Beranda » EXO » (ff) it’s my life ch2

(ff) it’s my life ch2

It's my life3

Warning: too much fluff -maafkan otak kotorku ini >_<

Happy reading

Ch.2

“Kemana?”

Naeun tersenyum geli mendengar suara parau suaminya dari balik punggungnya ketika ia mencoba melepas pelukan lelaki tersebut di pinggangnya. Ia membalik badannya menghadap lelaki tersebut dan sekali lagi tak mampu menahan tawanya saat melihat penampilan berantakan suaminya.

Wae?” Kai yang mendengar tawanya seketika membuka matanya yang masih setengah mengantuk.

“Jelek,” jawab Naeun singkat sambil menyingkap rambut berantakan lelaki tersebut yang setengah menutup matanya, memberi pandangan seluruhnya pada wajah tampan suaminya. Tentu saja ia hanya bercanda saat mengatakannya, baginya tak ada yang lebih tampan daripada suaminya tersebut. Aneh memang tapi hanya Kai lah yang mampu membuat Naeun tak berkedip memandangnya.

“Hmm dan aku heran kau mau menikah dengan lelaki jelek ini,” jawabnya acuh sambil mengetatkan pelukannya di pinggang Naeun.

“Karena aku malaikat yang baik hati dan tidak sombong,” ucapnya polos.

Kali ini giliran Kai yang tak mampu menahan tawanya. Ia tak tahu bahwa kehadirannya begitu berpengaruh pada gadis polos tersebut. Naeun yang dulu sangatlah dingin dan pemalu. Bercanda saja hampir tak pernah.

“Pantas saja Eunji Noona selalu mengomeliku.”

“Karena kau brengsek, ya, baru sadar? Sekarang ijinkan aku keluar karena perut karetmu tak akan terisi dengan sendirinya.”

“Lima menit lagi~” rengeknya.

Naeun berhasil menghindar ketika tangan Kai hendak meraih kembali pinggangnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur sebelum kembali tergoda dengan aroma lelaki tersebut.

No no no! Kembilah tidur, akan kubangunkan jika sarapannya sudah siap,” jawabnya sambil terus berjalan keluar kamar mereka menuju dapur.

Bangun pagi, mencuci baju, menyetrika baju, berbelanja kebutuhan pokok, memasak, membersihkan rumah, semua itu sebelumnya tidak pernah ada dalam kamus seorang gadis cantik yang kini berkutat dengan kompor di hadapannya. Menjadi seorang putri tunggal dari sebuah keluarga kaya, membuatnya terbebas dari semua pekerjaan menguras tenaga tersebut. Sudah ada puluhan pembantu di rumahnya yang siap mengerjakan semua pekerjaan tersebut. Tapi tidak untuk saat ini, tidak setelah ia menyandang title Mrs. Kim.

Kehidupannya berubah drastis setelah ia memutuskan tinggal dengan Kai. Tak ada lagi peraturan yang harus dipatuhi, tak ada lagi perintah yang harus dilaksanakan, tak ada lagi tekanan yang selalu menggantung di pundaknya. Baru pertama kali ini dalam hidupnya Son Naeun benar-benar bebas terbang tinggi. Hidupnya kini semakin menyenangkan dengan teka-teki baru yang harus dipecahkannya setiap hari.

Kai benar-benar orang yang tak terduga dan ia menarik Naeun dalam kehidupan berantakannya tersebut. Tak jarang ia membuat Naeun gelisah memikirkan apa yang akan mereka makan esok harinya, takut saat lelaki tersebut berkelahi karena membela lelaki brengsek yang menggodanya, ataupun tertawa terpingkal dengan lelucon bodoh suaminya, meskipun begitu semua hal tersebut dapat mereka lalui bersama.

Kai tidak pernah merencanakan kehidupannya, ia hanya mengikuti apa yang sudah Tuhan rencanakan untuknya, itulah yang membuatnya begitu santai menghadapi masalah, dan itu juga yang coba Naeun lakukan. Setidaknya jika ia cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya ia masih memiliki Kai yang bisa dipercaya dan menjadi tempatnya bersandar.

