Beranda » Angst » (ff) But, I Love You Ch.2A

(ff) But, I Love You Ch.2A

but i love you copy

“Bisa kau jelaskan alasan dari sikapmu tadi Son Naeun?!!”

Naeun mengumpat dalam hati, sepertinya pikirannya terlalu kalut hingga lupa mengunci pintu kamarnya, dan sekarang, ibunya adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya. Ia membenamkan wajahnya semakin dalam pada bantal, tak mempedulikan ibunya yang kini tengah berdiri kaku di belakangnya setelah seenaknya menerjang masuk ke dalam kamarnya.

Tidak butuh bertahun-tahun lamanya untuknya mendapatkan label pemberontak, cukup semalam dan hilang sudah image gadis penurut yang selama ini disandangnya. Seketika ia menolak mentah-mentah saat ibunya mengumumkan keputusan mengejutkannya. Dan bahkan tanpa menunggu lebih lama, ia keluar begitu saja dari restoran mengabaikan berbagai pasang mata yang memandangnya bingung.

Salahkan ibunya, Naeun akan melakukan apapun yang dimintanya, tapi tidak dengan Jongin. Hanya lelaki itu alasannya bersemangat setiap pagi ke sekolah, cintanya pada lelaki yang bahkan sebelum malam itu sama sekali tak mengetahui namanya. Dan sekarang, dengan serakahnya, ibunya kembali akan merebut kebahagiaannya.

“Aku tahu kau belum tidur Naeun, jangan bersikap kekanakan—“

“I’m fu**ing 16th years old!!” makinya, mengabaikan status seseorang yang tengah berdiri di belakangnya.

“SON NAEUN!!! Ibu tidak pernah mengajarimu bersikap tak sopan seperti itu.”

“Oh ya? Dan kapan terakhir kali kau mengajariku sopan san—“

PLAAAK

Tamparan keras ibunya seketika membungkam mulutnya, membuatnya membelalak tak percaya. Tidak hanya ibunya telah menghancurkan hatinya, tanpa sadar ia juga telah melanggar prinsip yang selalu tekankannya pada anak gadisnya, untuk tidak menggunakan kekerasan apapun yang terjadi.

Sebenarnya apa yang dikatakan Naeun sama sekali tidak salah, terlalu jujur malah hingga menyinggung tepat di ego dan hati sang Ibu. Ia sadar bahwa selama ini kesibukannya bekerja membuat waktu bersama anak gadisnya berkurang banyak. Tapi ia percaya bahwa Naeun anak yang penurut dan bertanggung jawab. Setidaknya gadis itu terdidik dengan kontrol emosi yang tinggi. Ibunya tak pernah menyangka Naeun akan memiliki cukup keberanian bicara seperti itu padanya.

Seolah tak sadar dengan apa yang dilakukannya, ibunya juga membelalak lebar dan segera meminta maaf. Ia berusaha mendekati Naeun, sayangnya gadis itu lebih dulu menampik kasar tangan ibunya.

“Keluar,” gumam Naeun lirih, namun cukup keras untuk didengar ibunya. Ibunya mendesah pelan sebelum memutuskan untuk mengalah dan berjalan menuju pintu keluar.

“Aku melakukan ini semua untukmu Naeun,” ucapnya sesaat sebelum keluar dari pintu.

“Sampai kapanpun, aku tidak akan mengakuinya sebagai kakak,” gumamnya.

Ia kembali membenamkan wajahnya pada bantal saat tak kuat lagi menahan air mata yang sedari tadi ditahannya. Ia tidak suka menangis di depan orang lain, terlebih pada orang yang disayanginya, ia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain. Ia tidak suka mereka mengasihaninya.

Naeun tidak menyangka, pertemuan resminya dengan Jongin akan berlangsung tragis, setidaknya dalam kasusnya. Ia tahu, dari cara lelaki itu menyebut nama ibunya, sepertinya mereka sudah lebih dulu berkenalan, dan Naeun membencinya saat senyum lelaki itu makin lebar kala keduanya dikenalkan sebagai calon saudara tiri. Lelaki itu menerimanya, tidak hanya itu, ia bahkan menyukai ide dirinya sebagai adik tiri seorang Kim Jongin. Lalu apa yang tersisa untuknya? Ia menyukai lelaki itu, bagaimana bisa kemudian menganggap Jongin sebagai kakaknya?

