Beranda » EXO » (ff) it’s my life ch.3

(ff) it’s my life ch.3

It's my life3

Ch.3

Chanyeol menghela nafas lega ketika meeting yang sudah di mulai sejak sekitar dua jam yang lalu itu akhirnya ditutup. Jika bukan karena ia adalah salah satu pemegang saham di perusahan tersebut, ia tak akan rela menghadiri meeting membosankan sore itu.

Ia baru saja akan beranjak dari tempat duduknya ketika menyadari seorang lelaki di seberangnya masih bergeming di tempat duduknya. Ia mengernyitkan dahinya heran, sama sepertinya, ia tahu pasti bahwa Oh Sehun juga tak pernah tahan berlama-lama menghadiri meeting. Chanyeol mengamatinya hingga lelaki tersebut akhirnya beranjak -lebih tepatnya mengikuti- terburu-buru tepat di belakang pemegang saham terbesar perusahaan tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah pamannya sendiri, Son Seunghyun.

“Permisi Paman, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan,” ucap Sehun yang masih cukup jelas di telinga Chanyeol yang kini berdiri tak jauh di belakang mereka.

Pamannya mengernyit sekilas mencoba menelisik makna dari ekspresi lelaki muda di depannya sebelum akhirnya mengangguk setuju. Mereka baru saja akan menuju ruangan pemimpin tertinggi perusahaan tersebut ketika tiba-tiba sebuah suara berat menyeruak di antara keduanya.

“Paman, bagaimana kabar Paman? Aku sangat merindukanmu,” ucapnya ceria sambil berusaha memeluk pamannya. Tidak seperti keluarganya yang lain yang juga bekerja di perusahaannya, Chanyeol tidak pernah menganggap pamannya sebagai seorang direktur. Awalnya pamannya tidak setuju namun lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan tingkah kekanakan keponakannya tersebut.

“Jangan sekarang Chanyeol, ada sesuatu yang ingin Sehun bicarakan,” balas Tuan Son lemah. Meskipun ia tak mau mengakuinya, sejak Naeun keluar dari rumahnya, ia seperti tak memiliki kekuatan untuk hidup. Setiap hari ia menjalani hari-harinya seperti robot yang sudah terprogram.

“Oh ya? Kau ingin bicara apa Sehunnie? Tak masalah kan aku mendengarnya?” Dasarnya yang memang terus terang dan tak tahu malu, membuat Chanyeol dengan mudahnya mengutarakan apa yang ada dipikirannya.

“Tidak Hyung, hanya antara aku dan paman,” jawab Sehun mencoba memaksakan sebuah senyum kecil.

Ia merasa dikhianati karena Chanyeol merestui hubungan Naeun dan Kai. Sejak awal Chanyeol memang tak mendukung siapapun baik dia ataupun Kai, ia hanya siap untuk mendukung sepupunya siapapun pilihannya, dan hal itu tidak berujung baik karena Naeun memilih bersama Kai. Ia mengira Chanyeol akan berdiri di belakangnya karena selama ini mereka bersahabat. Sedangkan Chanyeol, seperti lelaki bodoh, ia selalu bersikap konyol seperti biasanya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

“Hei, Sehun-ah ja-“

“Sudahlah Chanyeol, nanti saja kau mampir ke rumah,” potong pamannya sambil menepuk kepala Chanyeol lembut sebelum akhirnya beranjak menuju ruangannya diikuti Sehun di belakangnya.

“Kupikir tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, jika itu menyangkut urusan pribadi,” ucap Tuan Son setelah mempersilahkan Sehun duduk. Sejujurnya ia tak ingin berhadapan secara langsung dengan lelaki tampan tersebut. Ia merasa bersalah setelah anak gadisnya memutuskan ikatan pertunangan keduanya.

“dan… kau tak perlu memaksakan diri memanggilku paman,” lanjutnya, membuat Sehun tertawa miris.

“Sepertinya paman benar-benar ingin memutus ikatan di antara keluarga kita?”

“Bukan seperti itu Sehun, aku hanya berusaha memberimu pilihan,” meskipun berada di dalam ruangan tersebut, tatapan mata Tuan Son tampak menerawang jauh. Suasana hening sejenak hingga akhirnya Sehun angkat bicara.

