Beranda » Angst » (ff) It’s my life ch.4

(ff) It’s my life ch.4

It's my life3

long awaited? yup i know, but what should i do? hehe i’m really sorry, i’ve try my best to continue this story, hope you enjoy it 🙂

Ch.4

isn’t it too much?

Starring:

Naeun (A-Pink)

Kai (Exo)

comments are welcome, go away ‘plagiarism’

Happy reading 🙂

Review sebelumnya:

“Oh jadi kau senang mereka menyentuhmu? Kau menikmatinya?” 

PLAAAK

Tamparan Naeun mungkin tidak terasa di pipinya, namun bukan itu yang membuatnya meringis, hatinya sakit melihat air mata yang lolos di salah satu pipi gadis tersebut sesaat sebelum Naeun mendaratkan tamparannya. Ia tidak sadar telah mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan gadis tersebut. Dan saat ia menoleh, ia terlambat karena Naeun sudah tak ada lagi di tempatnya semula.

 

 

“Jangan menyalahkanku jika kau pulang tanpa membawa kabar apapun.”

Kai menatap sekilas lelaki jangkung yang balas menatapnya arogan. Jika bukan karena terpaksa, ia tidak akan sudi menghubungi lelaki berparas tampan tersebut, oh terpikirkan pun tidak. Persetan dengan title sepupu yang disandangnya, atau pun ribuan kata manis yang terlontar dari bibir Naeun tentang lelaki tersebut. Baginya, Park Chanyeol, tak jauh berbeda dengan sahabatnya, Oh Sehun. Lelaki kaya arogan yang selalu memandang remeh orang lain.

“Setidaknya aku berusaha, tidak seperti seseorang yang mengaku sangat mengenal istriku sejak kecil tapi bahkan tempat persembunyiannya saja tidak tahu,” balasnya sarkartis. Yang membuatnya kesal adalah, berapa kali pun sindiran yang dilontarkan pada Chanyeol, tak akan berpengaruh apa-apa padanya. Lelaki itu seolah memiliki perisai baja yang mampu menangkis segala serangannya. Dan senyum kecil di sudut bibir lelaki itu benar-benar membuat Kai menahan diri untuk tidak melenyapkannya.

“Tentu saja, jika dia Naeun yang dulu, Naeun yang belum mengenal dunia luar, tidak sulit mengetahui rahasianya, bahkan periodenya saja aku tahu,” balas lelaki itu santai, membuat Kai merapatkan rahangnya hingga hampir terdengar gemeletuk giginya.

“Tapi… apa dayaku jika ia terlalu banyak berubah? Memangnya apa yang seorang sepupu ini tahu, dibanding suaminya yang setia menjadi anjing penja—“

“Cukup Park Chanyeol, jika tidak ada informasi yang bisa kau berikan sebaiknya kau pulang saja,” sela Eunji yang cukup cepat untuk mengalihkan perhatian beberapa orang termasuk kedua pemeran utama tersebut.

“Eunji-ah, sudah ku—“

“Jongin, sebaiknya kau istirahat dulu, seharian kau belum istirahat, aku yakin Naeun akan baik-baik saja,” Eunji memotong begitu saja ucapan Chanyeol.

“Bagaimana bisa aku beristirahat jika keberadaannya saat ini saja aku tidak tahu Noona? Hanya dia satu-satunya harapanku.”

Kai menatap lemah gadis berpipi gembil di hadapannya. Berusaha mencari ketenangan dari wajah lembut tersebut. Selama ini, apapun yang Eunji katakan selalu bisa memberinya ketenangan, tapi kali ini, jika teringat Naeun, seketika itu juga pikirannya kembali kacau. Bagaimana bisa ia tenang jika semalaman Naeun tidak pulang?

Ya, salahkan dia atas semua kekacauan yang diperbuatnya. Tapi salahkah dia jika bersikap posesif terhadap istrinya? Kai hanya ingin melindungi Naeun, ia terlalu mencintai gadis itu hingga terkadang ia melupakan akan kebebasan Naeun. Sesuatu yang sejak awal memang diinginkan gadis itu.