Naeun tak peduli jika bantalnya telah basah kuyup oleh air mata. Ia juga tak ingat kapan alam mimpi akhirnya merenggut kesadarannya. Ia masih bersyukur, setidaknya tidak akan mengingat kejadian malam itu di alam bawah sadarnya.


“Naeun….”

Naeun akan senang, mendengar namanya keluar dari bibir lelaki tampan itu, jika ingatannya tentang kejadian kemarin malam telah terhapus. Ia akan melompat gembira, saat mendapati senior favoritnya menunggunya dengan setia di depan gerbang sekolahnya, jika bukan karena fakta bahwa cinta pertamanya tersebut kemungkinan besar akan menjadi kakak tirinya.

Tapi saat ini, yang pertama terlintas di benaknya hanya kebencian. Tentu, ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi –melihat dari reaksi Jongin tadi malam— ia juga sudah menyiapkan hatinya untuk itu, hanya saja, menghadapinya langsung entah kenapa terasa begitu menyakitkan. Sekeras mungkin ia berusaha menahan air matanya yang memaksa untuk keluar.

Ia menatap tajam lelaki itu sebelum melewatinya begitu saja. Beberapa kali telinganya menangkap gumaman-gumaman di sekitarnya yang mengatakan betapa tak tahu dirinya ia, mengacuhkan begitu saja seorang Kim Jongin, dan sekali lagi, jika hari itu adalah hari normal seperti biasanya, ia pasti akan menunduk malu dan berusaha keras menyembunyikan mukanya, tapi tidak pagi itu. Hati dan pikirannya terlalu sibuk memikirkan urusannya sendiri dibanding harus mendengarkan cemoohan orang lain.

“Naeun, kumohon dengarkan aku.” Naeun heran saat mendapati lelaki itu masih mengejarnya bahkan setelah ia mengacuhkannya seperti itu. Tapi ia tak peduli, dan memilih melenggang begitu saja ke lokernya seolah lelaki itu tak pernah ada.

Naeun sendiri tidak mengira, ia akan bisa bersikap seperti itu pada pujaan hatinya. Tadinya ia sempat ragu. Naeun bahkan melatih dirinya di depan cermin sesaat sebelum berangkat ke sekolah tapi sepertinya kemarahannya terlampau besar hingga mengalahkan akal sehat dan perasaan terpendamnya pada lelaki itu.

“Hei, aku tahu sulit untukmu menerimaku dan ayahku, tapi kami akan berusaha menjadi keluarga yang terbaik untukmu, setidaknya cobalah untuk mengenalku dan ayah terle—“

“Apa yang kau tahu tentangku?” sela Naeun saat tak tahan lagi mendengar rentetan perkataan Jongin. Jongin sendiri sedikit terlonjak saat Naeun tiba-tiba berbalik ke arahnya.

Ya, ia memang tidak tahu apa-apa tentang Naeun, oh dia bahkan baru mengenalnya kemarin di bis dan di restoran yang tak berjalan mulus. Ia juga tidak tahu bahwa gadis itu bisa sangat menakutkan seperti itu, tapi lebih dari itu, saat ia menatap balik mata tajam tersebut, ia merasa ada sesuatu yang lain selain kebencian gadis itu padanya, tapi ia tidak tahu apa itu.

“A-aku—“

“Nothing! Dan jangan beraninya mengatakan apa yang harus kulakukan!” lanjut gadis itu dingin.

Ia segera meninggalkan lelaki itu bahkan sebelum mendengar balasan dari bibir tebalnya. Dan seperti yang diduganya, Kim Jongin tak akan menyerah hanya karena ia mengancamnya demikian. Seperti yang selalu lelaki keras kepala itu lakukan di lapangan basket, Naeun mengerang pelan saat lelaki itu masih saja mengikutinya bahkan sampai ke depan kelasnya. Beruntung Jang Saem segera memasuki kelas setelah bel pertama berbunyi, selain tak perlu berhadapan lagi dengan Jongin, ia juga tak harus menghadapi teman sekelasnya, dan juga Jisoo. Ia hanya tersenyum kecut saat Jisoo menatapnya penuh tanda tanya.


“Pergi.”