Meskipun tidak familiar, Naeun selalu bermimpi mengenakan apron, memegang spatula di tangan kanannya, dan pegangan Teflon di tangan satunya. Acara memasak bahkan menjadi salah satu tayangan favoritnya tiap akhir pekan. Namun, jangankan mengenakan apron, Naeun bahkan tidak diijinkan untuk menjelajah dapur di rumahnya sendiri. Kai memandangnya aneh saat melihat binar cerah di kedua mata gadis itu ketika pertama kali ia memperlihatkan dapur kecil kotornya.

“Ini tak adil, bagaimana bisa aku bersaing dengan kompor?”

Naeun berjengit kaget ketika dirasakannya tangan lelaki tersebut menelusup di bawah kedua tangannya, memeluk erat pinggangnya dengan dagu yang bersandar nyaman di bahu Naeun dan mata yang masih setengah tertutup. Naeun tersenyum geli melihatnya.

“Oh, lihatlah siapa yang cemburu buta?” sindir Naeun dengan jenaka. “Pagi sayang, aku membangunkanmu?” lanjutnya sambil menolehkan kepalanya dan mengecup kening Kai lembut, ritual yang belum sempat dilakukannya di tempat tidur tadi.

“Eung… kau dan selingkuhanmu,” rengek Kai.

“Selingkuhan yang selalu setia mengisi perut karetmu.”

“Kata siapa? Aku cukup kenyang memakanmu.”

“Jongin!!” ucap Naeun setengah berteria, membuatKai terkekeh pelan.

Hampir dua bulan keduanya hidup bersama dan setidaknya sudah setahun lebih Naeun mengenal pria tersebut, namun tetap saja ia tidak terbiasa dengan kalimat kotor yang sering terucap dari bibir Kai karena hal itu berkebalikan dengan semua yang telah diajarkan padanya, untuk berbicara baik dan sopan. Tentu saja Kai tidak melewatkan pemandangan indah di sebelahnnya, ketika kedua pipi gadis tersebut merona semerah tomat.

“Oh sejak kapan kedua pipi cantik ini berubah jadi tomat segar?”

“Hentikan Jongin!!” bukannya berhenti, Kai justru semakin menggodanya.

Bagi Kai, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menggoda gadis di depannya tersebut. Tidak dulu saat ia pertama kali bertemu dengannya, maupun sekarang saat ia sudah berhasil memilikinya.

Kehidupan berumah tangga tidak semudah yang dibayangkan Naeun. Setidaknya di rumah mewahnya tersedia peralatan canggih yang sangat membantu meringankan semua pekerjaan rumah. Sedangkan di sini, ia benar-benar memulainya dari nol. Tak ada mesin cuci untuk mencuci baju, tak ada vacum cleaner untuk membersihkan karpet, tak ada microwave untuk menghangatkan makanan, tak ada mesin pencuci piring untuk mencuci piring otomatis dan semua peralatan praktis lainnya.

Naeun sempat heran, bagaimana bisa seseorang hidup tanpa semua peralatan praktis tersebut, terlebih bagi Kai, lelaki yang hidup sendirian di apartemennya. Di luar perkiraannya, Naeun tidak pernah tahu jika Kai begitu mahir mengerjakan semua pekerjaan rumah, sangat berbeda dengan tampilannya yang kacau dan urakan.

Dengan sabar Kai mengajari Naeun satu persatu tentang pekerjaan rumah tersebut. Bagaimana cara mencuci dengan tangan, menjemur pakaian, cara menyetrika, membersihkan rumah, bahkan cara memasak nasi dan hidangan sederhana lainnya.

Minggu-minggu pertama training -Naeun menyebutnya demikian- banyak sekali kekacauan yang Naeun timbulkan, meskipun begitu Kai tetap bersabar mengajarinya dan selalu menghiburnya untuk tetap bersemangat.