Semalaman ia mencari Naeun ke segala tempat, bertanya ke sana kemari, berkali-kali menghubungi ponsel gadis itu, tapi nihil, tak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Naeun, tak juga sepupunya sendiri. Chanyeol bahkan sempat menghajarnya sebelum ia kembali menjadi lelaki brengsek yang senang mempermainkannya. Beruntung lelaki itu tergila-gila pada Eunji hingga membuatnya menuruti apapun yang gadis itu katakan. Sekarang saat semua harapannya hampir sirna, hanya satu tempat yang terpikirkan olehnya, satu-satunya tempat yang mungkin menjadi pelabuhan Naeun, kediaman Son.

Tak ada yang tak mungkin, sekalipun Chanyeol mengatakan Naeun tak ada di sana, setidaknnya Kai ingin mencobanya. Bukankah Naeun tidak memiliki keluarga lain kecuali ayahnya dan keluarga Chanyeol? Sekali pun tidak pulang ke rumahnya, ia berharap ayah Naeun mengetahui sesuatu tentang keberadaan anak gadisnya tersebut.

“Kalaupun paman mengetahui keberadaan Naeun, apa kau pikir ia akan memberitahunya padamu? Menantu yang sama sekali tak dianggapnya ada?” ucap Chanyeol tepat sasaran.

Tentu saja Kai tahu hal itu, tapi setidaknya, tak bisakah lelaki itu berpura-pura bodoh dan mencoba memberinya harapan? Ayah Naeun selalu membencinya, dan kali ini, jika ia tahu bahwa anak gadisnya menghilang, entah apa yang akan Kai dapatkan sebagai hadiah nantinya. Tapi sebelum sempat ia membalasnya, Baekhyun buru-buru menyelanya. Membuatnya berterima kasih karena setidaknya ia tak perlu menghajar wajah mulus lelaki tersebut.

“Sialan kau Park Chanyeol, jika sekali lagi kau membuka mulutmu, kupastikan kau tidak akan bisa menutupnya kembali!”

“Kau benar-benar lucu jika berpikir aku takut ancamanmu pendek,” jawabnya acuh sebelum kembali lagi menghadap Kai. “Tapi Kai, silahkan saja menemui Paman, aku hanya bisa membantu menyiapkan es batu untuk—“

Sebenarnya Kai ingin lebih lama menikmati bagaimana wajah mulus lelaki jangkung tersebut akhirnya babak belur di tangan Baekhyun, sayangnya, saat ini yang terpenting adalah Naeun. Ia sempat berdebat sebentar dengan Eunji karena gadis itu bersikeras menemaninya sebelum akhirnya meninggalkan apartemen kecilnya yang ia tak berharap masih utuh saat nanti kembali pulang.

🙂 🙂 🙂

Kai mungkin memimpikan datangnya hari ini, ia hanya tak menyangka akan bertatap muka dengan mertuanya tersebut dengan kondisi seperti itu, secepat itu. Berdiri di hadapan lelaki paruh baya tersebut tanpa istri dan anak yang harusnya menjadi rencananya, sama sekali bukan keinginannya. Ya, ia ingin sekali menemui mertuanya, memberi salam padanya, berharap akan restunya, tapi nanti, setelah ia dapat membuktikan pada lelaki itu bahwa Kai bisa menjadi lelaki sukses. Bahwa tidak salah jika anak perempuan satu-satunya memilihnya menjadi suaminya.

Jika ia bisa memilih, Kai berharap ia tak menemui lelaki itu saat ini. Sayangnya, tak ada pilihan lain untuknya. Seharian sudah cukup untuknya menjelajah Seoul, menelpon ke sana-sini, menemui semua orang, hanya untuk mendapatkan kabar yang sama, tak ada yang tahu keberadaan Naeun. Tak juga Park Chanyeol, sepupu dekat Naeun. Satu-satunya pilihan yang dimilikinya kali ini tentu saja, menemui ayah istrinya tersebut. Berharap setidaknya, lelaki itu memberinya sebuah kabar apapun itu tentang istrinya.