Jisoo sedikit terkejut kala mendengar nada dingin yang diucapkan gadis cantik tersebut. Terus terang ia tak menyangka Naeun akan mengatakan sepatah kata itu, dan sepertinya tidak hanya dia karena segerombolan teman gadis mereka yang sedari tadi mengelilingi meja mereka, juga tampak membisu. Tapi hal itu tak berlangsung lama, detik berikutnya sebuah senyum kecil mengembang di bibir tipisnya.

Ia baru saja kembali dari kamar kecil ketika mendapati mejanya dan Naeun yang sudah dipenuhi kepala-kepala beraneka warna. Tentu saja ia tidak heran, mengingat kejadian pagi tadi yang cukup menggemparkan. Hanya saja ia tak mengira teman-temannya akan memanfaatkan kesempatan saat ia ke toilet untuk memojokkan Naeun. Ia sempat khawatir jika terjadi sesuatu pada Naeun tapi setelah melihat perlawanan gadis itu, Jisoo merasa lega.

“Apa kau baru saja mengatakan padaku untuk pergi Son Naeun?”

Gadis berkaca mata itu meletakkan pensilnya hati-hati di atas meja sebelum menoleh dan menatap tajam gadis-gadis di sekelilingnya. Pandangannya terhenti pada gadis berambut cokelat terang bergelombang yang berdiri menantang di sampingnya. Ia berdiri, balas menantang sikap arogan gadis tersebut dengan tatapan dinginnya. Gadis itu sepertinya tak menyangka jika Naeun cukup tinggi bahkan kini setelah berhadapan, Naeun tampak beberapa senti lebih tinggi darinya, ia sedikit terkejut sebelum kembali memasang wajah arogannya.

“Aku tidak tahu kalau pendengaranmu bermasalah Hyeonri—“

“APA KAU BILANG?!” sedetik sebelum telapak tangan Hyeonri mendarat di pipi mulus Naeun, Jisoo lebih cepat menahannya. Gadis itu sudah cukup menonton pemandangan tersebut dari belakang.

“Lepaskan tangan kotormu!”

“Oh dengan senang hati Park Hyeonri, tangan penuh kumanmu ini hanya akan membawa penyakit,” ucap Jisoo sebelum menghempaskannya kasar, membuat Hyeonri hampir terjatuh jika bukan karena teman gadisnya yang memeganginya.

“Dengar—“

“Hentikan Jisoo,” sela Naeun, tidak mau melibatkan Jisoo terlalu dalam dengan urusannya. Jisoo ingin sekali memprotes tapi mengurungkannya setelah melihat tatapan memohon Naeun.

“Kau mendengarnya Hyeonri, dan kalian semua juga, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kim Jongin, dan tolong jangan lagi menggangguku dengan pertanyaan sampah seperti ini lagi. Sekarang pergilah,” ucapnya dingin, sebelum kembali duduk di posisinya semula. Hyeonri mengumpat kasar ketika Jisoo menghalangi jalannya saat ia hendak memprotes Naeun.

Jika ada yang bilang seseorang yang paling menakutkan adalah seorang yang paling ramah, maka Naeun-lah contoh nyatanya. Mereka mengenal Naeun sebagai seorang kutu buku pendiam yang tak pernah mencari masalah, ia juga sangat baik pada semua orang, bahkan Hyeonri. Itulah kenapa, tak butuh dua kali diperingatkan agar mereka semua menjauhi meja Naeun dan Jisoo,  terlebih tatapan tajam Jisoo terlalu menusuk untuk diabaikan begitu saja. Sepertinya julukan ice princess memang cocok disandang oleh Naeun, karena kemarahan gadis itu bagaikan es yang menusuk ke tulang-tulang.

Jisoo mengambil tempat duduknya di samping Naeun setelah diperhatikannya tak ada teman sekelasnya yang mencuri dengar, tapi ia tahu benar bahwa itu tidak mungkin. Tak ada rahasia yang aman di kelas tersebut.

Ia menatap cemas Naeun, ingin sekali ia mengorek isi kepala gadis itu dan mencari tahu apa sebenarnya masalah yang sedang dihadapinya. Bahkan setelah seharian, Naeun tak juga berkata apa-apa padanya, dan dia sendiri tak mau menjadi teman cerewet yang justru akan membuat Naeun kesal. Yang ia tahu pasti, masalah gadis itu berhubungan dengan senior mereka, Kim Jongin.

