(ff) it’s my life ch.3

It's my life3

Ch.3

Chanyeol menghela nafas lega ketika meeting yang sudah di mulai sejak sekitar dua jam yang lalu itu akhirnya ditutup. Jika bukan karena ia adalah salah satu Baca lebih lanjut

Iklan

(ff) it’s my life ch2

It's my life3

Warning: too much fluff -maafkan otak kotorku ini >_<

Happy reading

Ch.2

“Kemana?”

Naeun tersenyum geli mendengar suara parau suaminya dari balik punggungnya ketika ia mencoba melepas pelukan lelaki tersebut di pinggangnya. Ia membalik badannya menghadap lelaki tersebut dan sekali lagi tak mampu menahan tawanya saat melihat penampilan berantakan suaminya.

Wae?” Kai yang mendengar tawanya seketika membuka matanya yang masih setengah mengantuk.

“Jelek,” jawab Naeun singkat sambil menyingkap rambut berantakan lelaki tersebut yang setengah Baca lebih lanjut

(ff) Our Fake 1st Kiss

our fake 1st kiss copy

Starring: Byun Baekhyun (EXO) and OC (tapi aku lebih suka pake Eunji Apink 🙂 )

Theme: Romcom, Fluff

Length: Drabble

Author: Sholasido

terinspirasi dari ‘All My Loving’-nya The Beatles tapi ga tau kenapa jadinya kayak gini, well, selamat membaca 🙂

Our Fake 1st Kiss

“Pejamkan matamu,” ucapku lembut, ia menatapku curiga seolah aku akan kabur darinya setelah mencuri apapun itu yang ada dipikirannya.

“Kau tak percaya padaku?”

“Sejak kapan kau bisa dipercaya?” sanggahnya.

“Sungguh, aku tidak akan berbohong kali ini,” ucapku lebih meyakinkan.

Ya, aku memang senang sekali menggodanya, menyuruhnya berbalik dan sedetik kemudian sudah kabur dari hadapannya, menyuruhnya menunggu tapi aku sendiri pergi lebih dulu, menyuruhnya menelepon tengah malam hanya untuk menungguiku tertidur pulas. Tapi tidak untuk kali ini, aku benar-benar akan melakukan niatku. Niat suci yang sudah sangat lama ingin aku laksanakan.

“Apa lagi kali ini yang akan kau lakukan Baek?” tanyanya curiga.

“Tutup dulu matamu sayang~”

“Sudahlah kalau begitu,” tanpa menunggu lebih lama ia segera berbalik memasuki rumahnya. Beruntung aku cukup cekatan menangkap pergelangan tangannya.

Aku tidak sadar di matanya aku begitu tak dapat dipercaya, yah, bukan salahnya juga sih, aku sendirilah yang menciptakan kekacauan ini. Membuat citraku benar-benar jelek di matanya.

“Kenapa kau begitu tak sabaran? Kali ini aku benar-benar serius.”

“dan kau akan meninggalkanku sedetik setelah aku memejamkan mata? Tidak terima kasih.” Terkadang kekeraskepalaannya inilah yang membuatku sangat geram.

Baiklah, bukan salahku jika apa yang ia harapkan tidak menjadi kenyataan. Siapa suruh ia tak mau diam dan menurut saja apa yang aku katakan? well, goodbye the innocent lips~

Tanpa menunggunya menutup mata, aku meraih dagunya, memiringkan kepalaku, dan mencium lembut bibirnya. Aku tersenyum kecil melihat ekspresi terkejutnya, ya, aku belum memejamkan mataku karena penasaran ingin melihat reaksinya, baru setelah beberapa detik –mungkin setelah ia menyadari apa yang aku lakukan terhadap bibir tak berdosanya— ia berani memejamkan matanya dan membalas ragu-ragu ciuman lembut dariku, dan itulah saatnya untukku memejamkan mata dan mulai menikmatinya.

Tak ada sinar bulan yang indah, tak ada gemuruh ombak yang menentramkan, tak ada untaian indah kalimat cinta, tak ada tiptoed, dan semua yang ia harapkan di ciuman pertama kami.

Salahkan hormon remajaku yang begitu menuntut sehingga aku tak sabar menunggu musim panas untuk mengajaknya ke pantai. Salahkan dirinya yang begitu bodoh hingga dengan mudahnya sering kubohongi. Salahkan dirinya yang begitu lemah hingga tak mampu menolakku menariknya ke dalam pelukanku. Salahkan dirinya yang begitu cantik hingga aku tak kuasa menahan diriku.

“Hoho akhirnya aku melakukannya,” ucapku akhirnya, setelah dengan terpaksa melepaskan ciuman lembut kami.

“A-Apa?” tanyanya, masih terlihat pusing setelah ciuman memabukkan tersebut.

“Ciuman pertama kita, maaf jika tak sesuai dengan yang kau harapkan selama ini,” ucapku tulus. Ia tampak mengernyitkan dahi, seolah ada sesuatu yang coba digalinya dalam ingatannya.

“Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Aku pulang dulu, I love you,” ucapku pelan sambil mengacak rambutnya kemudian segera berbalik meninggalkannya.

“Baek!” aku tersenyum mendengarnya memanggil namaku, itulah yang kuharapkan, karena ada empat kata yang belum sempat ia ucapkan padaku.

“Ya?” kataku sambil berbalik namun tetap berjalan mundur.

“Sepertinya kau melupakan sesuatu.”

Nope, kau lah yang melupakan sesuatu sayang,” jawabku yakin.

“Oh sepertinya kau tidak hanya menghancurkan ciuman pertama kita tapi juga melupakannya.”

Seketika itu juga senyumanku memudar, bayangan tentang pesta kelulusan SMA kami, berbotol-botol soju dan snack yang bertebaran di atas meja karaoke, tawa yang tiada henti, jalanan yang mulai sepi, dan… ciuman pertama kami. Oh tidak, mati aku!

I hate you Baek!”

Sial, aku memang menunggu empat kata, tapi bukan empat kata bencana itu. Aku mulai berlari menyongsongnya, sayangnya ia lebih dulu menggapai pintu gerbang dan menutupnya kasar di depan hidungku.

“Sayang~ maafkan aku… jebal~”

🙂 🙂 🙂