“Benarkan demikian? Kalau begitu, paman tak akan keberatan kan dengan apapun yang akan kupilih?”

Tuan Son memperhatikan sudut bibir Sehun yang sedikit terangkat ke atas. Mencium ide gila yang sepertinya memenuhi otak pemuda di hadapannya.

“Apa inti dari pembicaraan ini?” tanyanya tajam.

“Aku ingin mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku, dengan atau tanpa ijinmu Paman.”

Tuan Son tahu apa yang dimaksud Sehun, Naeun tentu saja. Yang ia tak mengerti, pertunangan keduanya adalah sebuah perjodohan karena urusan bisnis yang berarti tak ada ikatan perasaan di dalamnya, sejak dulu Sehun juga tak pernah terlihat tertarik dengan Naeun namun sekarang setelah ia memilih lelaki lain, Sehun seperti kehilangan separuh jiwanya. Lelaki tersebut benar-benar menginginkan anak gadisnya kembali ke pelukannya.

“Ia sudah menikah Sehun.”

“Ia belum meninggal kan?” potong Sehun yang membuat Tuan Son cukup terkejut. Lelaki itu bergegas meninggalkan ruangan tersebut setelah mengucapkan salam perpisahannya.

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

“Minuman anda.”
Naeun tersenyum singkat kepada pengunjung bar di hadapannya sebelum kembali mengalihkan perhatiannya ke sekeliling bar yang semakin ramai tersebut, sesekali diliriknya jam tangan mungil yang menggantung di tangan kirinya. Ia mengernyitkan dahinya ketika seseorang yang dicarinya tak juga menampakkan hidungnya di bar kecil tersebut.

“Hai Naeun.”

“Oh Luhan Oppa, kau tidak bersama Jongin?” tanyanya pada seorang lelaki berwajah cantik yang baru saja memasuki bar diikuti Baekhyun dan Lay di belakangnya.
“Kai? Dia belum ke sini?” ucapnya bingung sambil mengamati sekeliling bar, berharap menemukan sosok tersebut di antara kerumunan orang di lantai dansa.

“Dia bahkan sudah keluar lebih dulu dari kita,” sahut Lay.

Sekali lagi Naeun mengernyit, memikirkan sesuatu terjadi pada suaminya tersebut. Kai selalu tepat waktu untuk bekerja di bar tersebut bersamanya namun beberapa hari belakangan ia selalu datang terlambat. Ia percaya saja saat Kai mengatakan bahwa bengkel sedang sibuk. Selain bekerja di bar saat malam hari, suaminya juga membantu Luhan dan yang lainnya di bengkel mobil. Namun saat mendapati Luhan tak datang bersamanya, ia merasa sedikit khawatir.

“Kemana dia?” tanya Baekhyun lebih pada dirinya sendiri.

“Ah, mungkin dia pulang dulu mengambil sesuatu,” sahut Naeun. Ia tak mau orang lain curiga pada hubungan keduanya. Beruntung mereka tampaknya tak begitu peduli. Mereka kembali menikmati suasana bar tersebut setelah Naeun memberikan minuman yang mereka pesan.

“Ah kalian di sini?” ucap Eunji dari belakang mereka bertiga, ia baru saja kembali setelah melayani tamu. Sama seperti Naeun dan Kai, Eunji, Chen, dan Xiumin juga bekerja di bar tersebut.

“Hai Honey~” Eunji menatap tajam Baekhyun ketika lelaki tersebut berusaha merengkuh tubuh gadis itu.

“Jongin belum datang?” tanyanya pada Naeun, gadis itu hanya menggeleng pelan.

“Kemana anak itu? Aku butuh bantuan… Yoon Hee, kau bisa layani meja nomer 5? aku harus ke toilet,” ucapnya setelah menangkap sosok yang juga baru kembali mengantarkan minuman.

“Tidak bisa, aku sedang sibuk.”

“Biar aku saja Eonnie, di sini sedang sepi,” sahut Naeun.

“Ah terima kasih banyak,” jawabnya singkat sambil setengah berlari ke belakang bar, membuat mereka yang tersisa tertawa geli.

Naeun baru saja akan melangkah keluar dari balik konter ketika sebuah tangan mencegahnya. Ia berbalik dan mendapati Luhan menggenggam erat tangannya.