Ia sempat terkejut saat mendapati Jongin mengekor Naeun tadi pagi, dan tambah bingung melihat sikap dingin Naeun pada lelaki itu. Seingatnya, bahkan baru kemarin Naeun masih memuja anggota tim basket tersebut, tapi tadi pagi sikap gadis itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sikap Jongin yang seolah mengenal lama Naeun, membuat kepalanya semakin dipenuhi pertanyaan. Tak hanya pagi tadi saja, bahkan seharian ini saat Naeun melarikan diri ke ruang kesehatan atau pun ke perpustakaan, lelaki itu tak juga berhenti mengikutinya.

“Hei, kau sungguh tak ingin mengatakan sesuatu padaku?” ucap Jisoo pelan, tak ingin orang lain mendengarnya. Meskipun menyibukkan diri dengan soal di hadapannya, Jisoo tahu bahwa pikiran Naeun sedang melayang ke suatu tempat. Jisoo mendesah pelan saat mendapat gelengan kecil dari Naeun sebagai balasannya.

“Baiklah, tapi kau harus ingat, aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku, arra?” Naeun tersenyum kecil mendengarnya. Sebenarnya ingin sekali ia mengatakan semua masalahnya pada gadis itu tapi sisi lain hatinya menentangnya karena menceritakannya seolah membenarkan kejadian kemarin. Ia masih belum ingin mempercayainya, Naeun berharap ia akan terbangun dan melupakan mimpi buruk tersebut. Sayangnya sikap keras kepala Jongin yang mengekorinya seharian ini seolah membuyarkan harapannya. Ia bersyukur, setidaknya keberadaan gadis itu di sampingnya, cukup untuk membuatnya bertahan.


Naeun terkejut kala pertama kali membuka pintu rumahnya sepulang sekolah, wajah ibunyalah yang menyambutnya. Perasaan senang itu sempat menghampirinya sebelum akhirnya ingatan tentang kejadian kemarin malam menyeruak di pikirannya. Ia tersenyum kecut, alasan apalagi yang dilakukan seorang pengusaha luar biasa sibuk, sore hari di rumahnya jika bukan untuk meyakinkannya?

“Naeun, kau baru pu—“

Tanpa mempedulikan Ibunya yang sedari tadi menunggunya, ia melenggang pergi begitu saja ke kamarnya.

“Naeun, kita perlu bicara, kumohon….”

Tidak seperti kemarin, kali ini ibunya tampak lebih lembut. Ia mengikuti Naeun ke kamarnya, mencoba memulai pembicaraan dengan gadis itu.

“Dengar, kau tidak bisa melarikan diri seperti ini terus Naeun, kita perlu bicara, setidaknya dengarkan dulu alasan Ibu….”

Salah besar jika Naeun berpikir akan mendapat ketenangan di dalam rumahnya. Ia sengaja pulang lebih cepat agar bisa menghindari semua orang. Ia bahkan membolos kegiatan klub. Ia menyangka, seperti biasanya, ibunya akan pulang larut malam ketika ia sudah tertidur lelap, ternyata tidak. Sepertinya kali ini ibunya memang serius. Naeun terlalu mengenalnya, dan ibunya tak akan menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak membuatnya tertarik. Sebuah ironi karena ibunya sendiri tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya.

“Sejak kapan Ibu mendengarkan pendapatku?” ucapnya sambil menyibukkan diri dengan menata buku-bukunya di atas meja.

Kenyataannya, ibunya memang selalu melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Sangat jarang, bahkan Naeun tidak ingat lagi kapan ibunya meminta pendapat tentang sesuatu padanya. Ia heran kenapa ibunya masih berusaha meyakinkannya jika pada akhirnya, pendapatnya sendirilah yang akan diambil.

“Kenapa kau tidak mendengarkan dulu penjelasan ibu, mungkin kau akan berpendapat lain.”

“Apakah kemudian ibu akan mendengarkan pendapatku?” ucapnya sambil berbalik menatap tajam wanita yang balas memandangnya ragu. Naeun mendengus pelan kala mendapatkan kebisuan sebagai jawaban ibunya. Ia sudah tahu apa jawaban ibunya. Ibunya terlalu egois untuk sekali saja mendengarkan pendapatnya.