“Apa kau tahu, seperti apa penampilanmu saat ini?” ucap Son Seunghyun tanpa berniat memandang sosok kusut yang berdiri di seberang mejanya.

Kai hanya menunduk, tidak, ia tidak takut pada karisma lelaki di hadapannya, seliar apapun Kai, ia ingat akan ajaran Eunji agar selalu menghormati orang yang lebih tua, terlebih mertuanya sendiri.

Mengenaskan,” lanjutnya dramatis. Kai tahu akan resiko berhadapan dengan Son Seunghyun, tapi bukan itu prioritasnya saat ini. Ia tak peduli akan apa yang dikatakan lelaki itu, ia hanya ingin mendengar kabar tentang Naeun.

“Harusnya kau menyadarinya sebelum kau, dengan sombongnya, berani menikahi anakku!”

“Ayah—“

“Jangan berani memanggilku demikian dengan mulut kotormu!” ancamnya keras, sebelum akhirnya tertawa mengejek dan kembali melanjutkan kalimatnya.

“Sekarang lihatlah dirimu, terbuang, apa yang kau pikirkan hingga mengira Naeun membutuhkanmu huh?! Kau lupa jika Naeun adalah anakku? Apa kau pikir Naeun begitu bodoh hingga mau hidup selamanya denganmu? Tidakkah kau berpikir, gadis kaya sepertinya hanya ingin mencari penghiburan sebentar sebelum kembali lagi ke tempat asalnya?”

Tidak, tidak, tidak, ingin sekali Kai membantah semua yang dikatakan Ayah mertuanya tersebut. Ia mungkin tidak mengenal lama Naeun, tapi kebersamaannya selama ini sudah cukup membuatnya mengetahui siapa istrinya. Sudah cukup untuknya memberikan kepercayaan penuh pada istrinya tersebut. Kai meyakinkan dirinya, bahwa apapun yang dikatakan Ayahnya tidaklah benar. Tidak, jika bukan Naeun sendiri yang mengatakannya.

“Paman, aku hanya ingin bertanya keberadaan Naeun jika anda mengetahuinya,” ucap Kai setelah cukup lama terdiam, ia memilih untuk mencoba mengalihkan perhatian ayah mertuanya.

“dan bagaimana bisa kau berpikir aku akan menyerahkan anakku begitu saja padamu huh? Tidak setelah kau mencampakkannya anak muda.” Tepat seperti apa yang dikatakan Chanyeol beberapa saat yang lalu.

“Paman, semua itu hanya salah paham, kami—“

“Kau pikir aku peduli dengan ceritamu?”

Kai tidak tahu lagi harus berbicara apa, sejak awal harusnya ia percaya pada Chanyeol dan menyuruh lelaki itu yang menggali sendiri informasi dari pamannya tersebut. Son Seunghyun bukanlah seorang yang mudah dihadapi, berada di dekatnya saja sudah merasa terintimidasi, apalagi ketika lelaki yang masih terbilang muda tersebut mengangkat kepalanya dan mendaratkan tatapan tajamnya pada targetnya. Kai penasaran, bagaimana bisa darah yang sama mengalir dalam tubuh Naeun, tidak ada kemiripan di antara keduanya, kecuali tatapan dingin tersebut. Tatapan yang juga dimiliki Naeun, dulu saat pertama kali ia bertemu gadis cantik tersebut.

“Kumohon Paman, aku hanya ingin tahu apakah Naeun baik-baik saja…,” ucapnya pelan. Berharap Son Seunghyun masih memiliki sedikit hati untuk membiarkannya tahu tentang keadaan Naeun.

“Jika kukatakan ia baik-baik saja apakah kau tidak akan mengganggunya lagi?”

