya, kisah cinta mereka pun telah berakhir.

Naeun tidak ingin mempercayainya, tapi melihat kesedihan di kedua bola mata Eunji, ia tahu bahwa Eunji tidak sedang bercanda, bahwa gadis itu sebenarnya juga tidak ingin hal itu terjadi dan saat itu juga ia tahu pesan apa yang ingin disampaikan sahabatnya tersebut.

Secara halus, Eunji ingin mengatakan padanya bahwa jika hubungan yang didasari oleh perasaan cinta saja bisa berakhir tragis apalagi dengan perasaan sepihaknya. Naeun ingin mengingkarinya, bahwa perasaannya tidak selemah itu, tapi Eunji memberikan bukti yang mampu membuatnya tak berkutik. Pada akhirnya, air matanya kembali mengalir deras saat menyadari pilihan apa yang terpaksa harus diambilnya.


Selama satu hari itu, Naeun sama sekali tidak menyentuh ponselnya. Selain karena tidak ingin diganggu, benda malang tersebut sepertinya juga telah mati setelah terkena guyuran air hujan. Naeun ingin berada lebih lama di Busan tapi Eunji sekali lagi memaksanya untuk pulang, khawatir jika ibunya mencemaskannya, yang sangat Naeun ragukan.

Setidaknya, ia mendapatkan cukup kekuatan dari sahabatnya tersebut. Eunji juga berjanji akan lebih sering menghubunginya. Ia tahu ujian apa yang akan menantinya nanti setibanya ia di Seoul, tapi sekali lagi, ia tidak mungkin menghindarinya terus. Cepat atau lambat semua akan tetap terjadi dan seperti biasa, Naeun hanya bisa berdiam diri mengikutinya, bahkan Eunji pun tak bisa berbuat banyak untuk membantunya.

Ia baru saja akan menekan bel rumahnya ketika pintu bercat putih itu menjeblak terbuka, menampilkan sosok berantakan yang kini menatapnya lebar. Naeun tersenyum kecut, satu hari ia tidak pulang ke rumah dan ibunya telah mengundang calon anak lelakinya tersebut.

“Na-Naeun?” Naeun melangkah mundur kala lelaki itu bergerak mendekatinya.

“BIBI, NAEUN SUDAH PULANG!!!” teriak lelaki itu antusias. Suara derap langkah terdengar keras dari dalam rumah. Naeun menatap Jongin tajam saat melihat gelagat lelaki itu yang hendak memeluknya. Melihat sikap Naeun, Jongin tahu bahwa sepertinya gadis itu masih membencinya. Ia memilih mundur dan memberi jalan pada ibu Naeun untuk memeluk anak gadisnya.

“Ya Tuhan, kemana saja kau? Aku baru saja akan memanggil polis—“

“Hentikan ibu,” potong Naeun, sambil mendorong sopan tubuh ibunya. Ia bisa melihat raut lega dan terkejut sekaligus. Well, apa yang diharapkan ibunya? Naeun tidak mungkin besikap manis –tidak bisa lebih tepatnya— dengan seseorang yang secara tidak langsung mengancam akan mengambil kebahagiaannya, meskipun orang itu adalah ibunya sendiri. Ia merasa sedikit bersalah saat melihat ekspresi sedih ibunya, penampilan berantakannya saja sudah menunjukkan bahwa wanita itu sangat khawatir padanya, sayangnya Naeun tak ingin lagi peduli.

“Naeun, kumohon jangan lakukan hal seperti ini lagi. A-akan kuturuti semua keinginanmu asal—“

“Bulan depan sekolahku ujian, jangan mengadakan pesta setelah hari itu,” ia berucap pelan, tanpa memandang sepasang mata pun di ruangan tersebut, sebelum akhirnya melenggang pergi begitu saja ke kamarnya, meninggalkan wajah-wajah yang bingung untuk berekspresi seperti apa.

Selesai, Naeun sudah memilih keputusannya, dan ia tahu ia akan menyesal seumur hidupnya.

-to be continued-

Iklan

3 thoughts on “(ff) But, I Love You Ch.2B

  1. Miris skli T-T knpa naeun ga ngomong sma mreka semua :(( aduhh jdi pnsaran gmna lnjutannya,, oohh smngat nulisnta thorrr ☆L(´▽`L )♪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s