“Aku melakukan semua ini untukmu Naeun, Ibu merindukanmu, Ibu ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan—“

“Cukup! Berhenti membawa-bawaku dalam keegoisanmu,” sela Naeun dingin, tak ingin lagi mendengar bualan ibunya.

Kenyataannya, apapun yang akan dikatakan ibunya tak akan mengubah perasaannya pada Jongin. Di lain sisi, ia tidak bisa berterus terang pada ibunya karena perasaannya hanyalah sepihak. Seandainya saja Jongin juga balas mencintainya, tapi masalah yang tiba-tiba datang bertubi menyadarkannya bahwa hal itu tak akan pernah menjadi kenyataannya. Jongin sama sekali tak pernah memandangnya sebagai perempuan. Tapi setidaknya, Naeun masih bisa melambungkan mimpinya jika ia tetap menjadi anak tunggal.

“Kau bilang Ibu egois? Ibu bekerja untukmu! Ibu menahan rindu agar kita masih bisa makan sesuap nasi! Ibu tidak ingin orang lain merendahkanmu, Ibu—“

“Aku tidak pernah meminta I phone, mobil, perhiasan dan semua barang tak berguna itu! Aku tidak pernah meminta koki professional memasak untukku! Aku tidak pernah meminta Ibu mempekerjakan supir untukku! Aku tidak pernah meminta agar… Ibu membawaku pergi dari Ayah….”

Naeun tahu seharusnya ia tak mengatakannya tapi ada sesuatu dalam dirinya yang memintanya untuk sedikit memberi pelajaran pada Ibunya. Menyadarkan wanita dewasa itu bahwa apa yang menurut mereka baik belum tentu baik untuk anak mereka. Ia tahu telah melewati batas saat melihat rahang ibunya yang mengeras. Topik tentang Ayahnya memang selalu membuat ibunya tak nyaman. Tapi bukan salahnya, merekalah yang berselisih tapi Naeun selalu dibawa-bawa di dalamnya.

Ibunya terlalu egois saat memaksa Naeun pergi bersamanya meninggalkan Ayah yang sangat disayanginya. Naeun marah, kesal, protes, tapi ia mengalah karena mungkin saja Ibunya memiliki pemikiran lain, mungkin saja akan ada nasib baik yang menantinya kelak. Ia mengikuti semua kemauan ibunya. Ia diam saja saat ibunya mulai jarang pulang. Naeun berusaha untuk mengerti. Ia bersabar saat tak ada yang mengambilkan laporan semesterannya. Ia menahan rasa kesepiannya hanya untuk mengikuti apa yang diinginkan ibunya. Tapi sampai saat ini, apa yang diharapkannya dari ibunya tak pernah terjadi. Semakin hari ia justru semakin menderita karenanya.

“Kita tidak akan mengungkit masalah itu Naeun.”

“Tentu saja, dan Ibu menyalahkanku karena selalu melarikan diri,” ucapnya sarkastis, yang sukses memicu ibunya melayangkan telapak tangannya tepat di samping wajahnya. Naeun membuka matanya ketika rasa sakit itu tak juga datang. Ia tak menyadarinya saat ibunya telah berbalik hendak meninggalkan kamarnya.

“Kau akan berterima kasih pada Ibu, Naeun, Ibu tahu itu,” ucapnya sebelum keluar dari kamar anak gadisnya. Naeun seketika mengikutinya dan berhenti untuk membanting kasar pintu kamarnya.

“LAKUKAN APA YANG INGIN KAU LAKUKAN!” teriak Naeun dari balik pintu kamarnya. Ia bersandar pada daun pintu sebelum akhirnya merosot ke lantai saat kakinya terasa terlalu lemas untuk menahan bobot tubuhnya. Ia membenamkan wajahnya pada lututnya dan menangis bisu seperti yang selama ini ia lakukan.

TBC

Iklan

5 thoughts on “(ff) But, I Love You Ch.2A

  1. aku sampe meneteskan air mata thor bacanya yaampun Kai pls sadar lah kasian kembaran gue/? ini ff makin seru aja author bahasa nya jugaa aku suka banget !! ditunggu next partnya good luck ^^

  2. eonnie ff mu kereeeeeen banget sumpah! greget bacanya, lanjut eon. duh duh duh aku harap ujung2nya batal nikah. bhaahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s