“Kai tidak akan senang kau melayani tamu.”

“Luhan benar,” tambah Lay. Naeun tersenyum singkat mendengarnya.

“Kemana Chen dan Xiumin?” sela Baekhyun.

“Mereka asset berharga Oppa,” jawabnya sambil melafalkan kata V.I.P tanpa menyuarakannya.

“Aku tidak akan lama Oppa, tenang saja.”

“Tidak tidak, aku masih mau melihat wajah cantikku saat bangun besok pagi.”

Naeun tertawa geli. Ia tahu Kai meminta teman-temannya untuk menjaga dan mengawasinya saat suaminya tersebut sedang tidak ada bersamanya. Dengan halus dilepaskannya genggaman tangan Luhan.

“Aku janji akan kembali lima menit, dan aku jamin kau masih bisa melihat wajah cantikmu besok pagi,” ucapnya lembut kemudian segera bergegas menuju meja nomer 5 sebelum Luhan dan yang lainnya kembali mencegahnya.

Kai sangat menentang keinginannya untuk bekerja bersamanya di bar, ia mengerti alasan lelaki tersebut menentangnya, namun terkurung sendirian di apartemen bukanlah ide yang lebih baik lagipula menurutnya ada Kai dan teman-temannya yang selalu melindunginya.

Meskipun begitu Kai sangat keras terhadapnya, ia tak diijinkan memakai pakaian minim seperti para pekerja lainnya kenakan, ia justru mengenakan kemeja dan celana panjang. Selain itu Naeun juga tak diijinkan melayani tamu ke meja meja. Ia hanya boleh bekerja dari balik konter sebagai bartender. Pandangan mata Kai juga tak pernah lepas dari sosok Naeun meskipun sedang melayani para tamu.

Pemilik bar kecil tersebut tak lain dan tak bukan adalah Do Kyungsoo. Aneh memang karena sang pemilik bahkan tak pernah menyentuh minuman beralkohol. Ia mengaku membeli tempat tersebut hanya untuk berinvestasi. Selain Naeun, Kyungsoo juga adalah anak pengusaha kaya dalam lingkar pertemanan mereka. Bar tersebut cukup membantu menambah pundi-pundi uang mereka.

“Pesanan anda Tuan?” tanyanya pada sekelompok lelaki di meja nomer 5. Ia mengamati satu persatu dari mereka dan menyimpulkan bahwa mereka tak lebih tua darinya. Bar tersebut memang didominasi oleh pengunjung muda sepertinya.

“Apa yang kau punya?” bekerja cukup lama di tempat tersebut membuat Naeun sedikit banyak tahu tentang karakter pengunjung dan yang satu itu tidak termasuk salah satu yang difavoritkannya.

“Apa yang anda inginkan saya rasa.” Ia hanya malas menyebutkan semua nama minuman tersebut karena ia tahu tamu seperti itu hanya mempermainkannya.

“Baiklah, Bagaimana jika aku memesan Kim Naeun?” tanya salah seorang lelaki setelah melirik nakal dada kirinya tempat name tag-nya menggantung manis.

“Maaf, pesanan anda tidak ada dalam list,” jawabnya halus, ia menahan dirinya untuk tidak meludah ke wajah lelaki kurang ajar tersebut.

“Kupikir kau bilang tempat ini menyediakan semua yang kami inginkan sweety~” balasnya sambil mengedip tak sopan. Naeun tak mempedulikannya dan bersikeras menanyakan pesanan meja tersebut. Tubuhnya membeku ketika dirasakannnya sesuatu menyentuh salah satu anggota tubuhnya yang tak semestinya.

Ia baru saja akan mengangkat tangannya untuk menampar keras lelaki tersebut ketika sebuah tinju lebih dulu mendarat di pipi lelaki tersebut. Tubuh lelaki tersebut menghantam keras meja sebelum akhirnya mendarat di lantai dengan bunyi berdebum keras. Tak berhenti sampai di situ, beberapa pukulan dan tendangan menyusul berturut-turut . Suara jeritan seketika memenuhi bar. Tak butuh waktu lama untuk membentuk kerumunan di sekitar mereka.