Lelaki tersebut tersenyum memaklumi saat baju kesayangannya robek ketika Naeun menguceknya terlalu keras, menepuk lembut kepala Naeun saat ia tak sengaja menghanguskan seprai mereka, memaafkan saat gadis itu tak sengaja memecahkan beberapa gelas dan piringnya, dan ujungnya, ketika lelaki itu tak lagi bisa menahannya, Kai tertawa keras saat Naeun menghancurkan satu-satunya makam malam mereka, ia benar-benar lupa membalik telur yang sedang digorengnya.

Naeun marah malam itu, lebih tepatnya malu karena Kai telah menertawakannya. Kai benar-benar minta maaf, sejujurnya ia tak pernah kesal apalagi marah pada Naeun. Sejak awal ia ingin sekali tertawa melihat kepolosan istrinya, hanya saja ia menahan diri agar tidak menyinggung perasaan Naeun. Mungkin karena terlalu lama tertahan dan menumpuk terlalu banyak, malam itu akhirnya ia tak bisa lagi membendung keinginannya untuk tertawa.

Naeun tetap bergeming meskipun lelaki tersebut telah mengutarakan beribu maafnya maupun mengeluarkan berjuta rayuannya. Ia menyentak tangan Kai ketika lelaki tersebut mencoba menyentuh lembut pundaknya, mengalihkan pandangan ketika Kai mencoba memandangnya, bahkan menutup rapat bibir dan telinganya, tak ingin mendengar ataupun menanggapi apa yang lelaki tersebut katakan.

Baru ketika Kai hilang kesabaran, saat lelaki tersebut -dengan sedikit memaksa- menyentuh dagunya, membuatnya memandang tatapan tajam lelaki tersebut dan mengancam akan menciumnya jika tak juga berbicara, Naeun akhirnya mengangguk kecil dan memaafkannya -hanya karena takut dengan ancaman lelaki tersebut.

“A-apa yang kau lakukan?” Naeun membelalak lebar ketika merasakan sentuhan lembut di bibirnya.

“Menciummu, apa lagi?” jawabnya sambil menyeringai jahil kemudian kembali menunduk untuk mencium bibir pink di hadapannya.

“K-Kau bilang tidak akan menciumku jika aku memaafkanmu?” protes Naeun mencoba mencegah apapun itu yang ada di pikiran Kai.

Sejak kapan ada peraturan yang melarang seorang suami mencium istrinya, huh?”

“Ta-“
“Sudah diam dan nikmati saja,” potongnya ketika Naeun hendak memprotes lagi.

Kai tidak akan pernah protes jika Naeun mendiamkannya seperti itu, bukan karena gadis itu marah dan kesal padanya namun karena Kai memang tak membiarkannya membuka mulutnya satu detik pun.

Baginya tak masalah jika mereka bertengkar sehebat apapun, asalkan pada akhirnya keduanya bisa berbaikan kembali meskipun salah satu pihak harus benar-benar merendahkan dirinya atau… menggunakan cara terakhir yang ada di gudang pikiran kotor Kai, berakhir semalaman di tempat tidur.

tbc

Author notes:

Ada yang bingungkah?? dialog yang cetak miring itu nyeritain yang udah lalu, yang sekarang cuma adegan di tempat tidur dan dapur wkwk. Di chapter ini aku cuma mau nyeritain kehidupan rumah tangga mereka tapi kayaknya kurang sesuai sama yg kuinginkan,  kurang… liar, haha ah sudahlah

dan kenapa aku pake Kai bukannya Jongin? di cerita ini hanya Naeun dan Eunji yang manggil dia Jongin, makanya aku tetep make nama Kai di narasinya 🙂

btw udah pada beli/donlot album overdose?

Ou tu tu tu tu huu yeiye~ thunder thunder thunder~

I love’Thunder’ so much…, Exo-K banget, Dio banget >_<

kritik dan saran sangat diharapkan, kamsahamnida~

Iklan

7 thoughts on “(ff) it’s my life ch2

  1. thor aku reader baru suka deh sm critnya bsk onjangin yah critnya and jgn lama” update nya qu tggu wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s