“Dia istriku Paman—“

“Jika itu yang kau khawatirkan, aku akan menyuruh Naeun untuk segera menandatangani surat perceraian.” Kai membeku mendengar satu kata tersebut. Sejak awal mereka memang tidak mendapat restu dari Ayah Naeun, dan Seunghyun juga melakukan segala cara untuk menghentikan rencana pernikahan keduanya, dan sekarang saat Kai telah menikahi anak gadisnya, tak akan sulit bagi Seunghyun untuk menghancurkan pernikahan keduanya.

“Jadi Naeun memang berada di rumah Paman?” ucapnya, berusaha tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Ayah mertuanya tersebut. Ia tidak ingin memikirkan hal lain dulu, baginya yang terpenting adalah mengetahui keberadaan Naeun lebih dulu. Ia bisa menundanya untuk urusan yang lain.

“Kemana lagi ia akan pergi? Atau kau berharap ia menemui Oh Sehun?” seketika Kai menatap tajam manik gelap lelaki di hadapannya saat sebuah nama itu meluncur mulus dari bibirnya. Rahangnya mengatup keras, mencoba menahan diri agar tidak meledakkan amarahnya di ruangan luas tersebut, tidak saat itu, tidak di hadapan Ayah mertuanya.

“Syukurlah jika Naeun baik-baik saja, kumohon sampaikan salamku padanya Paman,”  ucap Kai sambil membungkuk dalam, berniat berpamitan, namun langkahnya terhenti tepat sebelum ia menutup pintu kantor Ayah mertuanya tersebut.

“Kupikir Naeun sudah memberitahumu, seingatku aku sudah menyuruhnya memberimu kabar, agar kau tak perlu mencarinya,” ucap Son Seunghyun lirih, yang ia yakin masih dapat di dengar Kai saat melihat ekspresi kakunya. Kai melanjutkan langkahnya tanpa berucap sepatah kata pun.


Setelah berjalan cukup jauh meninggalkan ruangan tersebut, Kai segera mengeluarkan benda pipih segi empat dan membuka kotak masuk di dalamnya. Hatinya meringis, saat membaca kembali pesan singkat dari seseorang yang sangat dirindukannya. Tidak benar jika Kai sama sekali tak mendengar kabar tentang Naeun. Pagi tadi, saat ia terbangun dari tidur singkatnya, Kai sempat tersenyum senang mendapati sebuah nama di deretan pesan masuknya, tapi senyumnya seketika memudar kala membaca pesan singkat tersebut. Ya, Naeun memang telah memberinya kabar, tapi bukan seperti yang ia harapkan.

Aku lelah Kai, kurasa aku tidak bisa melanjutkan semua ini.

Berulang kali ia membacanya, menelisik makna di balik pesan singkat tersebut. Lelah? Apa yang dimaksud Naeun dengan lelah? Lelah hidup dengannya? Ya, mereka memang sering berselisih, tapi tidak pernah terpikir olehnya Naeun akhirnya menyerah dengannya. Pertengakaran keduanya bukan pertama kali itu terjadi tapi hal itu tidak pernah berlangsung lama. Bedanya kali ini, pikirannya terlalu kalut hingga tak bisa berpikir lebih jernih.

Kai tidak bodoh, ia menyadarinya, tapi ia berpura-pura tidak tahu. Ia tahu kemungkinan hari ini akan datang, hari ketika Naeun akhirnya bosan dengannya dan meninggalkannya. Siapalah dia? Kim Jongin bukanlah seorang pewaris kaya yang memiliki banyak harta untuk dapat menyenangkan Naeun. Dan Naeun, meskipun Kai tahu benar bahwa gadis itu tak seperti gadis kaya lainnya, kekhawatiran itu tetap saja ada. Naeun tetaplah anak seorang pengusaha kaya, hidupnya terbiasa mewah dan berkecukupan, bahkan lebih. Apa yang Naeun bisa dapatkan dari seorang miskin seperti Kai? Petualangan mungkin, dan ketika rasa hausnya telah terpenuhi, gadis itu bisa saja kembali menginginkan kehidupan mewahnya yang dulu.