Beberapa berusaha menghentikan perkelahian tersebut tapi tak ada yang berhasil. Dilihat dari manapun pendatang baru tersebut lebih unggul dibanding lelaki yang kini terbaring lemas di lantai dansa. Ia baru melepasnya lelaki tersebut saat empat pasang tangan menarik keras tubuhnya.

“Hentikan Kai, kau bisa membunuhnya!” seru Kyungsoo berusaha menandingi musik yang masih mengalun seolah tak terjadi apa-apa. Ia dan Luhan susah payah menahan Kai agar tetap berdiri di tempatnya.

“Apapun itu agar dia menggunakan otaknya lebih dulu sebelum berani mendaratkan jari kotornya pada istri orang!” geramnya dengan tatapan tajam membunuh sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya Luhan. Lelaki itu tak sempat menghindar ketika sebuah tinju didaratkan di wajah cantiknya.

Shit! Apa kubilang,” umpatnya pelan sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah dengan ujung jarinya, teman-temannya tertawa geli melihatnya.

Luhan hanya bercanda saat mengatakan Kai akan merusak wajah cantiknya. Ada banyak orang di sana, dan sepertinya ia sedang malang karena Kai benar-benar memilihnya. Sedangkan Kai, ia menarik kasar tangan Naeun setelah puas menyalahkan teman-temannya. Mereka berhenti setelah mencapai lorong yang cukup sepi.

“Jong-“

“Berapa kali kubilang untuk tetap berdiam di tempatmu bekerja??!” sela Kai, ia membenamkan kedua tangannya di antara rambutnya, berusaha sekeras mungkin menahan amarahnya.

“Bukan seperti itu kejadiannya, aku hanya berusaha membatu dan mungkin karena sudah terbiasa lelaki tersebut berusaha merayu-“

“Apa kau membela lelaki brengsek itu?” tanyanya tak percaya.

“Bukan begitu… Aku- sudahlah Jongin, lagipula aku baik-baik saja kan?”

“Apa yang terjadi jika aku tidak datang tepat waktu?” Naeun menghela nafas berat.

“Baiklah, aku minta maaf. Dengar… kurasa kau berlebihan Jongin, kau-“

“Mereka menyentuhmu Naeun, demi Tuhan!” Naeun terkejut mendengar nada tinggi dalam suara Kai, sepertinya tanpa sadar lelaki tersebut lupa mengendalikan amarahnya.

Belum pernah lelaki tersebut berbicara seperti itu padanya. Ia tahu ia salah karena telah melanggar perintah lelaki tersebut tapi ia tidak suka Kai memperlakukannya seperti itu. Harga dirinya terlalu tinggi untuk dapat menerima perlakuan seperti itu. Suasana hening sejenak hingga akhirnya Naeun kembali bersuara, namun tidak seperti sebelumnya, nada suara Naeun terdengar dingin dan tajam.

“Jangan bicara seolah aku anak lima tahun Jongin! Aku tahu apa yang ku lakukan,” balasnya membuat Kai menatapnya tak percaya.

“Oh jadi kau senang mereka menyentuhmu? Kau menikmatinya?”

PLAAAK

Tamparan Naeun mungkin tidak terasa di pipinya, namun bukan itu yang membuatnya meringis, hatinya sakit melihat air mata yang lolos di salah satu pipi gadis tersebut sesaat sebelum Naeun mendaratkan tamparannya. Ia tidak sadar telah mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan gadis tersebut. Dan saat ia menoleh, ia terlambat karena Naeun sudah tak ada lagi di tempatnya semula.

tbc

comment below please πŸ™‚

Iklan

11 thoughts on “(ff) it’s my life ch.3

  1. author lg seru” ny d tbc rsanya nyesek
    thor jgn lama” dong update ny hduuh makin seru dan jgn lpa critnya d pnjangin okreee

  2. Haiii .. Akuu readerr bruu nihh, uuaaahh critanya seruu,, ayoo lnjutkan thorr,, emm gmna khdupan kaieun ? Hahah,, ayoo lnjukan ne, fighting (ΰΈ‡’Μ€βŒ£’́)ΰΈ‡

  3. Thor lagi seru serunya malah tbc -_- makin keren thor ff nya tapi kenapa setiap partnya pendek banget sih thor bikin yang panjang dong biar lebih menggelegar/? Ditunggu part selanjutnya semangat !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s