Itulah kenapa Kai begitu kekeuh memperoleh banyak uang akhir-akhir ini. Ia ingin menyenangkan Naeun, membanjirinya dengan berbagai hadiah. Ia bekerja di bengkel setengah hari dan berkeliling mencari pekerjaan lainnya yang lebih menguntungkan setelahnya. Ia harus menahan keinginannya untuk pulang ke rumah dan menatap wajah cantik istrinya. Kai menyesal kenapa tidak melanjutkan kuliahnya sehingga lebih mudah mencari pekerjaan yang lebi baik. Semua hanya untuk Naeun, agar gadis itu tidak membuangnya karena merasa bosan.

Salahkah dia jika mempercayai Naeun sepenuhnya? Kai ingin menghilangkan semua prasangka buruknya selama ini. Ia ingin membuang keragu-raguannya seperti Naeun yang dengan mantap meninggalkan semuanya hanya untuk dapat bersamanya. Ia mungkin melakukan kesalahan besar, tapi Naeun tidak mungkin meninggalkannya begitu saja hanya karena hal itu. Tidakkah hukuman itu terlalu berat untuknya?

“Ini tidak benar kan? Haha… Kai?” gumamnya pelan.

Kai, tidak pernah Naeun memanggilnya demikian, kecuali dulu, saat Naeun sangat membencinya yang selalu mengganggunya. Tapi itu dulu, jauh sebelum Naeun mengenal betul siapa Kai, sebelum hatinya tertambat oleh lelaki itu. Setitik air mata berhasil lolos dari matanya, ketika memikirkan akan kemungkinan pahit tersebut. Kemungkinan Naeun kembali membencinya.

Tapi ia tidak bisa terima begitu saja, ia harus menemui Naeun langsung, bertatap muka dengan gadisnya. Itulah kenapa ia bersikeras menemui sendiri Ayah mertuanya. Kai benar-benar harus bertemu Naeun, tapi mendengar penjelasan dari Ayahnya, ia ragu jika Naeun ingin bertemu dengannya. Ia kembali menekan tombol merah di ponselnya tapi tetap saja, tak ada suara lembut yang menjawab panggilannya di seberang sana.

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” bisiknya pelan.


Tak lama setelah Kai keluar dari ruangan luas Son Seunghyun, lelaki itu segera bangkit menuju ruangan kecil di sebelahnya yang hanya dipisahkan oleh sekat tipis. Ia mengambil tempat duduk di sofa nyaman ruangan tersebut, tepat di depan seorang lelaki yang sedari tadi sudah duduk lebih dulu di sana. Sebenarnya, ia memang sedang kedatangan tamu tepat sebelum Kai datang.

“Terima kasih Paman,” ucap lelaki di depannya sambil menuang teh chamomile ke dalam cangkir Seunghyun.

“Aku tidak tahu apa rencanamu sebenarnya, dan aku tidak peduli dengan hal itu, satu hal yang pasti, aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku,” ucapnya dingin yang ditanggapi tenang oleh lelaki lebih muda di hadapannya.

“Apa aku pernah mengecewakanmu Paman?”

“Tidak, dan kuharap kali ini pun tidak Sehun.”

🙂 🙂 🙂

TBC

di antara semua ff ku, aku heran kenapa ini yang paling populer, apa karena pairingnya? 

Entahlah, yang pasti makasih banget buat semua dukungannya, komennya, atau yang udah nyempetin buat mampir baca, aku akan berusaha buat nyelesaiinnya (dan ff yg lainnya jg), dan semoga ga makan waktu lama, hehe

sebenernya aku mau ganti posternya, udah bosen, tapi sayang lepinya ga mendukung 😦

have a nice day ^^

Iklan

6 thoughts on “(ff) It’s my life ch.4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s